Bak di Medan Perang, Dokter Ukraina Berjuang Lawan Covid-19

    Arpan Rahman - 19 Mei 2020 19:08 WIB
    Bak di Medan Perang, Dokter Ukraina Berjuang Lawan Covid-19
    Petugas memeriksa warga di tengah merebaknya virus korona di Ukraina. Foto: AFP
    Chernivtsi: Sebuah alat bantu pernafasan di sebuah rumah sakit Ukraina rusak, membuat seorang pasien virus korona terengah-engah tanpa daya. Olha Kobevko bergegas dari kamar ke kamar untuk melihat apakah ada tukang listrik di antara pasiennya lain yang dapat memperbaikinya.

    Akhirnya, dia menemukan cara untuk membuat perangkat itu berfungsi sendiri. "Kami seperti dalam situasi perang di sini, seperti di garis depan!"  serunya putus asa.

    Kobevko, 37, adalah satu-satunya spesialis penyakit menular di divisi infeksi sebuah rumah sakit di kota barat Chernivtsi. Rumah sakit itu seharusnya menampung 60 pasien, tetapi sekarang menampung sekitar 100 pasien.

    Kondisi menyedihkan, peralatan yang rusak atau di bawah standar, kurangnya obat-obatan, upah rendah mencerminkan kehancuran sistem perawatan kesehatan Ukraina. Sarana tersebut dengan cepat kewalahan oleh pandemi virus morona, bahkan dengan jumlah kasus yang relatif rendah di negara itu.

    Ekonomi Ukraina yang dilanda korupsi telah melemah akibat perang enam tahun dengan separatis didukung Rusia di timur. Pemerintahan Presiden Volodymyr Zelenskiy, yang berjalan satu tahun, mewarisi sistem perawatan kesehatan tanpa dana lebih lanjut, dilumpuhkan reformasi yang diluncurkan oleh pendahulunya. Reformasi secara drastis memotong subsidi negara.

    Pemotongan Itu telah meninggalkan rumah sakit Ukraina tanpa peralatan vital. Sayap penyakit menular dari rumah sakit regional utama di Chernivtsi dibangun lebih dari seabad yang lalu ketika kota itu masih menjadi bagian dari Kekaisaran Austro-Hungaria. Tidak memiliki sistem pasokan oksigen terpusat yang standar di setiap klinik modern.

    Sistem suplai oksigen rumah sakit terletak hanya di satu ruangan, dan perawat harus secara manual mengisi kembali tas yang mereka sebut "bantal oksigen" setiap beberapa menit dan membawanya ke pasien di tempat lain.

    "Seorang pasien akan memohon, 'Udara, udara, beri aku udara!' Dan tidak ada yang dapat Anda lakukan," kata Kobevko.

    "Anda terus meremas tasnya, tidak bisa menyelamatkan nyawa. Itu adalah hal yang paling menyakitkan, dan biayanya sangat sedikit untuk mengamankan pasokan oksigen terpusat,” sambungnya.

    Suara batuk yang teredam oleh masker oksigen bercampur dengan berderitnya peralatan medis di gedung tua rumah sakit ketika perawat bergegas melalui koridor yang remang-remang untuk mengganti kantong oksigen. Udara berbau ozon dari lampu ultraviolet yang digunakan mensterilkan bangsal.

    Orang sakit kritis dipindahkan ke gedung terpisah yang memiliki beberapa ventilator, tetapi juga diisi melebihi kapasitas dan tidak selalu dapat menerima pasien baru, bahkan mereka yang dalam kondisi serius.

    Ukraina memiliki 18.616 kasus virus korona yang dikonfirmasi, dengan 535 kematian. Chernivtsi terjangkit 2.713 dari infeksi itu, tempat penularan panas, bersama dengan kota barat lainnya, Ivano-Frankivsk, 100 kilometer jauhnya, dan ibu kota, Kyiv. Ribuan orang Ukraina yang memiliki pekerjaan sementara di Italia, Spanyol, dan negara-negara Eropa lainnya pulang ke rumah di tengah pandemi dan beberapa membawa infeksi.

    Di dapur rumah sakit, para pekerja tidur di kasur. Tetapi kru ambulans segera tiba dengan lebih banyak pasien, memberi mereka sedikit kesempatan untuk tidur, bahkan setelah perjalanan tugas yang melelahkan.

