Enam Topik Debat Pamungkas Calon Presiden AS

    Willy Haryono - 22 Oktober 2020 16:04 WIB
    Enam Topik Debat Pamungkas Calon Presiden AS
    Presiden AS Donald Trump dan Capres dari Partai Demokrat Joe Biden saat bertarung di debat pertama. Foto: AFP
    Washington: Komisi Debat Presiden Amerika Serikat (CPD) telah menetapkan enam topik untuk debat terakhir yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis malam, 22 Oktober waktu AS atau Jumat pagi, 23 Oktober waktu Indonesia. Enam topik itu adalah Memerangi Covid-19, Keluarga Amerika, Ras di Amerika, Perubahan Iklim, Keamanan Nasional, dan Kepemimpinan.

    Topik dapat diubah sewaktu-waktu jika ada peristiwa darurat, dan urutannya juga bisa diganti tergantung moderator debat.

    Kristen Welker dari kantor berita NBC akan menjadi moderator debat terakhir. Ia akan membuka setiap segmen dengan satu pertanyaan untuk masing-masing kandidat, yakni Presiden AS Donald Trump dari Partai Republik dan Joe Biden dari Partai Demokrat.

    Dalam pengumuman terbaru pada Senin, 19 Oktober, CPD akan mematikan mikrofon salah satu kandidat jika kandidat lainnya sedang berbicara. Hal ini bertujuan menghindari kekacauan seperti dalam debat perdana bulan lalu.

    Berikut sekelumit detail dari enam topik yang akan dibahas dalam debat mendatang, seperti dikutip dari laman Bay News 9.

    1. Memerangi Covid-19

    Respons Trump terhadap pandemi covid-19 kemungkinan akan menjadi pembahasan utama dalam debat terakhir. Trump telah terinfeksi covid-19 beberapa hari usai menghadiri debat perdana, yang akan membuka pintu spekulasi mengenai kapan terakhir kalinya ia dinyatakan negatif sebelum mengikuti debat terakhir.

    Sejak keluar dari rumah sakit Walter Reed National Military Medical Center, Trump mencoba meyakinkan publik AS bahwa covid-19 tidak seserius seperti kelihatannya. Ia juga mengaku sudah bosan mendengar pernyataan Dr Anthony Fauci -- anggota gugus tugas covid-19 Gedung Putih -- "dan semua orang idiot lainnya" mengenai covid-19.

    Biden diyakini akan menyerang Trump dengan mengungkapkan fakta bahwa covid-19 memiliki dampak serius terhadap kehidupan masyarakat AS.

    2. Ras di Amerika

    Ini juga akan menjadi salah satu isu panas bagi kedua kandidat. Dalam beberapa pekan terakhir, Trump dan Biden mendapat tekanan untuk lebih memaparkan pandangan mereka terhadap isu rasial di AS.

    Dalam acara di ABC News pada 15 Oktober, seorang mahasiswa kulit hitam bernama Cedric Humphrey mengatakan bahwa banyak pemuda di kalangannya masih bingung untuk memilih Trump atau tidak memilih sama sekali. Ia bertanya apakah Biden mampu memperbaiki sistem di AS yang selama ini gagal melindungi komunitas kulit hitam.

    Biden menjawab pertanyaan tersebut, dan mengatakan bahwa sistem keadilan di AS perlu dibuat ‘adil’ dan ‘lebih baik’ terlebih dahulu sebelum pemerintahannya menyentuh isu ekonomi dan pendidikan. Ia menilai warga kulit hitam di AS perlu diberi alat untuk meningkatkan kesejahteraan, termasuk tambahan uang pinjaman untuk tempat usaha yang dijalankan etnis Afrika Amerika.

    Sementara Trump kemungkinan akan mengulangi klaimnya bahwa dia sudah lebih banyak berbuat bagi Afrika Amerika ketimbang presiden-presiden lainnya di AS, kecuali Abraham Lincoln yang telah menandatangani Proklamasi Emansipasi.

    3. Perubahan Iklim

    Isu fracking -- metode ekstraksi minyak dan gas alam dengan cara menembakkan cairan bertekanan tinggi ke dalam tanah -- kemungkinan akan kembali memghiasi jalannya debat terakhir. Dalam acara nominasi Demokrat tahun lalu, Biden pernah berkata akan melarang fracking di AS. Namun tim kampanyenya menegaskan bahwa Biden salah berbicara.

