Cerita WNI yang 'Terkurung' Covid-19 di Eropa

    Marcheilla Ariesta - 17 Maret 2020 13:33 WIB
    Cerita WNI yang 'Terkurung' Covid-19 di Eropa
    Banyak restoran dan kafe di Italia yang tutup di tengah mewabahnya virus korona covid-19. (Foto: AFP)
    Jakarta: Galliate, provinsi Novara Piemonte, Italia sudah ditutup total (lockdown) pemerintah setempat sejak awal Maret lalu akibat penyebaran virus korona covid-19. Devi Jannatul Ma'wa, perempuan asal Indonesia melaporkan sebanyak 50 warga di areanya tinggal terjangkit virus korona.

    "Saya tinggal di Galliate, semuanya sudah di-lockdown sejak awal Maret. Di area saya tinggal sudah 50 orang terjangkit korona," tutur WNI yang sudah tinggal di Italia sekitar empat tahun tersebut.

    Kepada Medcom.id, Selasa 17 Maret 2020, perempuan 27 tahun tersebut menyampaikan masyarakat di Italia panik, terlebih di tempatnya tinggal. Pasalnya, rata-rata warga yang tinggal di sana merupakan lanjut usia.

    Devi menceritakan semua toko, kecuali apotek dan supermarket besar, ditutup. Kepanikan terjadi karena hanya ada dua supermarket besar di wilayah Novara, dan semua stok bahan belanja habis di hari yang sama.

    "Karena kita tidak boleh keluar kalau tidak ada perlu, masuk supermarket harus mengantre, hanya 20 orang bisa masuk. Dan mereka buka hanya dari pukul 9 pagi hingga jam makan siang," tuturnya.

    Selain itu, lanjut Devi, ketika ada keperluan harus membawa surat yang bernama 'autocertificazione'. Surat ini harus diperlihatkan kepada polisi dan militer yang berada di perbatasan area. Surat itu keluarkan oleh pemerintah Italia dan berlaku di seantero Negeri Menara Pisa tersebut.

    "Kita harus menyetir sendiri, tidak boleh bawa keluarga terlebih anak kecil. Maksimal satu orang yang harus melakukan tugas untuk pergi belanda atau ke apotek. Jika melanggar aturan, kita akan dikenakan denda antara 300 hingga 3.000 euro (sekitar Rp5-50 juta)," seru Devi.

    "Jika membawa anak dalam mobil atau supermarket akan kena larangan dan langsung didenda 500 euro (sekitar Rp8,4 juta)," imbuhnya.

    Kepanikan juga melanda negara tetangga Italia, Swiss. Salah seorang WNI di Jenewa, Sonya Michaella menuturkan kepanikan terlihat di supermarket.

    "Panic buying sudah dimulai sejak Jumat kemarin, dan saya juga ikut melakukannya. Kalau ke supermaket, biasanya stok sudah habis, jadi masyarakat berburu di pusat grosir," ceritanya kepada Medcom.id.

    Barang yang banyak diburu adalah makanan kaleng, tissue, dan pasta. Namun, di beberapa supermarket besar, bahan makanan seperti ayam, daging, dan ikan juga sudah habis.

    Sonya menambahkan, perbatasan Swiss dan Italia di Ticino sudah ditutup. Bahkan saat ini, penutupan sudah terjadi di seluruh wilayah Italia.

    Swiss menutup diri

    Pemerintah Swiss pada Senin kemarin mendeklarasikan 'situasi luar biasa' atas virus korona. Dan telah melembagakan larangan untuk semua acara pribadi dan publik, serta menutup tempat berkumpul seperti restoran.

    "Kami membutuhkan reaksi keras di seluruh negeri dan kami membutuhkannya sekarang. Itu adalah satu-satunya cara untuk mengatasi krisis ini," tutur Presiden Swiss untuk 2020, Simonetta Sommaruga.

    Pemerintah tahu jika penutupan tersebut akan berdampak pada kehidupan sehari-hari masyarakat. Namun, tutur Sommaruga, situasi tersebut bisa menjadi lebih buruk jika lockdown tidak dilakukan, karena mereka berbatasan langsung dengan negara epicenter covid-19 di Benua Biru.

    Di Italia, total pasien terinfeksi korona menjadi 27.980 orang. Jumlah pasien meninggal dunia akibat covid-19 mencapai 2.158 jiwa dengan tambahan 349 kematian baru pada Senin kemarin.

    Jumlah kematian itu yang terbanyak setelah Tiongkok, yang merupakan pusat penyebaran virus korona covid-19. Sedangkan di Swiss, jumlah yang terinfeksi lebih dari 2.200 orang dan hampir 20 orang meninggal dunia.

    Kedua WNI ini berharap agar wabah covid-19 bisa segera berhenti agar kehidupan kembali berjalan seperti biasanya. "Saya berharap ini segera selesai agar warga juga tidak panik. Agar kehidupan kembali normal," tutup Devi.

    Pandemi global

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pekan lalu mendeklarasikan wabah virus korona covid-19 sebagai pandemi global. Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pres di Markas WHO di Jenewa, Swiss mengatakan virus telah merebak ke seluruh benua, kecuali Antartika.

    "Menggambarkan situasi ini sebagai pandemi tidak mengubah penilaian WHO terhadap ancaman yang ditimbulkan oleh virus korona jenis baru. Status ini tidak mengubah langkah yang diambil WHO dan juga tidak mengubah apa yang seharusnya dilakukan negara-negara," tutur Tedros.

    Dia menyebut, jika negara mendeteksi, menguji, merawat, mengisolasi, dan melacak warga mereka yang terinfeksi coronavirus, maka itu dapat mencegah kasus-kasus klaster di sejumlah negara yang tidak terdampak parah wabah tersebut.

    Dia mengatakan bahwa beberapa negara mampu menekan dan mengendalikan wabah. Di lain sisi, Tedros juga menegur para pemimpin dunia yang gagal bertindak cukup cepat atau mengambil langkah drastis demi mencegah penyebaran lebih lanjut.



    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id