Hizbullah Minta Prancis Redam Isu Kartun Nabi Muhammad

    Willy Haryono - 31 Oktober 2020 15:03 WIB
    Hizbullah Minta Prancis Redam Isu Kartun Nabi Muhammad
    Pemimpin Hizbullah Sayyed Hassan Nasrallah. (AFP)
    Beirut: Pemimpin kelompok Hizbullah di Lebanon, Sayyed Hassan Nasrallah, meminta Prancis untuk meredam kontroversi seputar kartun Nabi Muhammad dan tidak mengambil tindakan lain yang dapat memperburuk situasi. Ia menilai kartu Nabi Muhammad buatan Charlie Hebdo dan sikap Prancis yang membelanya sebagai sebuah "agresi."

    Dalam sebuah pidato di televisi, Nasrallah menilai otoritas Prancis di bawah Presiden Emmanuel Macron memperburuk kontroversi Nabi Muhammad dengan bertindak keras kepala.

    "Alih-alih memperbaiki masalah, Prancis justru kepala kepala mengenai kebebasan berekspresi ini, seperti berkata, 'kami ingin melanjutkan kartun satire,'" ucap Nasrallah, dikutip dari laman The Jerusalem Post pada Sabtu, 31 Oktober 2020.

    "Anda perlu berpikir bagaimana cara memperbaiki kesalahan ini," sambungnya.

    Meminta Prancis untuk "bertindak adil," Nasrallah menegaskan tidak ada satu pun Muslim di dunia ini yang menerima penghinaan terhadap kehormatan Nabi (Muhammad).

    Pidato Nasrallah disampaikan sebagai respons terhadap penikaman di sebuah gereja di Nice. Dalam peristiwa tersebut, seorang pria asal Tunisia membunuh tiga orang, yang diduga terkait kontroversi kartun Nabi Muhammad.

    Nasrallah mengecam penikaman tersebut, dan meminta komunitas global untuk tidak mengaitkannya dengan Islam.

    "Peristiwa tersebut dikecam oleh Islam, yang melarang pembunuhan terhadap orang tak berdosa. Bahkan jika pelakunya adalah Muslim, jangan mengaitkan kejahatan itu dengan Islam," ungkap Nasrallah.

    Serangan di Nice merupakan aksi teror kali ketiga dalam dua bulan terakhir di Prancis, yang dikaitkan dengan aksi ekstremisme agama. Penikaman di Nice terjadi kurang dari dua pekan usai seorang guru bernama Samuel Paty dipenggal pengungsi asal Chechnya.

    Baca:  28 Menit Menyeramkan dalam Serangan Teror di Nice

    Paty dipenggal usai memperlihatkan kartun Nabi Muhammad dalam pelajaran kebebasan berekspresi. Macron mengecam pemenggalan tersebut, dan mengatakan bahwa separatisme dan ekstremisme dalam Islam mengancam nilai-nilai sekuler di Prancis.

    Macron mengecam ekstremisme dalam Islam sebagai sebuah "ideologi yang ingin mengklaim bahwa aturan-aturannya lebih superior dibanding republik (Prancis)."

    Merespons Macron, Nasrallah meminta orang nomor satu di Prancis itu untuk menahan diri. "Jangan biarkan penghinaan, agresi ini berlanjut, dan seluruh dunia akan mendukung Anda," pungkasnya.

    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id