Boeing Lakukan Kesalahan Desain 737 MAX yang Digunakan Lion Air

    Fajar Nugraha - 16 September 2020 17:17 WIB
    Boeing Lakukan Kesalahan Desain 737 MAX yang Digunakan Lion Air
    DPR AS nyatakan ada kesalahan desain pada Boeing 737 MAX. Foto: AFP
    Washington: Investigasi 18 bulan oleh panel DPR AS mengeluarkan kecaman atas Boeing Co dan Administrasi Penerbangan Federal (FAA), setelah kecelakaan pesawat Boeing 737 MAX. Kecelakaan yang melibatkan Lion Air dan Ethiopian Air itu telah menewaskan 346 orang secara total.
     
    Baca: Indonesia Kecam Desain Boeing 737 MAX.

    Anggota Komite Transportasi dan Infrastruktur DPR AS dari Partai Demokrat menemukan banyak kesalahan langkah dalam pengembangan pesawat bermasalah itu. Hal ini disampaikan dalam laporan akhir setebal hampir 250 halaman yang dirilis Rabu, 16 September 2020.

    "Boeing gagal dalam desain dan pengembangan (Boeing seri) MAX. Sementara FAA gagal dalam pengawasan Boeing dan sertifikasi pesawat," kata laporan DPR AS itu, merinci sejumlah masalah dalam desain pesawat dan persetujuan pemerintah atas pesawat tersebut.

    Tinjauan tersebut menemukan bahwa “kecelakaan bukan akibat dari kegagalan tunggal, kesalahan teknis, atau peristiwa yang salah kelola."

    "Itu adalah puncak yang mengerikan dari serangkaian asumsi teknis yang salah oleh para insinyur Boeing, kurangnya transparansi di pihak manajemen Boeing, dan pengawasan yang sangat tidak memadai oleh FAA. Ini merupakan akibat buruk dari peraturan yang diambil dari pihak FAA,” imbuh laporan tersebut, seperti dikutip dari AFP, Rabu 16 September 2020.

    Boeing mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pihaknya "belajar banyak dari kecelakaan itu dan dari kesalahan yang telah kami buat. Seperti yang diakui laporan ini, kami telah membuat perubahan mendasar pada perusahaan sebagai hasilnya, dan terus mencari cara untuk melakukan perbaikan”.

    FAA mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka akan bekerja dengan anggota parlemen "untuk melaksanakan perbaikan yang diidentifikasi dalam laporannya."

    “Perbaikan difokuskan pada memajukan keselamatan penerbangan secara keseluruhan dengan meningkatkan organisasi, proses, dan budaya kami,” tegas pihak FAA.

    Laporan DPR AS juga mengatakan,”Boeing membuat desain yang salah dan asumsi kinerja terutama seputar sistem keselamatan utama, yang disebut MCAS. Sistem ini yang terkait dengan kecelakaan Lion Air dan Ethiopian Airlines.

    MCAS, yang dirancang untuk membantu melawan kecenderungan MAX untuk stall, dapat diaktifkan setelah data hanya dari satu sensor.

    Laporan itu mengkritik Boeing karena menahan "informasi penting dari FAA, pelanggannya, dan pilot 737 MAX”. “Termasuk menyembunyikan keberadaan MCAS dari pilot pesawat Boeing 737 MAX,” imbuh laporan DPR AS.

    FAA membutuhkan sejumlah perlindungan baru untuk MCAS, termasuk mewajibkan menerima data dari dua sensor, sebelum memungkinkan MAX untuk kembali beroperasi. Laporan tersebut mengutip contoh di mana karyawan Boeing yang diberikan izin untuk mewakili kepentingan FAA "gagal mengungkapkan informasi penting kepada FAA yang dapat meningkatkan keselamatan 737 MAX."

    Boeing tidak mengungkapkan keberadaan MCAS dalam manual kru dan berusaha meyakinkan regulator untuk tidak memerlukan pelatihan simulator yang lebih mahal untuk pilot MAX. Pada Januari, Boeing setuju untuk mendukung pelatihan simulator sebelum pilot melanjutkan penerbangan.

    “Laporan juga menegaskan bahwa FAA gagal menjamin keamanan masyarakat yang melakukan perjalanan,” tegas pihak DPR AS.

    Anggota parlemen telah mengusulkan banyak reformasi untuk merestrukturisasi bagaimana FAA mengawasi sertifikasi pesawat. Komite Senat akan membahas RUU reformasi Rabu. Mereka juga menyarankan Boeing termotivasi untuk memangkas biaya dan bergerak cepat untuk membawa 737 MAX kembali beroperasi.

    "Ini adalah tragedi yang seharusnya tidak pernah terjadi," kata ketua Komite Transportasi DPR Peter DeFazio kepada wartawan.

    "Kami akan mengambil langkah-langkah dalam undang-undang untuk memastikan bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi lagi saat kami mereformasi sistem,” pungkas DeFazio.

    (FJR)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id