Trump Meragukan Data Korban Virus Korona di Tiongkok

    Fajar Nugraha - 02 April 2020 06:54 WIB
    Trump Meragukan Data Korban Virus Korona di Tiongkok
    Presiden Donald Trump ragukan data korban korona dari Tiongkok. Foto: AFP
    Washington: Presiden Donald Trump meragukan keakuratan angka resmi Pemerintah Tiongkok tentang wabah virus korona. Tuduhan yang dikeluarkan pada Rabu 1 April, muncul setelah anggota parlemen AS, mengutip laporan intelijen, menuduh Beijing menutup-nutupi.

    "Bagaimana kita tahu jika mereka akurat. Jumlah mereka tampaknya sedikit di sisi terang,” ujar Trump pada sebuah konferensi pers, seperti dikutip Channel News Asia, Kamis, 2 April 2020.

    Trump menegaskan bahwa "hubungan dengan Tiongkok sangat bagus dan bahwa ia tetap dekat dengan Presiden Xi Jinping”.

    Namun, kontroversi mengenai transparansi Beijing telah memperburuk hubungan AS dan Tiongkok. Kondisi saat ini  menambah penilaian buruk yang dipicu oleh teori konspirasi di Tiongkok bahwa militer AS yang harus disalahkan atas virus tersebut.

    Partai Republik di Kongres, menunjuk pada sebuah laporan oleh Bloomberg mengutip intelijen AS, menyatakan kemarahan bahwa Beijing tampaknya menyesatkan komunitas internasional tentang infeksi dan kematian warga Tiongkok yang dimulai pada akhir 2019 di kota Wuhan.

    “Pelaporan data korban virus korona Tiongkok sengaja tidak lengkap, dengan beberapa pejabat intelijen menggambarkan angka yang dikeluarkan Beijing sebagai palsu,” lapor Bloomberg.

    Sementara Universitas Johns Hopkins mengatakan, Tiongkok secara terbuka melaporkan 82.361 kasus yang dikonfirmasi dan 3.316 kematian pada Rabu.

    Angka tersebut berada di bawah Amerika Serikat dengan 206.207 kasus dan 4.542 kematian. Jumlah ini menjadikan Negeri Paman Sam sebagai negara dengan wabah terbesar yang dilaporkan di dunia.

    Senator Republik Ben Sasse menyerang angka yang dikeluarkan Beijing sebagai ‘propaganda sampah.’

    "Klaim bahwa Amerika Serikat memiliki lebih banyak kematian karena virus korona daripada Tiongkok adalah salah," kata Sasse dalam sebuah pernyataan.

    "Tanpa mengomentari informasi rahasia, ini jelas sangat menyakitkan: Partai Komunis Tiongkok telah berbohong, berbohong, dan akan terus berbohong tentang virus korona untuk melindungi rezim,” tegas Sasse.

    Dalam sebuah pernyataan menanggapi laporan itu, anggota Komite Urusan Luar Negeri DPR AS dari Partai Republik, Michael McCaul mengatakan, “Tiongkok bukan mitra yang dapat dipercaya dalam perang melawan covid-19”.

    "Mereka berbohong kepada dunia tentang penularan virus dari manusia ke manusia, membungkam para dokter dan jurnalis yang mencoba melaporkan kebenaran. Sekarang tampaknya mereka menyembunyikan jumlah orang yang terkena dampak penyakit ini secara akurat," kata McCaul.

    Dia dan anggota parlemen lainnya telah meminta Kementerian Luar Negeri untuk meluncurkan penyelidikan ke dalam apa yang disebutnya penutupan fakta pandemi oleh Tiongkok.

    Pada Selasa seorang anggota gugus tugas koronavirus Trump, dokter Deborah Birx, mengatakan komunitas medis melihat wabah Tiongkok sebagai "serius tetapi lebih kecil dari yang diperkirakan siapa pun karena saya pikir mungkin kita kehilangan sejumlah besar data”.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id