Eks Timses Kampanye Akui Lobi Trump Hentikan Penyelidikan 1MDB

    Marcheilla Ariesta - 21 Oktober 2020 20:51 WIB
    Eks Timses Kampanye Akui Lobi Trump Hentikan Penyelidikan 1MDB
    1Malaysia Development Berhad. Foto: AFP.
    Washington: Mantan tim sukses Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam pemilihan presiden 2016, Elliot Broidy mengaku melobi sang presiden untuk menghentikan penyelidikan skandal 1MDB Malaysia. Ia mengungkapkan pengakuan ini dalam persidangan di hadapan Hakim Federal Washington DC, Colleen Kollar-Kotelly.

    Ia juga meminta agar mendeportasi miliarder Tiongkok yang diasingkan.

    Broidy didakwa pada awal Oktober dengan satu tuduhan konspirasi untuk bertindak sebagai agen asing yang tidak terdaftar. Ia diduga setuju mengambil jutaan dolar untuk melobi pemerintahan Trump.

    Ia kala itu menjabat sebagai wakil ketua keuangan nasional Komite Nasional Republik, usai menjadi penggalang dana utama untuk kampanye presiden Trump 2016 yang sukses.

    Surat dakawaan mengatakan Broidy direkrut pada 2017 oleh seorang warga negara asing yang dikenal sebagai Low Taek Jho dari Malaysia. Ia ditugaskan untuk menekan pejabat AS agar mengakhiri penyelidikan mereka atas skandal yang menimpa mantan perdana menteri Malaysia, Najib Razak.

    Skandal tersebut melibatkan pencurian lebih dari USD4,5 miliar dari dana investasi negara 1MDB. Low diduga berperan penting dalam memindahkan dan menyembunyikan sebagian dana yang dicuri tersebut.

    Lobi ini termasuk mencoba mengatur Najib dan Trump bermain golf bersama pada September 2017, untuk memberi pemimpin Malaysia kala itu kesempatan menekan Trump agar mengakhiri penyelidikan AS.

    Namun, permainan golf tidak pernah terjadi, dan Low didakwa pada 2018 atas perannya dalam menyedot miliaran dolar AS dari 1MDB. 

    Pada Mei 2017, Low memperkenalkan Broidy kepada seorang pejabat keamanan senior Tiongkok. Mereka membahas keinginan Beijing agar Washington mendeportasi taipan Tiongkok, Guo Wengui, yang diasingkan.

    Dakwaan terhadap Broidy menunjukkan lobinya yang intens ke Gedung Putih, Departemen Kehakiman dan penegakan hukum atas nama Tiongkok.

    "Kasus ini menunjukkan bagaimana pemerintah dan prinsipal asing berusaha memajukan agenda mereka di Amerika Serikat dengan bersembunyi di balik perwakilan yang berpengaruh secara politik," kata Pelaksana Asisten Jaksa Agung, Brian Rabbitt dalam sebuah pernyataan, dilansir dari AFP, Rabu, 21 Oktober 2020.

    "Perilaku seperti itu merupakan ancaman serius bagi keamanan nasional kita dan merusak integritas demokrasi kita," imbuhnya.

    Broidy menghadapi hukuman maksimal lima tahun penjara dan kehilangan uang sebesar USD6,6 juta yang ia terima dari Low untuk lobi.

    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id