Akademisi AS dan Filantrop Turki Didakwa Terkait Upaya Kudeta

    Willy Haryono - 12 Oktober 2020 22:00 WIB
    Akademisi AS dan Filantrop Turki Didakwa Terkait Upaya Kudeta
    Awak media berdiri di dekat poster Osman Kavala dalam sebuah konferensi pers di Istanbul, Turki, 31 Oktober 2018. (Ozan Kose/AFP/Getty)
    Istanbul: Akademisi asal Amerika Serikat, Henri Barkey dan tokoh masyarakat sipil yang juga tokoh filantropis Turki, Osman Kavala, dituduh terlibat dalam percobaan kudeta di Turki pada 2016. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menuduh upaya kudeta tersebut digerakkan oleh ulama Fethullah Gulen.

    Pengadilan Istanbul pada Kamis kemarin meluncurkan surat dakwaan terhadap Barkey dan juga memerintahkan penahanan kembali Kavala. Keduanya dituduh terlibat dalam upaya kudeta di Turki empat tahun lalu.

    Dilansir dari laman Al Araby, surat dakwaan menuntut Barkey, mantan pejabat Kementerian Luar Negeri AS, dan Osman Kavala, dengan ancaman hukuman seumur hidup. Keduanya dituduh telah melakukan "spionase politik dan militer" serta "mencoba mengubah tatanan konstitusional" Turki.

    Kavala, tokoh masyarakat sipil terkemuka di Turki, dipenjara hampir tiga tahun lalu dan menghadapi sejumlah tuduhan yang dinilai "tidak masuk akal" oleh kelompok Amnesty International.

    Sejak 2016 hingga saat ini, Erdogan terus memburu dan memenjarakan sejumlah tokoh yang diduga terlibat kudeta atau terkait dengan Gulen. Lantas, apa sebenarnya Gulen Movement atau pergerakan Gulen yang hingga saat ini masih ditakuti rezim Erdogan?

    Baca:  Turki Tahan 171 Orang Terkait Ulama Fethullah Gulen

    Di negara asalnya, Turki, Fethullah Gulen bukan hanya dikenal sebagai seorang pemikir dan tokoh pergerakan, tapi juga seorang ulama yang sangat hebat dan banyak pengikut.

    Gulen lahir di Desa Erzurum, Izmir, Turki, pada 1941. Ayahnya, Ramiz Gulen, juga seorang ulama. Sejak kecil Gulen lebih difokuskan pendidikan informalnya di bidang agama Islam dan sejak usia 14 tahun, ia sudah berani memberikan ceramah keagamaan.

    Pada 1959, saat usianya menginjak 18 tahun, Gulen sudah mendapatkan izin menjadi dai. Kariernya sebagai dai dimulai di kota kelahirannya, Izmir. Di kota inilah Gulen mulai memperkenalkan pemikiran-pemikirannya mengenai pendidikan, ilmu pengetahuan, ekonomi, dan keadilan sosial. Di kota ini juga ia mulai membangun basis pengikutnya, yang sebagian besar adalah para siswa sekolah menengah dan perguruan tinggi.

    Menurut Gulen, Turki yang sekuler tidak boleh menghalangi kemajuan umat Islam. Satu hal membuatnya prihatin, yakni Turki yang 99 persen penduduknya Muslim, justru ekonominya sangat lemah. Kondisi itu dilihatnya sejak kecil hingga dewasa. Karena itu, ia berpandangan bahwa salah satu kunci untuk mencapai kemajuan tersebut adalah pendidikan.

    Berangkat dari pemikiran itulah, ia kemudian mengajak para pengikutnya terlibat dalam gerakan Nurcu. Gerakan ini terinspirasi dari pemikiran tokoh cendekiawan Muslim Turki, Said Nursi. Menurut pemikiran Gulen, umat Islam harus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga bisa bersaing dan maju seperti masyarakat Barat.

    Inti gerakan Nurcu adalah hidup berjamaah akan lebih baik daripada hidup secara individual. Ia mengumpamakannya dengan kewajiban mengeluarkan zakat. Dalam Islam, seseorang yang harta bendanya sudah memenuhi kuota tertentu, wajib mengeluarkan zakat. Bila zakat ini secara individual dibayarkan kepada yang berhak, tentunya akan kurang berdaya guna. 

    Namun, bila zakat ini dikelola dengan baik secara jamaah, hasilnya akan sangat berdaya guna, tidak hanya dapat meningkatkan taraf perekonomian, tetapi juga taraf pendidikan masyarakat.

    Buat Gulen, untuk merealisasikan gerakan ini tidak terlalu susah karena dirinya sudah mempunyai jaringan pengikut jutaan orang yang terikat, baik personal maupun ideologi. 

    Tidak mengherankan bila gerakan atau lembaga Gulen kini sudah mempunyai ratusan sekolah dan sejumlah universitas, rumah sakit, radio dan stasiun televisi, kantor berita, bank, perusahaan penerbitan, dan surat kabar di seluruh negara. Institusi-institusi ini melibatkan ribuan orang sukarelawan yang digaji secara profesional. 

    Gerakan Gulen ini kemudian yang menginspirasi banyak pemuka agama dan pemimpin di berbagai negara, yang kemudian meniru prinsip-prinsip gerakan tersebut. Presiden Marywood University, Pennsylvania, Ann Munley memuji gerakan Gulen yang dinilainya telah banyak memberikan kontribusi bagi dunia pendidikan bukan hanya di Turki, tapi juga di seluruh dunia. 

