UE Tegaskan Perang Melawan Terorisme Tak Ditujukan kepada Agama

    Willy Haryono - 14 November 2020 17:03 WIB
    UE Tegaskan Perang Melawan Terorisme Tak Ditujukan kepada Agama
    Bendera Uni Eropa. (Foto: AFP)
    Brussels: Jajaran menteri luar negeri negara anggota Uni Eropa menegaskan bahwa "perang melawan terorisme tidak ditujukan kepada agama-agama spesifik maupun terhadap pandangan politik tertentu." Pernyataan gabungan itu disampaikan dalam sebuah pertemuan virtual yang digelar UE dalam membicarakan rangkaian serangan teror di Prancis dan juga Austria.

    Menjelang pertemuan virtual pada Jumat kemarin, Prancis dan Austria telah merilis sebuah kerangka pernyataan, yang berisi seruan untuk berupaya lebih keras dalam "memerangi Islamisme." Namun berdasarkan laporan media Politico, beberapa anggota UE lainnya menolak mengaitkan Islam dengan perang melawan terorisme.

    "Perang melawan terorisme tidak dkitujukan kepada agama atau keyakinan politik tertentu, melainkan kepada kelompok fanatik dan ekstremisme kekerasan," ungkap pernyataan gabungan menlu-menlu UE, dilansir dari laman Yeni Safak pada Sabtu, 14 November 2020.

    Pernyataan gabungan para menlu juga menekankan pentingnya inklusi, kohesi dan integrasi sosial dalam perang melawan radikalisme dan ekstremisme.

    "Perasaan memiliki dan kesetaraan merupakan hal penting dalam kohensi sosial di masyarakat kita yang modern, pluralis dan terbuka," sebut pernyataan tersebut.

    "Keberhasilan integrasi merupakan kunci penting hal hal ini. Integrasi berlangsung dua arah. Ini artinya, para imigran diharapkan melakukan upaya aktif untuk berintegrasi," lanjut mereka.

    Presiden Prancis Emmanuel Macron memicu gelombang kritik usai menyebut Islam sebagai agama yang sedang berada "dalam krisis" di seluruh dunia. Ia juga dikecam karena membela perilisan ulang kartun Nabi Muhammad buatan majalah Charlie Hebdo.

    Padahal kartun tersebut telah memicu rangkaian aksi kekerasan di Prancis, termasuk pemenggalan seorang guru di dekat Paris dan juga penikaman di kota Nice.

    Baca:  Pemenggalan Guru Prancis Saling Terkait

    Sejumlah kritikus menilai sikap Macron bernuansa politik, dengan menerapkan pandangan populis sayap kanan demi menyenangkan kelompok tersebut di seantero negeri.

    Kanselir Austria Sebastian Kurz juga memicu kritik pekan ini usai menghubungkan Islam dengan perang melawan terorisme. Ia mengusulkan menjadikan "politik Islam" sebagai sebuah pelanggaran, dalam upaya menutup sejumlah organisasi Muslim di Austria.


    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id