Aktivitas Gunung Berapi di Islandia Meningkat

    Arpan Rahman - 12 April 2020 11:59 WIB
    Aktivitas Gunung Berapi di Islandia Meningkat
    Asap dan abu vulkanik menyembur dari gunung berapi Grimsvotn di Islandia. (Foto: AFP)
    Reykjavik: Aktivitas vulkanik di wilayah Islandia terus meningkat sejak akhir Januari 2020. Sejumlah ilmuwan khawatir jika letusan terjadi, maka dapat memicu gangguan terhadap kehidupan masyarakat sekitar selama bertahun-tahun, bahkan hitungan abad.

    Sejak 21 Januari, semenanjung Reykjanes di barat daya ibu kota Islandia, Reykjavik, telah mengalami lebih dari 8.000 gempa bumi. Tidak hanya itu, daratan di wilayah tersebut juga naik sekitar 10 sentimeter akibat terjadinya intrusi magma di bawah tanah.

    "Kelihatannya setelah tidak aktif selama berabad-abad, kawasan ini mulai 'bangun' dari tidurnya," kata Dave McGarvie, seorang ahli vulkanologi dari Universitas Lancaster.

    Berlokasi dekat kota Grindavik dan situs wisata Blue Lagoon, wilayah tersebut terakhir kali mengalami letusan sekitar 800 tahun lalu. Bukti geologi memperlihatkan bahwa area tersebut dikelilingi lima sistem vulkanik, yang diduga mulai bangun secara bertahap setiap 1.000 tahun sekali.

    Periode terakhir aktivitas vulkanik di semenanjung Reykjanes terjadi di abad ke-10 dan berlanjut hingga abad ke-13. Berbeda dengan gunung berapi lainnya di Islandia, yang biasanya 'bangun' dan kemudian tertidur kembali, kawasan Reykjanes dapat menghasilkan erupsi berkelanjutan hingga 300 tahun.

    Erupsi berkelanjutan yang diiringi aliran lava di semenanjung Reykjanes terakhir kali terjadi antara 1210 dan 1240. Jika kejadian seperti itu terjadi saat ini, maka Iceland GeoSurvey telah mengkalkulasikan bahwa landasan pacu di bandara Keflavik dapat tertutup abu vulkanik setebal 2 cm, yang otomatis menghentikan semua penerbangan.

    "Arah angin saat menyemburnya abu vulkanik merupakan faktor penting. Peristiwa ini akan memicu masalah bagi penerbangan internasional dan juga untuk kehidupan masyarakat di area metropolitan Reykjavik," tutur McGarvie.

    "Skenario terburuknya adalah jika lava mengalir ke kota Grindavik," sebut Kristin Jondottir dari Badan Meteorologi Islandia.

    "Terdapat sejumlah infrastruktur penting di kota tersebut, termasuk pembangkit listrik tenaga panas bumi. Pasokan air panas dan dingin untuk warga berpotensi terancam, begitu juga dengan kondisi jalan raya, termasuk yang menghubungkan Reykjavik dengan bandara Keflavik," pungkasnya.

    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id