Biden Ingin Berdiplomasi Langsung ke Raja Salman, Bukan Putra Mahkota

    Fajar Nugraha - 17 Februari 2021 11:03 WIB
    Biden Ingin Berdiplomasi Langsung ke Raja Salman, Bukan Putra Mahkota
    Presiden AS Joe Biden saat berbicara di Wisconsin pada 16 Februari 2021. (SAUL LOEB/AFP)



    Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden berencana untuk mengubah hubungan AS dengan Arab Saudi. Dia akan melakukan diplomasi melalui Raja Saudi Salman bin Abdulaziz daripada Putra Mahkota Mohammed bin Salman.

    Pengumuman dari Juru Bicara Gedung Putih, Jen Psaki adalah pembalikan tiba-tiba dalam kebijakan AS dari pendahulunya Presiden Donald Trump. Selama berkuasa, Trump melalui menantu dan penasihat seniornya, Jared Kushner mempertahankan kontak tetap dengan putra mahkota.






    "Kami telah menjelaskan sejak awal bahwa kami akan menyesuaikan kembali hubungan kami dengan Arab Saudi," kata Psaki kepada wartawan, seperti dikutip The Globe and Mail, Rabu 17 Februari 2021.

    Sementara komentarnya tentang putra mahkota kemungkinan akan dilihat sebagai penghinaan, Psaki bergerak untuk menjelaskan kontroversi lain di wilayah tersebut, dengan mengatakan Biden akan segera melakukan percakapan telepon pertamanya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

    Putra Mahkota Mohammed bin Salman, yang secara luas disebut sebagai MbS, dianggap oleh banyak orang sebagai pemimpin de facto Arab Saudi. Dia adalah penerus takhta yang dipegang oleh Raja Salman yang berusia 85 tahun. Martabatnya terpukul setelah pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi pada 2018 di tangan personel keamanan Saudi yang dianggap dekat dengan putra mahkota.

    Gedung Putih yang kini dipimpin Biden, telah menekan Arab Saudi untuk memperbaiki catatannya tentang hak asasi manusia. Ini termasuk pembebasan tahanan politik seperti pembela hak perempuan dari penjara.

    Baca:  Biden Akhiri Dukungan AS untuk Arab Saudi Lakukan Perang di Yaman

    Sedangkan saat dipimpin Trump, Gedung Putih melihat MbS sebagai pemimpin yang harus ditangani di Arab Saudi dan bekerja dengannya di berbagai bidang, seperti menyelesaikan keretakan antara Qatar dan negara-negara Teluk lainnya.

    Adapun pertanyaan tentang apakah Biden akan berbicara dengan putra mahkota, Psaki mengatakan Biden akan kembali ke hubungan "rekan ke rekan".

    "Rekan presiden adalah Raja Salman dan saya berharap pada waktu yang tepat dia akan berbicara dengannya. Saya tidak memiliki prediksi tentang waktu untuk itu," katanya.

    Psaki mengatakan Arab Saudi memiliki kebutuhan pertahanan diri yang kritis dan Amerika Serikat akan bekerja dengan Saudi dalam hal ini “bahkan saat kami memperjelas area di mana kami memiliki ketidaksepakatan dan di mana kami memiliki kekhawatiran. Dan itu tentu saja merupakan pergeseran dari pemerintahan sebelumnya."

    Trump adalah sekutu dekat Netanyahu dan memindahkan hubungan AS ke posisi pro-Israel yang kuat dengan sedikit atau tanpa kontak dengan Palestina.

    Psaki mengatakan panggilan pertama Biden dengan seorang pemimpin di wilayah tersebut akan bersama Netanyahu dan akan segera. Kritikus menuduh Biden, seorang Demokrat, menghina Netanyahu dengan tidak berbicara dengan pemimpin sekutu utama AS di Timur Tengah.

    "Israel tentu saja sekutu. Israel adalah negara di mana kami memiliki hubungan keamanan strategis yang penting, dan tim kami terlibat penuh, bukan di tingkat kepala negara tetapi segera," pungkas Psaki.

    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id