comscore

Komisi Khusus Kongres AS Sebut Trump Dalang Kerusuhan Gedung Capitol

Marcheilla Ariesta - 10 Juni 2022 12:01 WIB
Komisi Khusus Kongres AS Sebut Trump Dalang Kerusuhan Gedung Capitol
Mantan Presiden AS Donald Trump dituduh dalang keurusuhan Gedung Capitol tahun lalu./AFP
Washington: Sebuah panel kongres yang menyelidiki serangan massa tahun lalu di Gedung Capitol Amerika Serikat (AS) memaparkan kasusnya. Mereka mengatakan, mantan Presiden AS Donald Trump berada di 'jantung' upaya kudeta untuk tetap berkuasa.

Dalam presentasi dari temuan mereka setelah penyelidikan selama setahun, komiter berusaha meyakinkan mengenai keberadaan plot yang mengakar dan sedang berlangsung untuk membatalkan hasil dari Pemilu 2020.
"(Mantan) Presiden Trump memanggil massa, mengumpulkan massa dan menyalakan api serangan ini," kata wakil ketua panel Partai Republik, Liz Cheney, dilansir dari AFP, Jumat, 10 Juni 2022.

Beberapa menit sebelumnya, saat ia membuka sidang publik pertama panel, ketua komite Demokrat Bennie Thompson menuduh Trump sebagai 'pusat konspirasi'.

Baca juga: Trump Tolak Seruan Kontrol Senjata Usai Penembakan di SD Texas

"Tanggal 6 Januari adalah puncak dari upaya kudeta – upaya kurang ajar, seperti yang dikatakan seorang perusuh tak lama setelah 6 Januari – untuk menggulingkan pemerintah. Kekerasan itu bukan kebetulan," kata Thompson.

"Para perusuh bertindak atas dorongan presiden Amerika Serikat (saat itu)," sambung dia.

Presentasi panel yang dibuat dengan hati-hati menggunakan kesaksian yang diberikan secara tertutup oleh beberapa penasihat Trump yang paling senior dan tepercaya, termasuk mantan jaksa agung Bill Barr dan menantu dan ajudan senior Trump, Jared Kushner.

Komite juga menayangkan rekaman suram, beberapa di antaranya belum pernah terlihat sebelumnya, tentang kekerasan yang melanda pusat pemerintahan, menyebabkan lima orang tewas.

Thompson memperingatkan bahwa ancaman terhadap demokrasi Amerika tetap ada.

"Konspirasi untuk menggagalkan kehendak rakyat belum berakhir," ucap dia.

"Ada orang-orang di negara ini yang haus akan kekuasaan tetapi tidak memiliki cinta atau rasa hormat terhadap apa yang membuat Amerika hebat: pengabdian pada Konstitusi, kesetiaan pada aturan hukum, perjalanan bersama kita untuk membangun Persatuan yang lebih sempurna," pungkas dia.

(FJR)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id