Menjawab Tantangan 'Berkelanjutan' pada Industri Kelapa Sawit Indonesia

    Willy Haryono - 07 Juni 2021 09:24 WIB
    Menjawab Tantangan 'Berkelanjutan' pada Industri Kelapa Sawit Indonesia
    Ilustrasi kelapa sawit. (AFP)



    Berlin: Dalam rangka peringatan hari Lingkungan Hidup sedunia pada tanggal 5 Juni, Perhimpunan Eropa untuk Indonesia Maju (PETJ) bekerja sama dengan Earthling Indonesia menggelar kegiatan webinar dengan topik "Menjawab Tantangan 'Sustainability' pada Industri Kelapa Sawit di Indonesia."

    PETJ merupakan sebuah organisasi masyarakat Indonesia di Eropa. PETJ menjadi wadah untuk menampung aspirasi dan inspirasi WNI di Eropa melalui departemen-departemen yang dimiliki, agar dapat mencangkup beberapa bidang seperti ekonomi, teknologi, sosial, politk, HAM, lingkungan hidup dan energi baru dan terbarukan.

     



    Sementara Earthling Indonesia adalah organisasi mahasiswa Indonesia di Jerman yang salah satu kegiatannya adalah menjaga dan meningkatkan kesadaran terhadap perubahan iklim serta mempromosikan tindakan-tindakan nyata yang berkelanjutan di Indonesia (sustainable living). Earthling Indonesia saat ini sudah diakui secara resmi oleh UNESCO.

    Webinar kali ini diikuti sekitar 90 peserta dari Indonesia, serta diaspora Indonesia di benua Amerika dan Eropa. Webinar menghasilkan kesepakatan untuk terus saling bekerja sama dan bersinergi dalam upaya meningkatkan daya saing industri kelapa sawit Indonesia di pasar internasional.

    Saat ini, Indonesia masih merupakan negara produsen kelapa sawit terbesar nomor satu di dunia, menguasai 58 persen pangsa pasar sawit dunia. Referendum Swiss pada tanggal 7 Maret 2021, 51.6 persen rakyat Swiss menyetujui masuknya perjanjian kerja sama mengenai perdagangan minyak sawit dalam IndonesiaEuropean Free Trade Association (EFTA) - Comprehensive Economic Partnership Agreement (IE-CEPA). 

    Ketua Umum PETJ, Ari Manik, menyatakan bahwa ini merupakan angin segar setelah selama beberapa tahun, sawit Indonesia kerap mendapat ancaman dan penolakan di Eropa. Persetujuan ini hadir dengan catatan bahwa produk sawit dari Indonesia harus memenuhi standar lingkungan dan sosial tertentu, salah satunya berkelanjutan, serta harus diakui dunia internasional.

    Baca:  Uni Eropa Sekali Lagi Diminta Adil terhadap Kelapa Sawit Indonesia

    Yuliarti Eckel dari PETJ memaparkan pentingnya mengadopsi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dalam industri kelapa sawit Indonesia, selain untuk menjaga keberterimaan minyak sawit Indonesia di pasar global, tetapi juga untuk kepentingan masa depan keberlangsungan lingkungan hidup Indonesia. Bertindak sebagai moderator, adalah Christiana Streiff Siswijana (Diaspora Indonesia di Swiss sekaligus pemerhati topik kelapa sawit) dan Anindya Athaya Putri (Chairwoman Earthling Indonesia).

    Duta Besar Indonesia untuk Jerman, Arif Havas Oegroseno, menyambut baik inisiatif diaspora dalam membahas dan mencari jawaban atas berbagai persoalan kelapa sawit selama ini. Satu hal yang sangat penting adalah bahwa perlu pemahaman yang sama antara Indonesia dan Uni Eropa.

    Ketua Departemen Lingkungan Hidup PETJ, Husni Suwandhi, sebagai penyelenggara webinar berharap agar para pengusaha sawit tidak hanya mengejar profit, tetapi juga memperhatikan pemeliharaan alam, lingkungan hidup serta kesejahteraan 17 juta pekerja industri sawit dan keluarganya. Apalagi Uni Eropa menuntut pengelolaan produksi kelapa sawit yang memenuhi tuntutan keberlanjutan.

    Narasumber utama, Togar Sitanggang dari WaKa III GAPKI,  mengemukakan beberapa fakta perbandingan sumber-sumber minyak nabati beserta dampak lingkungannya, terutama yang berkaitan dengan deforestasi, penyumbang polutan, penyerapan CO2 maupun produksi Oksigen. Hal yang kerap dihadapi pihak industri adalah banyaknya stigma serta kampanye negatif yang dialamatkan kepada sawit.

    Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji, menekankan pentingnya menegakkan peraturaan-peraturan yang ada di lapangan dengan baik. Contoh yang diberikan adalah saat terjadi kebakaran hutan di perkebunan, Sutarmidji membentuk satuan tugas dan mendirikan menara pandang. Hasilnya, kebakaran hutan menurun drastis.

    Pemerintah daerah merasa terbantu oleh industri sawit, terutama dalam hal ekonomi dan juga penanggulangan kebakaran hutan. Banyak lahan-lahan kawasan hutan yang sebenarnya sudah tidak berhutan dan berpotensi menimbulkan kebakaran hutan. Hal ini disampaikan Bupati Sukamara, Windu Subagio.

    Menutup diskusi, Konjen RI di Frankfurt, Acep Somantri, menekankan pentingnya konsistensi dan sinergi kebijakan serta upaya bersama pemerintah, pengusaha dan masyarakat sipil untuk memajukan industri kelapa sawit yang berkelanjutan guna mendukung keberlangsungan pembangunan nasional dan pencapaian SDGs "sesuai yang kita harapkan bersama demi kelangsungan industri dan generasi penerus kita."

    Webinar ini juga dihadiri beberapa pejabat dan aparat pemerintah, seperti Dubes RI untuk Austria Darmansyah Djumala, KBRI London, KBRI Brussels, KBRI Wina, KJRI Frankfurt, KJRI Hamburg, serta perwakilan organisasi-organisasi lainnya.

    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id