Joe Biden Tak Ada Rencana Telepon dengan Putra Mahkota Arab Saudi

    Fajar Nugraha - 15 Februari 2021 18:06 WIB
    Joe Biden Tak Ada Rencana Telepon dengan Putra Mahkota Arab Saudi
    Presiden AS Joe Biden tak berencana telepon Pangeran Mohammed bin Salman. Foto: AFP
    Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden tidak berencana melakukan komunikasi lewat telepon dengan Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman. Hal itu ditegaskan oleh Gedung Putih.

    Biden mengatakan dia bermaksud menjadikan hak asasi manusia sebagai masalah utama dalam hubungan AS-Arab Saudi. Isu tersebut dia janjikan selama kampanye Pemilu Presiden AS 2020.

    Juru Bicara Gedung Putih Jen Psaki mengatakan pada Jumat tidak ada panggilan telepon yang direncanakan ke Pangeran Mohammed bin Salman.

    “Yah, jelas ada tinjauan atas kebijakan kami yang terkait dengan Arab Saudi. Yang saya ketahui tidak ada rencana panggilan telepon," kata Psaki dalam keterangannya, seperti dikutip Al-Jazeera, Senin 15 Februari 2021.

    Psaki sebelumnya mengesampingkan pertanyaan tentang apakah pemerintah akan menjatuhkan sanksi pada Arab Saudi atas pembunuhan kolumnis Washington Post pada 2018, Jamal Khashoggi. Jurnalis itu dibunuh oleh agen Arab Saudi di Gedung Konsulat Kerajaan di Istanbul. Pangeran Salman membantah memerintahkan pembunuhan itu.

    Biden awal bulan ini meluncurkan langkah pertama dalam mengambil garis yang lebih tegas dengan kerajaan. Presiden ke-46 AS itu mengumumkan diakhirinya dukungan Negeri Paman Sam untuk operasi ofensif oleh koalisi militer pimpinan Negeri Petrodolar yang memerangi Pemberontak Houthi di Yaman.

    Tanda-tanda muncul dari Arab Saudi yang sedang mencoba untuk memperbaiki catatan hak asasi manusianya. Aktivis hak perempuan terkemuka Loujain al-Hathloul dibebaskan minggu ini dari penjara Saudi setelah hampir tiga tahun di balik jeruji besi.

    Baca: 3 Tahun Dipenjara, Aktivis Perempuan Arab Saudi Dibebaskan.

    Kelompok hak asasi manusia dan keluarganya mengatakan, dia menjadi sasaran di penjara karena sengatan listrik, waterboarding, cambuk dan kekerasan seksual-tuduhan yang dibantah oleh Arab Saudi.

    Al-Hathloul, yang mendorong untuk mengakhiri larangan perempuan mengemudi di Arab Saudi, dipenjara pada 2018 dan dijatuhi hukuman penjara hampir enam tahun oleh pengadilan pada Desember. Dia bahkan dikenai tuduhan terkait terorisme, dalam kasus yang menuai kecaman internasional.

    Ditahan selama 1.001 hari, dengan masa penahanan pra-sidang dan kurungan isolasi, dia dinyatakan bersalah atas tuduhan termasuk mendorong perubahan, mengejar agenda asing, dan menggunakan internet untuk merusak ketertiban umum.

    Meski dibebaskan, Al-Hathloul akan tetap di bawah kondisi ketat termasuk larangan perjalanan lima tahun dan masa percobaan tiga tahun.

    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id