Usai Jatuhkan Sanksi ke Rusia, Biden Ajak Putin Bertemu

    Marcheilla Ariesta - 16 April 2021 13:48 WIB
    Usai Jatuhkan Sanksi ke Rusia, Biden Ajak Putin Bertemu
    Setelah sanksi Rusia, Presiden AS Joe Biden ajak Presiden Vladimir Putin berdialog. Foto: AFP



    Washington: Beberapa jam setelah mengusir 10 diplomat Rusia yang menjadi sanksi dari Amerika Serikat (AS), Presiden Joe Biden mengusulkan dialog stabilitas strategi dengan Moskow. Sanksi yang dijatuhkan Biden itu merupakan kelanjutan dari campur tangan Rusia dalam pemilihan presiden AS tahun lalu.

    Usai menandatangani perintah eksekutif yang memberlakukan sanksi pada Rusia, Biden menelepon Presiden Vladimir Putin. Ia mengusulkan agar mereka bertemu secara langsung musim panas ini di Eropa sebagai pertemuan antar kepala negara.






    Baca: AS Jatuhkan Sanksi ke Rusia, Usir 10 Diplomat.

    "Tim kami sedang mendiskusikan kemungkinan itu sekarang. Dan jika KTT itu terjadi, Amerika Serikat dan Rusia dapat meluncurkan dialog stabilitas strategis untuk mengejar kerja sama dalam pengendalian dan keamanan senjata," tutur Biden, dilansir dari India Today, Jumat, 16 April 2021.

    Biden yakin dapat mengatasi tantangan global yang mengharuskan AS dan Rusia bekerja sama. "Termasuk mengekang ancaman nuklir Iran dan Korea Utara, mengakhiri pandemi virus korona (covid-19) secara global, dan menghadapi krisis eksistensial perubahan iklim," imbuh Biden.

    Selama panggilan telepon, Biden juga menyampaikan keprihatinannya terkait peningkatan militer Rusia di perbatasan Ukraina dan Krimea.

    "Saya menegaskan dukungan AS untuk kedaulatan dan integritas teritorial Ukraina. Saya mendesaknya (Putin) untuk menahan diri dari tindakan militer apapun," ungkap Biden.

    Menurut Biden, ini saatnya meredakan ketegangan kedua negara. AS, seru Biden, siap untuk terus bergerak secara konstruktif menuju proses itu.

    "Intinya, di mana ada kepentingan di Amerika Serikat untuk bekerja dengan Rusia, kami harus dan akan melakukannya. Di mana Rusia berusaha melanggar kepentingan AS, kami akan merespons," tegasnya.

    AS mengumumkan sanksi dan pengusiran 10 diplomat Rusia pada Kamis 15 April. Ketentuan ini merupakan balasan atas tuduhan Washington bahwa Rusia campur tangan dalam pemilihan AS, serangan dunia maya besar-besaran, dan aktivitas bermusuhan lainnya.
     
    Pendapat Presiden Joe Biden melawan Rusia terjadi pada minggu yang sama ketika ia menawarkan untuk bertemu dengan Presiden Vladimir Putin untuk pertemuan puncak pertama mereka. Pertemuan itu menurut para pejabat AS tetap "penting" sehingga kedua negara dapat mengurangi ketegangan.

    Baca: Rusia Siap Bertindak Hadapi Sanksi dari Amerika Serikat.
     
    Dalam perintah eksekutif, Biden memperluas pembatasan pada bank-bank AS yang memperdagangkan utang pemerintah Rusia, mengusir 10 diplomat yang termasuk tersangka mata-mata, dan memberikan sanksi kepada 32 orang yang dituduh ikut campur dalam pemilihan presiden 2020.

    Menanggapi hal ini, Rusia mengatakan telah berulang kali memperingatkan AS tentang konsekuensi dari langkah-langkah permusuhannya, yang secara berbahaya meningkatkan konfrontasi antar kedua negara.

    Hubungan AS dan Rusia sudah memburuk bulan lalu ketika Presiden AS Joe Biden setuju dengan deskripsi Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai ‘pembunuh’.
     
    "Washington harus menyadari bahwa ia harus membayar untuk degradasi hubungan bilateral," tegas Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova.
     
    "Tanggung jawab atas apa yang terjadi sepenuhnya terletak pada Amerika Serikat,” imbuhnya.

    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id