    Munley memandang Gulen sebagai tokoh Islam yang telah memberikan pengorbanan yang besar dalam dunia pendidikan bagi masyarakat dari beragam etnis dan agama.

    Kekaguman terhadap kiprah Gulen dalam bidang pendidikan juga pernah dilontarkan mantan presiden Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid atau yang biasa disapa dengan panggilan Gus Dur. Menurut Gus Dur, dalam mengembangkan sistem pendidikan, bangsa Indonesia harus belajar banyak dari Fethullah Gulen yang lebih menekankan pada pembentukan akhlak yang mulia.

    Sementara itu, menurut peneliti Midle East Institute Professor Anwar Alam, Inti dari Gulen Movement atau hizmet (layanan) adalah gerakan sosial berbasis keyakinan yang mengambil inspirasi dari cita-cita Islam untuk memperkuat tujuan sipil, moral, dan etika Islam. 

    "Tujuannya adalah mentransformasi individu dan masyarakat sedemikian rupa untuk menghasilkan “generasi emas”, yang pada gilirannya memberikan kepemimpinan bagi semua lapisan masyarakat," katanya, dilansir dari situs Gulen Movement pada Minggu, 11 Oktober.

    Tidak seperti gerakan lain, paradigma Hizmet atau layanan, paling efektif dalam mengkonseptualisasikan kombinasi dari koalisi, koordinasi, dan keragaman konvergensi dan pluralisme, perjuangan nasional dan transnasional adalah contoh dari model gerakan akar rumput.

    Asal mula gerakan sosial-sipil yang tampaknya tidak bernama yang kemudian menjadi populer sebagai "Gerakan Gulen" atau "Gerakan Hizmet" berasal dari awal 1970-an di Turki, lanjut penulis buku "For the Sake of Allah: The Origin, Development and Discourse of The Gulen Movement" itu.

    Gerakan ini ingin membawa "kebaikan sosial" di seluruh dunia, yang diwujudkan dalam kegiatan damai seperti mempromosikan dialog antar komunitas, hak asasi manusia, cinta, toleransi, etika, pendidikan, masalah perempuan, dan pengentasan kemiskinan. 

    "Gerakan tersebut telah berhasil membina satu generasi untuk membangun jaringan global lembaga sosial budaya termasuk sekolah, pusat pembinaan, universitas, outlet media, penerbit, rumah sakit, pusat dialog, dan organisasi bantuan," lanjutnya.

    "Mereka mempromosikan nilai-nilai universal, superioritas hukum dan hak asasi manusia bersama dengan kebebasan berkeyakinan, kebebasan beragama dan kebebasan berekspresi," sambungnya.

    Wacana Islam universal Gülen mengabaikan kebutuhan lembaga negara sebagai prasyarat untuk melayani Islam dan kepentingannya. "Sebaliknya, Islam tidak membutuhkan negara untuk bertahan hidup; Di zaman modern ini, masyarakat sipil dapat secara mandiri mempertahankan Islam meskipun Muslim tidak menjadi mayoritas,"ungkap Gulen.

    Kelompok konseptual dan ideologis ini membantu menciptakan dan memperluas visi jaringan transnasional Gerakan Hizmet yang telah memasuki arena global dan membuatnya terlibat dalam perspektif komprehensif tentang tantangan sosial-sipil. Karakter transnasionalnya menjadi semakin kokoh ketika Gulen sendiri pindah ke Amerika Serikat dan secara aktif terlibat dalam mempromosikan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan dengan menginvestasikan upayanya yang kuat untuk mendorong dialog dan perdamaian. 

    Sejak saat itu, tema-tema seperti perdamaian, hak asasi manusia, etika, pluralisme, altruisme, rekonsiliasi, dan dialog telah menempati lebih banyak ruang di pusat agenda Gerakan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang, dan apresiasi, budaya, sejarah, peradaban dan tradisi.

    Tidak seperti banyak gerakan modernis Islam lainnya termasuk Salafisme dan al-Nahdah di Arab, gerakan Aligarh dan Nadwa di India, Gerakan Hizmet bercirikan interaksi dan partisipasi massa di tingkat lokal, nasional, dan transnasional. Interaksi dan partisipasi ini telah menarik ribuan sukarelawan di seluruh dunia dan telah menghasilkan jaringan global dari ribuan lembaga sosial budaya termasuk sekolah, pusat pembinaan, universitas, rumah sakit, pusat dialog, organisasi bantuan, dan lain-lain.

    Jaringan transnasional mereka aktif di global dan lokal. Termasuk jaringan sosial sipil yang telah berlipat ganda, membangun aliansi dengan tokoh sipil nasional dan internasional termasuk lembaga PBB, dan memberikan pengaruh atas pandangan dan tindakan mereka.

    "Hizmet adalah gerakan masyarakat sipil transnasional yang mengajak semua orang untuk berkolaborasi demi mencapai cita-cita kerja yang baik bagi kemanusiaan. Gerakan ini bertujuan untuk memfasilitasi lingkungan di mana semua dapat bekerja sama dalam pluralistik, damai, merangkul semangat kebersamaan dan altruisme sukarela, terlepas dari keyakinan tertentu," kata Profesor Anwar Alam.

    Gerakan ini tidak hanya bertahan, tetapi juga terus berkembang, meski rezim Turki terus menerus memusuhinya setelah Gulen menolak permintaan Presiden Erdogan untuk membebaskannya dari Check and Balance dalam pemerintahan.

    (WIL)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id