Oposisi Rusia Tuding Ada Kecurangan Di Balik Hasil Pemilihan Parlemen

    Marcheilla Ariesta - 20 September 2021 19:46 WIB
    Oposisi Rusia Tuding Ada Kecurangan Di Balik Hasil Pemilihan Parlemen
    Proses hitung suara pemilihan di Rusia. Foto: AFP.



    Moskow: Oposisi Rusia menuding pihak berwenang melakukan kecurangan karena hasil pemilihan menunjukkan Partai Rusia Bersatu memenangkan suara mayoritas di Parlemen. Partai Rusia Bersatu merupakan partai berkuasa di Negeri Beruang Merah saat ini.

    Pemungutan suara berlangsung selama tiga hari dan berakhir pada Minggu kemarin. Jajak pendapat pra-pemilihan menunjukkan Rusia Bersatu berada pada titik terendah dalam sejarah.

    Namun, partai itu masih mengklaim mayoritas dua pertiga suara di majelis rendah Duma Negara. "Kemenangan ini sangat meyakinkan dan bersih," ucap anggota partai, Andrei Turchak, dilansir dari AFP, Senin, 20 September 2021.

    Baca juga: Partai Putin Bergerak Menuju Kemenangan dalam Pemilu Parlemen Rusia

    Ia mengatakan, partai berhasil merebut 120 kursi dari daftar partai dan 195 kursi mandat tinggal - total 315 dari 450 kursi. Angka ini mengalami penurunan dari kursi yang dimiliki Rusia Bersatu sebelum pemilihan, yakni 334 kursi.

    Namun, angka tersebut masih cukup bagi partai untuk memberlakukan undang-undang utama, termasuk perubahan konstitusi.

    Dengan 85 persen suara yang masuk, Rusia Bersatu unggul dengan 49,76 persen, diikuti Partai Komunis 19,61 persen.

    Bahkan prediksi oleh lembaga survei yang dikelola negara menunjukkan bahwa Rusia Bersatu hanya menang sekitar 30 persen. Juru bicara pengkritik Kremlin  Alexei Navalny yang dipenjara, menyebut hasil itu aneh.

    "Ini benar-benar luar biasa. Saya ingat perasaan pada 2011, ketika mereka mencuri pemilu. Hal yang sama terjadi sekarang," kata juru bicara Navalny, Kira Yarmysh.

    Klaim penipuan yang meluas pada 2011 memicu protes besar yang dipimpin oleh Navalny, yang ditangkap pada Januari dan dipenjara setelah keracunan. Ia menuding Kremlin yang meracuninya.

    Para sekutunya mengatakan pemungutan suara itu dipalsukan dalam skala besar, terutama menunjuk pada penundaan berulang kali dalam merilis hasil pemungutan suara elektronik di Moskow yang bersahabat dengan oposisi.

    Organisasi Navalny dilarang sebagai "ekstremis" menjelang pemilihan dan sekutu utamanya ditangkap atau melarikan diri dan siapa pun yang terkait dengan kelompoknya dilarang mencalonkan diri.

    Tim Navalny telah meminta pendukung oposisi untuk mendukung kandidat lain yang berpotensi mengalahkan Rusia Bersatu. Diharapkan dukungan tersebut memiliki dampak dan menyebabkan Putin turun dari jabatannya.(WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id