    Svetlana Padynich, tenaga medis pada kru ambulans, terus membawa pasien Covid-19 selama 12 jam kerja. Akhir-akhir ini, para pekerja di kru itu jatuh sakit. Sepekan lalu, satu meninggal karena pneumonia yang disebabkan oleh virus. Empat petugas medis lain di posisinya juga menderita pneumonia tetapi dalam kondisi stabil.

    "Kami mengalami kekurangan staf," kata Padynich.

    Setengah dari personel ambulans sakit dan mereka yang masih harus mengangkut muatan sangat besar," tambah perempuan berusia 42 tahun itu.

    Padynich mengenakan masker FFP2, yang menawarkan beberapa perlindungan tetapi tidak lengkap, dan dia memakai topeng medis lain di bawahnya.

    "Saya mengerti bahwa saya mengambil risiko tinggi, tetapi seseorang perlu bekerja," katanya, dilansir dari TIME, Selasa 19 Mei 2020.

    Persediaan pelindung diri kurang, dengan sebagian besar berasal dari donor swasta. Pengirimannya tidak teratur.

    "Saya mengkhawatirkan keselamatanku. Saya takut jatuh sakit, sebab saya bisa menginfeksi covid-19 keluargaku,” kata Padynich.  

    Karena itu, dia bilang dia belum menjenguk ibunya sejak awal wabah. Pekerja medis terhitung sekitar seperlima dari semua kasus virus korona di Ukraina, dengan lebih dari 50 orang terinfeksi setiap hari.

    Sadar akan kelemahan dalam sistem perawatan kesehatan, pemerintah memutuskan penutupan ketat pada 12 Maret, termasuk menutup sebagian besar perusahaan. Tetapi di bawah tekanan dari petani putus asa, pengusaha dan yang lain, pemerintah melonggarkan pembatasan 11 Mei, memungkinkan beberapa toko, salon rambut, salon kecantikan, dan usaha lainnya dibuka kembali.

    Kalangan dokter khawatir bahwa langkah itu dapat memicu gelombang penularan baru. "Jika kita mengakhiri karantina dan meninggalkan sistem perawatan kesehatan dalam bentuk yang sama, itu akan membawa bencana," kata Kobevko.

    Subsidi pemerintah sebelumnya mencakup upah pekerja layanan kesehatan dan tagihan utilitas rumah sakit. Di bawah reformasi medis baru yang dimulai bulan lalu, dana itu telah berkurang tajam, menempatkan banyak klinik di ambang penutupan.

    Presiden Ukraina dengan tajam mengkritik reformasi yang diperintahkan oleh pendahulunya, memperingatkan itu bisa berarti menutup lebih dari 300 rumah sakit dan menyebabkan 50.000 pekerja medis menganggur.

    "Selain tenaga medis, para profesional hebat yang termasuk yang terbaik di dunia, kami tidak memiliki yang lain," kata Zelenskiy.

    Menghadapi wabah, pemerintah telah menawarkan subsidi kepada pekerja medis yang berurusan dengan wabah dengan melipatgandakan upah bulanan mereka.

    Kobevko mengatakan gaji bulanan dasarnya sebesar USD175 (Rp2,6 juta), setara dengan upah minimum negara saat ini, mencerminkan rendahnya anggapan umum para profesional medis di Ukraina. Dia mendapat tambahan USD25 (Rp370 ribu) dalam pembayaran tagihan bulanan untuk bekerja di klinik penyakit menular.

    "Itu menunjukkan kurangnya respek pemerintah terhadap pekerjaan kami," katanya. “Ketidakpedulian semacam itu seharusnya menakuti bukan hanya saya. Kami tidak memiliki apa-apa dan didorong antusiasme, tetapi kami kehabisan semangat,” tuturnya.

    Berdasarkan data Universitas Johns Hopkins Selasa 19 Mei 2020, jumlah kasus positif covid-19 di dunia sudah mencapai 4.817.105 jiwa. Sementara korban meninggal mencapai 318.599 orang dan yang berhasil sembuh berada di angka 1.788.108 jiwa.




    Informasi lengkap tentang perkembangan penanganan pandemi covid-19 bisa langsung diakses di sini (https://www.medcom.id/corona).



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id