Oxford Tangguhkan Uji Klinis Vaksin AstraZeneca pada Anak-Anak

    Willy Haryono - 07 April 2021 07:33 WIB
    Oxford Tangguhkan Uji Klinis Vaksin AstraZeneca pada Anak-Anak
    Kotak vaksin AstraZeneca terlihat di sebuah rumah sakit. (AFP)



    London: University of Oxford menangguhkan uji klinis vaksin AstraZeneca pada anak-anak pada Selasa, 6 April 2021. Penangguhan dilakukan saat regulator medis Inggris mengkaji kemungkinan terjadinya pembekuan darah terkait vaksin AstraZeneca di tubuh orang dewasa.

    Perwakilan Oxford mengatakan kepada CNN bahwa uji klinis pada anak-anak dengan usia termuda 6 tahun ditangguhkan di tengah kajian yang sedang dilakukan regulator MHRA terkait pembekuan darah.






    "Orang tua dan anak-anak sebaiknya terus menghadiri jadwal kunjungan dan menghubungi lokasi uji klinis jika mereka memiliki pertanyaan apapun," ucap perwakilan tersebut, dilansir dari laman UPI.

    Baca:  Pejabat EMA Kaitkan Vaksin AstraZeneca dengan Pembekuan Darah

    June Raine, Kepala Eksekutif MHRA, mengaku telah menerima informasi mengenai keputusan Oxford yang menangguhkan uji klinis vaksin AstraZeneca pada anak-anak.

    "Keselamatan partisipan dalam uji klinis apapun adalah prioritas utama. Sejauh ini tidak ada kekhawatiran mengenai keamanan dari uji klinis tersebut," tutur Raine.

    Melalui analisis 18,1 juta dosis vaksin AstraZeneca yang telah disuntikkan, MHRA menemukan fakta bahwa tujuh orang meninggal akibat pembekuan darah usai vaksinasi. Sejauh ini MHRA belum menemukan kaitan langsung antara vaksinasi dan pembekuan darah.

    Terdapat juga 22 laporan mengenai pembekuan darah di otak, atau disebut dengan cerebral venous sinus thrombosis, dan delapan laporan pembekuan di tubuh individu yang memiliki trombosit rendah.

    MHRA menyarankan otoritas Inggris untuk terus menyuntikkan vaksin AstraZeneca di semua kelompok masyarakat, dengan mengatakan bahwa pembekuan darah sangat jarang terjadi dan manfaat dari vaksin tersebut jauh melampaui risikonya.

    Beberapa negara telah melarang penggunaan vaksin AstraZeneca. Komisi independen vaksin Jerman pekan kemarin merekomendasikan bahwa warga di bawah usia 60 tahun yang telah menerima dosis pertama vaksin AstraZeneca untuk menyelesaikan vaksinasi mereka dengan produk lain.

    Vaksin untuk Indonesia

    Dalam upaya mendukung vaksinasi di Tanah Air, Media Group bersama Slank menggelorakan kampanye sosial bertajuk "Vaksin untuk Indonesia". Kampanye ini adalah upaya untuk bersama-sama bangkit dari pandemi dan memupuk optimisme menuju normal baru dengan terus menjaga kesehatan fisik dan mental. Vaksin dalam tajuk ini bukan saja berarti "obat" atau "anti-virus", tetapi juga upaya untuk menguatkan kembali mental dan spirit kita di tengah kesulitan akibat pandemi.

    "Slank dan Media Group bikin gerakan yang bertema 'Vaksin untuk Indonesia'. Berharap lewat musik dan dialog, acara ini bisa menyemangati dampak pandemi yang mengenai kehidupan kita, supaya tetap semangat. Kita hibur supaya senang, supaya imun kita naik juga. Mengajak masyarakat untuk jangan takut untuk divaksin. Ini salah satu solusi untuk lepas dari pandemi," terang drummer Slank, Bimo Setiawan Almachzumi alias Bimbim.

    Program "Vaksin untuk Indonesia" tayang di Metro TV setiap hari Jumat, pukul 20:05 WIB. Dalam tayangan ini, Slank bukan saja menyuguhkan musik semata, tetapi juga menampilkan perjalanan ke sejumlah tempat dan berinteraksi dengan masyarakat dari berbagai latar belakang sosial.

     

    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id