Chile Tunda Referendum Konstitusi di Tengah Krisis Virus Korona

    Arpan Rahman - 20 Maret 2020 11:03 WIB
    Chile Tunda Referendum Konstitusi di Tengah Krisis Virus Korona
    Virus Korona berpusat di Wuhan, Tiongkok dan menyebar sangat cepat. Foto: AFP
    Santiago: Anggota parlemen Chile memilih untuk menunda referendum mengenai konstitusi baru. Karena masalah keamanan seputar wabah coronavirus lebih diutamakan daripada politik.

    Pemungutan suara untuk amandemen konstitusi era Pinochet awalnya akan berlangsung pada 26 April -- tanggal yang diprediksi oleh Menteri Kesehatan Chile akan menjadi puncak wabah virus di negara itu.

    Chile saat ini memiliki 324 kasus yang dikonfirmasi -- jumlah per kapita tertinggi di Amerika Selatan.

    Para anggota parlemen sementara menetapkan tanggal referendum baru untuk 26 Oktober, namun langkah itu masih memerlukan persetujuan formal dengan suara dua pertiga dari kongres.

    "Ini mengirimkan pesan bahwa kesehatan orang Chile adalah prioritas kami," kata Álvaro Elizalde, presiden partai sosialis oposisi setelah pengumuman itu.

    "Kami menghadapi krisis yang mengharuskan kami bertindak secara bertanggung jawab," lanjutnya, dilansir dari Guardian, Jumat, 20 Maret 2020.

    Sebuah konstitusi baru adalah tuntutan utama yang muncul dari protes atas ketimpangan Oktober lalu.  Demonstrasi massal lebih dari 30 orang tewas dan ribuan lainnya luka-luka, serta kerusakan dan kerugian miliaran dolar untuk bisnis.

    Virus korona, dengan cepat meningkatkan prioritas politik di Chile.

    Presiden Sebastian Pinera mengumumkan ‘keadaan bencana’ selama 90 hari untuk menghadapi wabah yang sedang berkembang di Chile, yang mulai berlaku pada Kamis.  Langkah ini memberi pemerintah kekuatan luar biasa untuk membatasi kebebasan bergerak dan memastikan pasokan makanan dan layanan dasar. Militer diizinkan campur tangan dan menegakkan ketertiban bila perlu.

    Beberapa jam kemudian, para pekerja dewan pindah untuk mengeluarkan seni protes dan patung-patung dari alun-alun utama Santiago, Plaza Italia, yang telah menjadi panggung pentas utama bagi demonstrasi tetapi secara bertahap ditinggalkan pekan ini ketika para pengunjuk rasa mulai mematuhi langkah-langkah karantina.

    Operasi pembersihan telah memicu kemarahan. “Sejumlah besar orang mungkin menafsirkan ini sebagai provokasi.  Itu tidak bertanggung jawab -- bahkan bisa memotivasi para pengunjuk rasa untuk kembali ke alun-alun," kata Nico Silva, seorang antropolog sosial yang secara teratur menghadiri protes.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id