comscore

Pemimpin G7 Serukan Penerapan Sanski Penuh Atas Nuklir Korut

Marcheilla Ariesta - 29 Juni 2022 07:31 WIB
Pemimpin G7 Serukan Penerapan Sanski Penuh Atas Nuklir Korut
G7 desak Korut hentikan program nuklir dan misilnya./AFP
Elmau: Negara-negara G7 menyerukan penerapan penuh sanksi PBB terhadap Korea Utara (Korut) sebagai tanggapan atas pengujian rudal balistiknya yang melanggar hukum. Amerika Serikat (AS) akan membahas target sanksi baru Korut dengan Korea Selatan (Korsel).

Dalam pernyataan bersama yang dirilis setelah pertemuan puncak mereka di Jerman, para pemimpin G7 mendesak Pyongyang untuk meninggalkan program nuklir dan misilnya.
"Kami selanjutnya menyerukan semua negara untuk sepenuhnya dan efektif menerapkan resolusi ini, dan untuk tetap waspada terhadap aktivitas menghindari sanksi," bunyi pernyataan itu, dikutip dari NK News, Rabu, 29 Juni 2022.

"Kami mendesak Korea Utara untuk terlibat dalam diplomasi dan melanjutkan dialog menuju denuklirisasi penuh," lanjut mereka.

Para pemimpin G7 juga menekankan Korea Utara harus segera mengatasi masalah kemanusiaan yang belum terselesaikan, termasuk situasi covid-19 dan penculikan warga negara Jepang di masa lalu.

Baca juga: Korea Utara Rampungkan Perluasan Fasilitas Nuklir

G7 terdiri dari tujuh negara demokrasi paling maju secara ekonomi di dunia — Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan AS. Mereka melakukan pertemuan puncak di Elmau, Jerman sejak 26 Juni lalu.

Pada Selasa kemarin, Gedung Putih mengoonfirmasi rencana perjalanan Menteri Keuangan AS Janet Yellen yang akan datang ke Asia, di mana dia akan mengunjungi Korea Selatan dan membahas sanksi Korea Utara dengan mitranya di sana.  Kementerian Keuangan AS mengumumkan sanksi baru terhadap Korut beberapa kali sejak tahun lalu, termasuk bulan lalu.

"Kami terus mencari target baru, terutama karena Korea Utara menyesuaikan metodenya untuk memperoleh pendapatan secara konstan. Jadi kami harus terus mencari cara untuk memotong sumber pendapatan baru tersebut," ucap Penasihat Keamanan Nasional AS Jake Sullivan kepada wartawan dalam perjalanan ke Madrid untuk menghadiri KTT NATO.

"Dan presiden akan memiliki kesempatan dengan Presiden Yoon dan Perdana Menteri Kishida, membahas apa yang bisa kita lakukan di sisi tekanan ekonomi, terutama ketika datang untuk merampas mata uang Korea Utara yang mereka gunakan untuk mendanai program nuklir dan misil mereka," lanjut dia.

Presiden AS Joe Biden, Presiden Korsel Yoon Suk-yeol dan Perdana Menteri Fumio Kishida dari Jepang, dijadwalkan untuk mengadakan pembicaraan trilateral pada hari ini di sela-sela KTT NATO. Ini jadi pertemuan pertama antara para pemimpin negara sejak 2017.

Agenda lengkap untuk pertemuan mereka tidak diketahui, tetapi pertemuan itu hanya dijadwalkan berlangsung selama 25 menit, kata Kantor Kepresidenan Korea Selatan.

AS dan sekutunya telah mendorong sanksi internasional baru terhadap Korut sebagai tanggapan atas peluncuran rudal yang berulang tahun ini, tetapi mereka menghadapi tentangan dari Tiongkok dan Rusia, yang memveto resolusi sanksi Dewan Keamanan PBB terbaru yang diajukan pada bulan Mei.

Washington juga menuduh Beijing melakukan penegakan yang lemah dari rezim sanksi internasional. Mereka menyerukan Tiongkok untuk menggunakan hubungan ekonomi dan politiknya dengan Pyongyang berdasarkan 'cara yang konstruktif'.

Sementara itu, Presiden Korea Selatan Yoon dan mitranya dari Australia, Anthony Albanese setuju untuk secara ketat menerapkan sanksi ekonomi yang dikenakan pada Korea Utara. Kesepakatan ini didapat selama pertemuan di Madrid.

(FJR)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id