comscore

KJRI San Francisco Gandeng Asian Art Museum Pamerkan Kain Tenun Ikat dan Batik

Willy Haryono - 05 April 2022 17:09 WIB
KJRI San Francisco Gandeng Asian Art Museum Pamerkan Kain Tenun Ikat dan Batik
Batik dan kain tenun ikat dihadirkan dalam sebuah lokakarya di San Francisco, AS, 3 April 2022. (KJRI San Francisco)
San Francisco: Dalam rangka memperkuat identitas bangsa dan hubungan antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) melalui diplomasi budaya, Konsulat Jenderal Republik Indonesia San Francisco bekerja sama dengan salah satu museum Asia terbesar di dunia, Asian Art Museum San Francisco, dalam melaksanakan lokakarya seni kain tradisional Indonesia dengan tema "Batik, Ikat, and Beyond: Textile Demonstration and Workshops" pada 3 April di San Francisco, California. 

Kegiatan lokakarya kain tradisional Indonesia ini dilakukan secara simultan dengan pameran kain tenun ikat dengan tema "Weaving Stories" yang sedang berlangsung di Asian Art Museum SF mulai dari 17 Desember 2021 hingga 2 May 2022. 
Pameran dan kegiatan budaya ini menampilkan 45 kain tenun ikat dari Asia Tenggara dimana sebanyak 37 kain tradisional berasal dari Indonesia yaitu Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi, Sumba, pulau Lembata, dan pulau Kisar (Yotowawa).

Pelaku seni seperti Sandra Sardjono, CEO Tracing Patterns Foundation, Agus Ismoyo dan Nia Fliam, Pemilik Studio Brahma Tirtasari telah berpartisipasi sebagai pembicara aktif dalam kegiatan loka karya ini.

"Acara lokakarya dan pameran seni budaya ini dilakukan sebagai bagian dari total public diplomacy. Identitas bangsa Indonesia beserta nilai kearifan lokal tercermin di setiap kain tenun ikat tradisional dan batik," ujar Prasetyo Hadi, Konsul Jenderal RI San Francisco.

"Kami berniat mengajak masyarakat Amerika Serikat untuk menelusuri cerita dibalik kain-kain tradisional Indonesia secara lebih dalam, di mana kain digunakan sebagai alat kreativitas dalam mengkomunikasikan warisan sejarah bangsa, keagungan dan keragamanan karya, motif, filosofi dan simbol status sosial daerah, hingga keyakinan masyarakat di berbagai pulau-pulau Indonesia," sambungnya, dalam keterangan tertulis KJRI San Francisco yang diterima Medcom.id, Selasa, 5 April 2022.

Selama sesi lokakarya berlangsung, beberapa masyarakat AS terpukau saat mempelajari proses pembuatan kain tenun ikat dan batik yang menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan seperti bahan pewarna alami dari daun kering, kayu, dan sebagainya.

Dr. Robert Mintz, Deputy Director of Art and Programs, Asian Art Museum SF, menyatakan, "sejauh ini kami mencatat sekitar 30.000 orang pengunjung datang untuk pameran Weaving Stories. Sebagian besar masyarakat AS tertarik untuk memahami teknik pembuatan tradisional, penggunaan viber, tanaman, dan jenis-jenis kain yang berbeda."

"Melalui pameran seni ini kami juga mencoba mengangkat kompleksitas pemahaman teknik pewarnaan tradisional, dan tekstil Indonesia merepresentasikan sebuah tradisi yang telah dimulai sejak lama namun masih berlanjut hingga sekarang," lanjutnya.

Salah satu kain tradisional Indonesia yang dipamerkan adalah karya Milla Sungkar, yang menceritakan peristiwa bencana gempa bumi dan tsunami di Aceh tahun 2004. Jika diperhatikan dari dekat pada kain batik tersebut terdapat satu gambar masjid besar yang tetap berdiri diantara ilustrasi goresan yang menggambarkan terjadinya tsunami.

"Sebuah kebudayaan itu tumbuh secara alami, seringkali tradisi dilihat sebagai barang yang sudah lampau, tapi saya melihat tradisi yang dulu itu ada saat ini, karena budaya itu hakikatnya adalah sesuatu yang hidup, tumbuh secara sangat alami dengan interaksi yang terus terjadi, sehingga budaya itu masih ada dalam kehidupan kita. Tantangan ke depannya adalah bagaimana kita mampu menjelaskan makna dan nilai dari budaya itu sendiri," ujar Agus Ismoyo, seniman batik dari Studio Brahma Tirtasari.

Kain-kain yang dipamerkan memberikan informasi mengenai identitas pemakainya seperti menunjukkan usia, status perkawinan, dan kekayaan seperti batik biru putih dengan berlian di dada pada kain Jawa menunjukkan seorang wanita yang sudah menikah. Selain itu, salah satu kain lainnya yang dipamerkan adalah kain Cepuk yang memiliki makna bertatap muka dengan ilahi. Kain tersebut biasanya digunakan dalam upacara keagamaan.

Asian Art Museum SF memiliki lebih dari 50,000 pengunjung setiap bulannya, melalui program Weaving Stories Exhibition dan Batik and Ikat Workshop, KJRI San Francisco mendukung kegiatan tersebut untuk menciptakan pemahaman (cultural awareness) dan meningkatkan citra positif Indonesia kepada masyarakat lokal AS melalui seni budaya kain tradisional, khususnya kain ikat dan batik.

Baca:  Perpaduan Batik dan Ao Dai Meriahkan Pembukaan 'Batik Week' di Vietnam


(WIL)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id