comscore

Simbol Perbudakan, Raja Belanda Tak Lagi Gunakan Kereta Kencana Emas

Fajar Nugraha - 14 Januari 2022 11:05 WIB
Simbol Perbudakan, Raja Belanda Tak Lagi Gunakan Kereta Kencana Emas
De Gouden Koets, secara tradisional mengangkut raja Belanda ke pembukaan parlemen dan acara-acara kenegaraan lainnya. Foto: AFP
Den Haag: Raja Belanda Willem-Alexander mengumumkan pada Kamis 13 Januari 2022, memutuskan untuk tidak menggunakan kereta kencana emas milik kerajaan. Penghentian ini disebabkan karena kereta itu dianggap menyimbolkan rasisme.

Kereta kuda yang mewah, yang disebut ‘De Gouden Koets’, secara tradisional mengangkut raja Belanda ke pembukaan parlemen dan acara-acara kenegaraan lainnya. Tetapi kereta itu sudah tidak digunakan sejak 2015.

De Gouden Koets menjadi kontroversi dengan keberadaan gambar mengenai perbudakan di panel sisi kiri kereta emas.

Disebut 'Tribute of the Colonies', gambar itu menggambarkan orang kulit hitam berlutut menyerahkan hasil bumi seperti kakao dan tebu kepada tuan kulit putih mereka. Ini termasuk kepada seorang wanita kulit putih muda di atas takhta yang mewakili Belanda.

Simbol Perbudakan, Raja Belanda Tak Lagi Gunakan Kereta Kencana Emas
Raja Willem-Alexander di hadapan Gouden Koets. Foto: AFP

Di sebelahnya, seorang pemuda kulit putih terlihat memberikan sebuah buku kepada seorang anak laki-laki kulit hitam yang dipersembahkan oleh ayahnya yang patuh, sebuah gambar yang menurut pelukis Nicolaas van der Waay pada  1896 dimaksudkan untuk menggambarkan "peradaban".

"Kita tidak bisa menulis ulang masa lalu," kata Raja Belanda dalam sebuah video resmi, seperti dikutip AFP, Jumat 14 Januari 2022.

“Tapi kita bisa mencoba menerimanya bersama. Ini juga berlaku untuk masa lalu kolonial," tambahnya.

"Gouden Koets hanya bisa digunakan ketika Belanda sudah siap. Dan saat ini tidak demikian," lanjutnya.

Setelah renovasi total yang berlangsung selama lima tahun, kereta kerajaan menjadi pusat pameran di Amsterdam tentang masa lalu kolonial Belanda.

"Gouden Koets tidak akan digunakan sampai Belanda siap untuk itu, dan itu tidak terjadi saat ini," kata Raja.

"Selama ada orang yang tinggal di Belanda yang merasakan sakitnya diskriminasi setiap hari, masa lalu akan tetap membayangi zaman kita," tambahnya.

Di Belanda, seperti di negara-negara Eropa lainnya, perdebatan tentang masa lalu kolonial dan perbudakan muncul kembali sejak munculnya gerakan Black Lives Matter di Amerika Serikat.(FJR)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id