Sekutu Dekat Trump Minta Sidang Pemakzulan Dihentikan

    Marcheilla Ariesta - 18 Januari 2021 18:03 WIB
    Sekutu Dekat Trump Minta Sidang Pemakzulan Dihentikan
    Presiden AS Donald Trump menjadi satu-satunya presiden yang dimakzulkan dua kali. Foto: AFP



    Washington: Senator Lindsey Graham meminta pemimpin minoritas Senat, Chuck Schumer untuk menolak proposal pemakzulan Presiden Donald Trump oleh DPR Amerika Serikat (AS). Trump dimakzulkan dengan tuduhan menghasut kekerasan sebagai buntut peristiwa 6 Januari lalu di Gedung Capitol.

    Baca: DPR AS Serahkan Dakwaan Pemakzulan Trump ke Senat.






    "Kami akan menunda tanpa batas waktu," kata Graham yang merupakan sekutu utama Donald Trump.

    "Kewajiban kami kepada masyarakat yang kami wakili sudah jelas. Sejarah akan menilai kita dengan keras," imbuh dia, dilansir dari Politico, Senin, 18 Januari 2021.

    Surat Graham datang saat Senat menunggu pasal pemakzulan yang disahkan DPR dengan dukungan 10 anggota Republik pekan lalu. Persidangan pemakzulan akan dimulai sampai setelah Presiden terpilih Joe Biden dilantik pada Rabu mendatang.

    Graham berpendapat para pemimpin politik yang terlibat dalam serangan 6 Januari di Capitol akan dimintai pertanggungjawaban. Trump selama hampir 3 bulan terakhir mengklaim dicurangi oleh hasil pemilihan presiden 3 November lalu.

    Sejumlah anggota Kongres dari Partai Republik mendukung klaim tak berdasar Trump. Mereka juga berupaya membatalkan hasil pemilu 2020 dan menyetujui untuk menentang sertifikasi kemenangan Biden oleh Kongres.

    Saat itulah massa pendukung Trump menyerbu Capitol dan melakukan kekerasan. Sebanyak lima orang tewas, dan puluhan lain terluka dalam insiden yang memicu kekhawatiran keamanan di Capitol.

    "Anda sebagai pemimpin mayoritas, daripada memulai penyembuhan nasional, malah membalas dendam dengan pembalasan politik. Padahal Wakil Presiden dan Senat Partai Republik menolak tindakan inkonstitusional tersebut," kata Graham dalam suratnya untuk Schumer.

    "Tindakan pemakzulan seperti ini merupakan tindakan inkonstitusional, ini memalukan,"
    tegasnya.



    • Halaman :
    • 1
    • 2
    Read All




    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id