Turki Tegaskan Ikon Keagamaan di Hagia Sophia Tak Akan Diubah

    Willy Haryono - 12 Juli 2020 17:04 WIB
    Turki Tegaskan Ikon Keagamaan di Hagia Sophia Tak Akan Diubah
    Ratusan warga Turki menunaikan ibadah salat di dekat Hagia Sophia di Istanbul, Turki, 10 Juli 2020. (Foto: AFP)
    Ankara: Pemerintah Turki telah mengubah status Hagia Sophia dari museum menjadi masjid pada Jumat 10 Juli. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan, Hagia Sophia dapat digunakan sebagai tempat menunaikan ibadah salat mulai 24 Juli mendatang.

    Ibrahim Kalin, juru bicara kepresidenan Turki, mencoba menjawab berbagai pertanyaan seputar perubahan Hagia Sophia kepada situs berita TRT World dan BBC. Ia menekankan bahwa meski Hagia Sophia diubah, ikon-ikon keagamaan yang ada di dalamnya "tidak akan disentuh" agar bisa disaksikan seluruh umat beragama.

    Kalin mengklaim perubahan status Hagia Sophia ini telah mendapat dukungan dari semua partai politik di Turki.

    "Ada dukungan kuat dan konsensus dalam isu ini. Semua partai politik, partai oposisi, partai republik, semuanya mendukung isu ini," kata Kalin, seperti dilansir oleh situs Yeni Safak, Minggu 12 Juli 2020.

    Menanggapi kekhawatiran sejumlah pihak bahwa Hagia Sophia sebagai warisan budaya dunia akan "hancur" akibat keputusan Turki, Kalin menjawab: "Jika isunya adalah seputar sekularisme atau toleransi beragama, ada lebih dari 400 gereja dan sinagoga yang dibuka di Turki saat ini."

    Melalui Twitter, Kalin mengatakan bahwa semua pengunjung bebas mengakses warisan keagamaan dan budaya di Hagia Sophia, termasuk ikon-ikon dan mosaik keagamaan. Ia menegaskan bahwa klaim sebagian orang yang mengatakan Hagia Sophia akan menjadi situs eksklusif bagi Muslim adalah tidak benar.

    Dibangun 1.500 tahun lalu, Hagia Sophia awalnya adalah sebuah katedral Kristen Ortodoks. Katedral itu kemudian diubah menjadi sebuah masjid usai Ottoman menguasai Konstantinopel (Istanbul) di tahun 1453.

    Memasuki tahun 1934, pendiri Turki modern Mustafa Kemal Ataturk mengubahnya menjadi sebuah museum sebagai bagian dari visi sekulernya.

    Sebelumnya, Direktur Jenderal UNESCO Audrey Azoulay menyayangkan keputusan Turki yang mengubah status Hagia Sophia dari museum menjadi masjid. Perubahan itu disayangkan karena dilakukan sepihak tanpa mendiskusikannya terlebih dahulu dengan UNESCO.
     
    UNESCO menyebut segala bentuk perubahan status Hagia Sophia harus dibicarakan karena situs tersebut merupakan salah satu Warisan Budaya Dunia.

    Dewan Gereja Dunia juga menyerukan Erdogan untuk membatalkan keputusannya yang mengubah museum Hagia Sophia menjadi masjid. Dalam sebuah surat yang ditujukan kepada Erdogan, dewan yang mewakili lebih dari 500 juta pemeluk agama Kristen itu menilai, perubahan Hagia Sophia dapat memupuk perpecahan.

    (WIL)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id