Inggris Akan Uji Coba Paspor Virus Korona untuk Kerumunan Besar

    Fajar Nugraha - 05 April 2021 20:03 WIB
    Inggris Akan Uji Coba Paspor Virus Korona untuk Kerumunan Besar
    Inggris akan uji coba penggunaan sertifikasi bebas covid-19. Foto: AFP



    London: Inggris dilaporkan berencana untuk menguji 'sertifikasi status virus korona' dalam beberapa minggu ke depan. Sertifikasi ini nantinya akan menentukan apakah orang dapat kembali ke pertemuan massal seperti konser, acara olahraga, dan klub malam atau tidak.

    “Uji coba akan mengumpulkan bukti tentang bagaimana berbagai faktor yang mempengaruhi peristiwa seperti ventilasi dan jarak sosial dapat memungkinkan acara besar untuk dilanjutkan,” mengutip otoritas Inggris, seperti dikutip dari The Hill, Senin 5 April 2021.






    “Orang-orang yang menghadiri acara semacam itu pada April dan Mei perlu menjalani tes virus korona sebelum dan sesudah hadir,” jelasnya.

    Pejabat Inggris juga memeriksa paspor covid-19 yang akan menunjukkan apakah seseorang telah divaksinasi atau tidak. Paspor covid-19 itu juga menentukan apakah warga baru-baru ini melakukan tes covid-19 atau memiliki beberapa bentuk kekebalan terhadap virus baik dari penyakit atau imunisasi.

    Tiket masuk mungkin melibatkan penggunaan aplikasi atau catatan fisik bagi mereka yang tidak memiliki akses ke teknologi.

    Menteri Olahraga Inggris Nigel Huddleston mengatakan kepada wartawan, “pengujian paling awal hampir pasti tidak akan melibatkan elemen sertifikasi apa pun dan sebagai gantinya akan menguji sebelum dan sesudah acara”.

    Sementara Perdana Menteri Inggri Boris Johnson menegaskan pihaknya akan melakukan segala cara untuk memungkinkan pembukaan kembali Negeri Ratu Elizabeth itu sehingga orang dapat kembali mengikuti suatau acara, perjalanan, dan hal-hal lain yang mereka sukai seaman mungkin. Uji coba ini akan memainkan peran penting dalam memungkinkan hal tersebut bisa terjadi.

    Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Inggris telah mengonfirmasi lebih dari 4,3 juta kasus virus korona dan lebih dari 126.000 kematian, menjadikannya sebagai negara Eropa yang paling terkena dampak. Sementara lebih dari 35 juta dosis vaksin virus korona telah diberikan sejauh ini.

    Gagasan tentang paspor virus korona telah menjadi topik perdebatan di AS dengan banyak anggota parlemen Partai Republik menentangnya. Sekretaris Pers Gedung Putih Jen Psaki mengatakan bahwa saat ini tidak ada rencana untuk mandat federal yang mewajibkan individu untuk mendapatkan kredensial vaksin dan tidak akan ada database federal yang terpusat.

    Namun, pekan lalu dilaporkan bahwa Gedung Putih bekerja sama dengan perusahaan swasta untuk mengembangkan standar kredensial vaksin. The Washington Post melaporkan bahwa inisiatif tersebut akan melibatkan aplikasi gratis yang mungkin menampilkan kode yang dapat dipindai mirip dengan yang ada pada boarding pass maskapai.

    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id