Washington Terapkan Darurat Publik 15 Hari, WNI Diimbau Patuh

    Marcheilla Ariesta - 07 Januari 2021 12:49 WIB
    Washington Terapkan Darurat Publik 15 Hari, WNI Diimbau Patuh
    Pendukung Donald Trump mendobrak masuk ke Gedung Capitol pada 6 Januari 2021. Foto: AFP
    Washington: Seluruh warga negara Indonesia (WNI) di Washington DC, Amerika Serikat diimbau untuk mematuhi perintah otoritas keamanan setempat. Imbauan dikeluarkan KBRI Washington DC lewat media sosial.

    Tetapi dalam perkembangan terbaru Wali Kota Muriel Bowser mengumumkan bahwa dia memperpanjang keadaan darurat publik menjadi 15 hari. Ini berarti darurat publik berlaku hingga satu hari setelah Joe Biden dilantik sebagai Presiden AS.

    Baca: Massa Pendukung Donald Trump Serbu Gedung Kongres, Senat Dievakuasi.

    "Hari ini, Rabu, 6 Januari 2021 (waktu setempat), Wali Kota District of Columbia telah mengeluarkan perintah curfew (jam malam) untuk wilayah DC, berlaku pada Rabu 6 Januari 2021 pukul 18.00 sampai dengan Kamis, 7 Januari 2021 pukul 06.00," kata KBRI Washington DC dalam pernyataannya yang diterima Medcom.id, Kamis, 7 Januari 2021.

    Perintah jam malam tersebut dilaporkan bisa berdampak konsekuensi hukum bagi mereka yang melanggarnya.

    KBRI Washington DC melanjutkan, perintah tersebut tidak berlaku bagi para pekerja esensial. Hal ini termasuk jurnalis yang hendak meliput, atau dalam perjalanan dari atau ke kantornya.

    "Seluruh masyarakat Indonesia diimbau untuk mematuhi perintah tersebut untuk keamanan dan keselamatan masing-masing," imbuh KBRI Washington DC.

    Gedung Kongres AS, Capitol Hill, diserang para pendukung Presiden Donald Trump. Serangan ini menghentikan penghitungan suara pemilu oleh Kongres untuk mengonfirmasi kemenangan Presiden terpilih Joe Biden.

    Sekitar pukul 14:15 siang waktu setempat, ketika DPR dan Senat memperdebatkan langkah faksi Republik untuk membatalkan hasil pemilu, keamanan mendesak Wakil Presiden Mike Pence keluar dari ruang Senat dan gedung Capitol ditutup setelah para demonstran pro-Trump yang marah. Mereka melewati barikade dan menyerang masuk menuju ruangan legislatif.

    Baca: Rusuh di Gedung Kongres AS, Seorang Perempuan Meninggal.

    Wali Kota Browser menambahkan bahwa mengatakan bahwa orang-orang yang menyerbu Capitol, "berusaha mengganggu proses Kongres yang berkaitan dengan penerimaan suara electoral college.”

    “Orang-orang tidak puas dengan putusan pengadilan dan Badan Pemilihan Umum, dan beberapa diperkirakan bisa melanjutkan protes kekerasan mereka hingga ke pelantikan,” tegas Browser.

    Massa pendukung Trump melakukan aksi anarkis setelah sebelumnya Trump hadir di tengah-tengah mereka. Trump kembali menyuarakan kecurangan dalam pemilu 3 November lalu dan mendorong massa untuk menyampaikan protesnya ke Gedung Capitol. Kini Trump dihadapkan pada ancaman dicopot dari jabatannya.

    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id