Polisi Prancis Tangkap Penyebar Fatwa Pembunuhan Guru

    Fajar Nugraha - 19 Oktober 2020 20:18 WIB
    Polisi Prancis Tangkap Penyebar Fatwa Pembunuhan Guru
    Polisi lakukan operasi penangkapan terkait pembunuhan guru di Paris. Foto: AFP
    Paris: Menteri Dalam Negeri Prancis Gerald Darmanin mengatakan, bahwa operasi polisi sedang berlangsung terhadap puluhan orang yang diduga melontarkan dukungan kepada pemuda pelaku pemenggalan guru di Paris.

    “Setidaknya 80 kasus ujaran kebencian telah dilaporkan sejak serangan pada Jumat lalu,” ucap Darmanin, seperti dikutip AFP, Senin 19 Oktober 2020.

    Baca: Seorang Guru Dipenggal dalam Serangan Teror di Paris.

    Otoritas Prancis mengatakan mereka menahan 11 orang setelah pembunuhan itu. Darmanin mengatakan mereka yang ditangkap termasuk ayah dari seorang siswa dan seorang ulama yang ‘mengeluarkan fatwa’ atau keputusan agama, terhadap guru tersebut.

    Seorang pria yang mengatakan bahwa dia adalah ayah dari seorang siswa telah memposting video di media sosial yang menyatakan bahwa Paty telah menunjukkan gambar seorang pria telanjang dan mengatakan kepada siswa bahwa itu adalah ‘nabi umat Islam’. Dia meminta orang tua lain yang marah untuk menghubunginya, dan menyampaikan pesan tersebut.

    “Pihak berwenang juga memeriksa sekitar 50 asosiasi yang diduga mendorong ujaran kebencian. Beberapa akan dibubarkan,” kata Darmanin.

    Samuel Paty dipenggal di Conflans-Sainte-Honorine, barat laut Paris, oleh pengungsi Chechnya berusia 18 tahun kelahiran Moskow bernama Abdullakh Anzarov. Pelaku kemudian ditembak mati oleh polisi. Petugas polisi mengatakan Paty tengah karikatur Nabi Muhammad pada saat kelasnya, yang mengarah ke ancaman.

    Presiden Prancis Emmanuel Macron mengadakan rapat dewan pertahanan pada Minggu di Istana Elysee. “Pemerintah akan memperkuat keamanan di sekolah ketika kelas dilanjutkan pada 2 November setelah dua minggu liburan,” pernyataan kantor Presiden Prancis.

    Penghormatan nasional akan diadakan untuk Paty pada Rabu. Puluhan ribu demonstran berkumpul pada Minggu di seluruh Prancis untuk mendukung kebebasan berbicara dan mengenang guru berusia 47 tahun yang terbunuh itu.

    Ketua Konferensi para imam di Prancis, Hassen Chalghoumi mengatakan, "kami terluka, kami mengutuk tindakan barbar ini”.

    "Samuel adalah martir kebebasan. Barbarisme tidak memiliki tempat di sekolah atau di tempat lain di Prancis,” tegas Chalghoumi,  di stasiun televisi Prancis, BFM TV.

    Baca: Remaja Pemenggal Guru di Prancis Pengungsi Chechnya.

    Chalghoumi, seorang imam di Drancy, pinggiran timur laut Paris, mengatakan dia telah menerima ancaman pembunuhan dan penghinaan di media sosial dari kelompok radikal dalam beberapa hari terakhir.

    Otoritas kehakiman membuka penyelidikan pembunuhan dengan motif terduga teroris. Setidaknya empat dari mereka yang ditahan adalah anggota keluarga penyerang, yang telah diberikan izin tinggal 10 tahun di Prancis sebagai pengungsi pada Maret. Dia dipersenjatai dengan pisau dan airsoft gun, yang menembakkan butiran plastik.

    Jaksa antiterorisme Jean-Francois Ricard mengatakan sebuah teks yang mengaku bertanggung jawab dan foto korban ditemukan di telepon penyerang.

    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id