comscore

NATO Akan Punya Lebih Dari 300.000 Prajurit Reaksi Cepat

Medcom - 28 Juni 2022 14:36 WIB
NATO Akan Punya Lebih Dari 300.000 Prajurit Reaksi Cepat
Sekjen NATO Jens Stoltenberg. (Kenzo TRIBOUILLARD / AFP)
Brussel: Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Jens Stoltenberg mengatakan aliansinya akan menambah jumlah pasukan dalam status siaga tinggi menjadi lebih dari 300.000, atau naik tujuh kali lipat.

NATO tengah mempersiapkan diri untuk strategi baru, yang memandang Rusia sebagai ancaman langsung setelah Moskow menginvasi Ukraina pada 24 Februari.
Invasi Rusia terhadap Ukraina memicu perubahan geopolitik besar di Barat. Negara-negara netral Finlandia dan Swedia terdorong untuk mengajukan diri bergabung dengan NATO. Ukraina pun telah mengamankan status kandidat anggota Uni Eropa.

"Rusia telah menarik diri dari kemitraan dan dialog yang berusaha dibangun NATO dengan Rusia selama bertahun-tahun," kata Stoltenberg di Brussel menjelang KTT NATO akhir pekan ini di Madrid, dikutip dari Channel News Asia, Selasa, 28 Juni 2022.

"Mereka memilih konfrontasi daripada dialog. Kami menyesali itu. Tapi tentu saja, kami perlu menanggapi kenyataan itu," katanya kepada wartawan.

Baca:  NATO: Perang di Ukraina Dapat Berlangsung Bertahun-tahun

KTT NATO pada 28-30 Juni merupakan momen penting bagi aliansi tersebut, setelah mengalami kegagalan dalam perang di Afghanistan dan perselisihan internal selama era eks presiden AS Donald Trump. Kala itu, Trump sempat mengancam hendak menarik AS keluar dari NATO.

Stoltenberg mengatakan NATO ke depannya akan memiliki "lebih dari 300.000" tentara berstatus siaga tinggi. Saat ini jumlah tentara reaksi cepat NATO, NRF, hanya 40.000.

Model pasukan baru dimaksudkan untuk menggantikan NRF dan "menyediakan pasukan dengan kesiapan tinggi yang lebih besar di seluruh medan, baik di darat, laut, udara dan dunia maya, yang akan terlebih dahulu ditugaskan untuk rencana khusus pertahanan sekutu," kata seorang pejabat NATO.

Stoltenberg mengatakan unit-unit tempur NATO di sayap timur aliansi, yang paling dekat dengan Rusia, akan didorong ke tingkat brigade. Ribuan tentara siaga akan ditempatkan di negara-negara lebih jauh ke barat seperti Jerman.

"Ini merupakan perombakan terbesar terhadap skema pencegahan dan pertahanan bersama kami sejak Perang Dingin," katanya.

Pejabat NATO, yang berbicara secara anonim, mengatakan langkah itu akan memungkinkan NATO untuk melakukan tanggapan dengan lebih banyak pasukan dalam waktu singkat jika diperlukan.

Ia menyebut skala dan komposisi pasukan yang tepat masih diupayakan dan transisi direncanakan selesai pada tahun 2023.

Dalam KTT, NATO juga akan mengubah kata-kata yang digunakannya terkait Rusia, sebelumnya diresmikan pada KTT Lisbon tahun 2010, di mana Moskow disebut sebagai mitra strategis.

"Saya berharap sekutu akan menyatakan dengan jelas bahwa Rusia menimbulkan ancaman langsung terhadap keamanan kami, nilai-nilai kami, terhadap tatanan internasional yang berbasis hukum," kata Stoltenberg.

Di saat yang sama, Stoltenberg menurunkan harapan untuk terobosan di KTT mengenai penolakan Turki terhadap pengajuan keanggotaan Swedia dan Finlandia.

"Saya tidak akan berjanji atau berspekulasi tentang batas waktu tertentu. KTT tidak pernah menjadi tenggat waktu (keputusan keanggotaan Swedia dan Finlandia)," kata Stoltenberg, yang dijadwalkan bertemu dengan para pemimpin ketiga negara di Madrid pada Selasa ini. (Kaylina Ivani)

(WIL)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id