comscore

Situs Pemerintah Ukraina Diretas Usai Kebuntuan Dialog NATO-Rusia

Marcheilla Ariesta - 14 Januari 2022 18:14 WIB
Situs Pemerintah Ukraina Diretas Usai Kebuntuan Dialog NATO-Rusia
Ilustrasi peretas./Shutterstock
Kiev: Peretas merusak dan melumpuhkan beberapa situs web pemerintah Ukraina pada Jumat, 14 Januari 2022. Peretasan terjadi usai serangkaian pembicaraan diplomatik antara Rusia dan Barat berakhir dengan jalan buntu.

"Ukraina, takut dan bersiaplah untuk yang terburuk. Semua data pribadi Anda sudah diunggah ke web," kata pesan itu dalam bahasa Ukraina, Rusia, dan Polandia, dilansir dari The Politico.
Tidak ada indikasi bahwa ancaman tersebut sah. Namun, pesan ini juga merujuk pada konflik sejarah dan sengketa perbatasan Ukraina dan Polandia.

Laporan serangan pertama kali muncul sekitar pukul 05.00 waktu setempat. Pesan ancaman muncul di situs Kementerian Luar Negeri dan Pertanian Ukraina.

"Sebagai akibat dari serangan peretasan besar-besaran, situs web Kementerian Luar Negeri dan sejumlah lembaga pemerintah lainnya untuk sementara tidak aktif. Spesialis kami sudah bekerja untuk memulihkan pekerjaan sistem TI," cuit juru bicara kementerian luar negeri.

Pekan ini, Barat yang tergabung dalam NATO melakukan pembicaraan dengan Rusia. Mereka mencoba untuk mengurai situasi di perbatasan timur Ukraina yang menegang karena lebih dari 100 ribu tentara Rusia berkumpul.

Pakar keamanan siber mengatakan mereka melihat peningkatan upaya penyusupan pada jaringan pemerintah Ukraina dari Rusia selama beberapa minggu terakhir.

Amerika Serikat (AS) dan Inggris telah mengerahkan para ahli untuk membantu mempersiapkan Ukraina melawan serangan siber ketika Kremlin meningkatkan tekanannya di perbatasan. Hal ini dilaporkan New York Times bulan lalu.

Para diplomat NATO mengatakan mereka memperkirakan setiap serangan militer oleh Rusia akan disertai dengan serangan hibrida, termasuk serangan siber dan kampanye disinformasi yang aktif.

Peretas menyerang jaringan listrik Ukraina pada Desember 2015, mengakibatkan pemadaman listrik untuk sekitar 230.000 rumah tangga.

Serangan serupa pada jaringan energi terjadi lagi tahun 2016 dan negara ini menjadi pusat wabah global ransomware pada 2017 yang dikenal sebagai NotPetya. Serangan kemudian dikaitkan dengan kelompok peretasan Rusia yang dikenal sebagai "Sandworm."

(FJR)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id