comscore

Pesan Teks Presiden Macron Bocor, Australia-Prancis di Titik Terendah

Medcom - 03 November 2021 20:06 WIB
Pesan Teks Presiden Macron Bocor, Australia-Prancis di Titik Terendah
Ketegangan antara Australia dan Prancis terkait kapal selam belum usai. Foto: AFP
Paris: Perselisihan Australia-Prancis atas gagalnya kesepakatan kapal selam diketahui tengah mencapai “titik terendah baru yang belum pernah terjadi sebelumnya”. Ini diakibatkan kebocoran pesan  teks dari Presiden Prancis, Emmanuel Macron kepada Perdana Menteri Australia, Scott Morrison.

Dilansir dari News 18, Rabu, 3 November 2021, Macron mengirim pesan kepada Morrison dua hari sebelum Australia mengumumkan telah memutuskan kontrak bernilai miliaran dolar dengan Prancis guna membangun armada kapal selam baru.
Prancis disebut bereaksi dengan kemarahan, dan Macron menambah kehebohan pada akhir pekan dengan menuduh Morrison berbohong kepadanya. Tuduhan tersebut telah dibantah oleh Morrison.

Baca: AUKUS: Dubes Prancis Tuduh Australia Sengaja Lakukan Penipuan.

Dalam pidato yang berapi-api pada Rabu, Duta Besar Prancis untuk Australia, Jean-Pierre Thebault mengatakan, kebocoran teks pribadi adalah “titik terendah baru yang belum pernah terjadi sebelumnya”.

“Anda tidak berperilaku seperti ini dalam pertukaran pribadi pemimpin yang bersekutu. Tapi mungkin itu hanya konfirmasi bahwa kami tidak pernah dilihat sebagai sekutu,” kata Thebault kepada National Press Club Australia.

Ia menambahkan,”Melakukan itu juga mengirimkan sinyal yang sangat mengkhawatirkan bagi semua kepala negara: waspadalah, di Australia, akan ada kebocoran. Dan apa yang Anda katakan secara rahasia kepada mitra Anda pada akhirnya akan digunakan dan dipersenjatai untuk melawan Anda suatu hari nanti.”

Dalam pesan tersebut, Macron bertanya kepada Morrison: “Haruskah saya mengharapkan kabar baik atau buruk untuk ambisi kapal selam kita bersama?”

Laporan mengatakan, kebocoran ini memiliki kemungkinan dapat direkayasa oleh kantor Morrison sebagai pembalasan atas tuduhan “berbohong”.

Australia mengumumkan pada pertengahan September, mereka meninggalkan kapal selam diesel Prancis demi kapal selam bertenaga nuklir, saat bergabung dengan aliansi pertahanan baru dengan Inggris dan Amerika Serikat yang dijuluki AUKUS.

Pakta tersebut secara luas dipandang sebagai upaya untuk melawan pengaruh Tiongkok yang meningkat di kawasan Asia-Pasifik.

Thebault mengatakan, saran Canberra terkait ketidakpuasan dengan kapal selam konvensional Prancis telah dikomunikasikan adalah “fiksi”, dengan mengatakan, Prancis tidak dapat diharapkan untuk menafsirkan “sikap ambigu”.

Baca: PM Australia Tak Terima Dituduh Berbohong kepada Prancis.

Pejabat berusia 60 tahun tersebut pun menunjuk pada komunike bersama Agustus yang menggarisbawahi pentingnya sub-kesepakatan, hanya dua minggu sebelum robek, ia menambahkan “penipuan itu disengaja”.

Thebault, yang sempat dipanggil kembali ke Prancis dikarenakan perselisihan tersebut mengatakan, sekarang “terserah Australia” untuk menyarankan berbagai cara guna memperbaiki hubungan yang rusak.

“Kami tidak akan membeli janji cinta. Cinta itu baik. Tapi bukti cinta jauh lebih baik,” tutur Thebault.

Berbicara kepada wartawan Australia di Dubai, UAE, Morrison berusaha menarik garis di bawah episode tersebut dengan mengatakan, “Sekarang saatnya untuk melanjutkan”.

“Saya tidak berpikir ada keuntungan lebih lanjut bagi siapa pun dalam melanjutkan jalan ini. Klaim dibuat dan klaim dibantah, yang dibutuhkan sekarang adalah kita semua melanjutkannya,” pungkasnya. (Nadya Ayu Soraya)

(FJR)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id