    Trump pernah menyebut Biden plin-plan mengenai isu fracking, dan menegaskan metode itu dihentikan jika Demokrat berkuasa di AS.

    "Partai Demokrat benci fracking, mereka juga benci batu bara. Mereka membenci produksi energi dalam domestik. Bersama saya, kita akan fracking," ucap Trump dalam kampanye di Pennsylvania.

    Green New Deal juga diperkirakan akan kembali hadir dalam isu perubahan iklim di debat terakhir.

    4. Keamanan Nasional

    Topik ini tidak disentuh secara eksplisit dalam debat pertama. Pada akhir September lalu, koalisi ratusan mantan personel militer dan staf keamanan nasional menulis sebuah surat terbaru yang berisi dukungan untuk Biden sekaligus mengkritik Trump.

    Menurut mereka, Trump tidak mampu mengatasi berbagai tantangan terkait keamanan nasional, termasuk mengenai ancaman Rusia. Mereka menyebut Trump gagal mengecam Rusia terkait dugaan adanya uang hadiah yang ditawarkan Rusia kepada tentara bayaran untuk membunuh prajurit AS.

    Selain soal Rusia, Biden mungkin akan menyentuh retorika kontroversial Trump mengenai grup supremasi kulit putih di AS.

    Dalam laporan pada awal Oktober, Departemen Keamanan Dalam Negeri AS menyebut, sejumlah grup supremasi kulit putih di AS merupakan ancaman ekstremis domestik paling berbahaya dalam sejarah Negeri Paman Sam.

    5. Kepemimpinan

    Kepemimpinan dapat melebur dengan beberapa topik di atas. Dalam beberapa pekan terakhir, Trump dan Biden menyampaikan pandangan mereka mengenai cara rivalnya dalam memimpin AS.

    Biden kemungkinan akan menyerang Trump mengenai gayanya dalam menginformasikan publik AS mengenai bahaya covid-19. Dalam buku karya jurnalis Bob Woodward, Trump disebutkan pernah mendiskusikan betapa berbahayanya covid-19, namun di waktu bersamaan meremehkan dampaknya terhadap publik hingga kemunculan kasus pertama virus tersebut di AS.

    "Dia memberi tahu Bob bahwa dia tidak ingin membuat masyarakat AS panik," kata Biden dalam kampanye di Ohio. "Warga Amerika tidak panik, Trump yang panik," sambungnya. Selama ini, Biden selalu menggambarkan Trump sebagai pemimpin yang "gegabah" dalam memutuskan sesuatu.

    Sementara Trump kemungkinan akan menyebut Biden sebagai pemimpin yang tidak efektif. Trump berulang kali mengkritik Biden yang dinilai kurang atau tidak menghasilkan apapun selama menjadi pejabat publik, termasuk saat menjabat Wakil Presiden AS bersama Barack Obama.

    "Faktanya adalah, saya sudah berbuat lebih banyak dalam 47 bulan ketimbang Joe Biden dalam 47 tahun," sebut Trump dalam kampanye di Nevada.


    6. Keluarga Amerika

    Moderator debat Kristen Welker dapat membawa topik ini ke mana pun dia inginkan, karena masyarakat Amerika terdiri dari beragam etnis. Meski belum jelas apa yang akan ditanyakan nanti, Trump belakangan ini menyinggung mengenai "perempuan pinggiran kota" dalam rangkaian kampanyenya.

    "Tolonglah, wahai para perempuan pinggiran kota, maukah Anda semua menyukai saya?" tanya Trump dalam kampanye di Pennsylvania.

    Dalam sebuah tulisan di Twitter pada Agustus lalu, Trump mengklaim "para ibu rumah tangga di pinggiran kota" akan mendukung dirinya. Trump menuding Biden akan membuat penghasilan keluarga di AS semakin rendah sehingga menyulitkan kehidupan para ibu rumah tangga.

    Sementara Biden kemungkinan akan menyerang Trump dengan mengatakan bahwa petahana telah gagal menjamin perlindungan bagi banyak keluarga di AS, terutama di tengah pandemi covid-19 saat ini.

    Sejumlah survei terbaru memperlihatkan dukungan 60 persen untuk Biden dari perempuan yang tinggal di wilayah pinggiran kota. Pada 2016, Hillary Clinton meraih 52 persen suara dari kalangan tersebut.

    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id