comscore

Blinken Desak Kemajuan di Sudan Sebelum AS Lanjutkan Aliran Bantuan

Willy Haryono - 23 November 2021 07:01 WIB
Blinken Desak Kemajuan di Sudan Sebelum AS Lanjutkan Aliran Bantuan
Menlu AS Antony Blinken melambaikan tangan ke kamera saat hendak meninggalkan Dakar, Senegal, 20 November 2021. (Andrew Harnik / POOL / AFP)
Washington: Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken melakukan panggilan telepon terpisah dengan Perdana Menteri Sudan Abdalla Hamdok dan pemimpin militer negara tersebut, Jenderal Abdel Fattah al-Burhan, pada Senin, 22 November 2021. Ia berbicara dengan Hamdok dan Burhan terkait perkembangan di Sudan, usai keduanya sepakat untuk melanjutkan proses transisi demokratik pascakudeta bulan lalu.

Hari Minggu kemarin, setelah bernegosiasi selama berpekan-pekan, militer Sudan menerima sebuah perjanjian dan mengembalikan PM Hamdok ke kursi kekuasaan sebagai perdana menteri.
AS mengapresiasi langkah tersebut, namun belum melanjutkan lagi aliran bantuan senilai USD700 miliar ke Sudan.

Merespons perkembangan terkini di Sudan, Blinken mengapresiasi perjanjian yang telah disepakati antara militer Sudan dan PM Hamdok. Namun itu saja belum cukup.

Juru bicara Kemenlu AS Ned Price mengatakan kepada awak media bahwa keputusan seputar bantuan finansial kepada Sudan "akan tergantung sepenuhnya pada apa yang akan terjadi dalam beberapa jam, hari, dan pekan ke depan di sana."

"(Memulihkan kekuasaan sipil di Sudan) adalah langkah pertama," tutur Price, dikutip dari DW.

"Langkah pertama bukanlah langkah terakhir. Kami akan terus mengamati perkembangan di sana. Kami akan terus melihat apakah Sudan kembali ke jalur demokrasi, dan kembalinya perdana menteri bukanlah tahap terakhir," sambung dia.

Hamdok, yang digulingkan militer Sudan pada 25 Oktober lalu, kembali berkuasa untuk memimpin pemerintahan transisi yang terdiri dari jajaran teknokrat selama "periode transisi" hingga pemilihan umum dapat digelar.

Sebelumnya pada Senin kemarin, perjanjian antara Burhan dan PM Hamdok ditentang kubu oposisi dari kelompok pro-demokrasi, yang mendesak agar pemerintahan transisi ini sepenuhnya terdiri dari elemen sipil.

Sempat menjadi pahlawan dalam gerakan menentang kudeta Sudan, PM Hamdok kini dikecam sejumlah demonstran. "Hamdok telah menjual revolusi ini," teriak para pengunjuk rasa.
 
Asosiasi Profesional Sudan (SPA), grup pemimpin unjuk rasa, menyebut perjanjian antara Burhan dan PM Hamdok sebagai sesuatu yang "berbahaya."

 Baca: PM Sudan Abdalla Hamdok Kembali Berkuasa, Aksi Protes Tetap Berlanjut

(WIL)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id