Kim Jong-un Tertawakan Donald Trump

    Fajar Nugraha - 22 Juni 2020 16:06 WIB
    Kim Jong-un Tertawakan Donald Trump
    Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un. Foto: AFP
    Washington: Mantan Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat (AS) John Bolton mengatakan bahwa pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un ‘tertawa keras’ atas persepsi rekan Presiden Donald Trump tentang hubungan mereka.

    Baca: Mantan Penasihat Keamanan Tak Dukung Trump Maupun Biden.

    Bolton berbicara dengan ABC News untuk wawancara pertamanya menjelang perilisan bukunya yang dijadwalkan pada Selasa 23 Juni. Buku itu berisi banyak tuduhan memberatkan terhadap Trump.

    Ketika wartawan Martha Raddatz bertanya apakah Trump "benar-benar percaya Kim Jong-un menghargainya," Bolton menjawab ia tidak bisa melihat penjelasan lain.

    "Aku pikir Kim Jong-un tertawa terbahak-bahak karena ini," kata Bolton, seperti dikutip AFP, Senin, 22 Juni 2020.

    "Surat-surat (dari Kim Jong-un) yang telah ditunjukkan presiden kepada pers, ditulis oleh beberapa pejabat di kantor propaganda Partai Pekerja Korea Utara,” jelasnya.

    "Namun, presiden telah memandang mereka sebagai bukti persahabatan yang mendalam ini. Persahabatan tidak berarti dalam diplomasi internasional,” tegas Bolton.

    Bolton juga mengatakan dia tidak menganggap Trump cocok untuk menjabat dan berharap dia adalah presiden satu periode.

    "Saya berharap (sejarah) akan mengingatnya sebagai presiden satu masa yang menjerumuskan negara ke dalam kerusakan yang tidak dapat kita ingat. Kita bisa melupakan satu periode pemerintahannya,” ucap Bolton.

    Bolton menambahkan bahwa ia tidak akan memilih Trump atau Demokrat Joe Biden baik dalam pemilihan presiden November. Sebaliknya, ia akan "mencari seorang Republik konservatif untuk ikut serta dalam pemilu”.

    Pemerintahan Trump telah berusaha untuk menghentikan penerbitan buku Bolton, tetapi seorang hakim AS pada Sabtu menolak untuk memblokir rilisnya. Hakim mengatakan, sudah terlambat untuk mengeluarkan perintah pemblokiran buku.

    Buku Bolton juga dengan tajam mengkritik Presiden Korea Selatan Moon Jae-in karena perannya dalam KTT Donald Trump dan Kim Jong-un.

    Pihak  Moon pada Senin menuduh Bolton memutarbalikkan fakta, membahayakan pembicaraan di masa depan, dan melanggar ‘prinsip-prinsip dasar diplomatik.’

    Jeritan terakhir


    Buku ‘The Room Where It Happened’ adalah potret peran Bolton yang menjabat sebagai penasihat keamanan Trump selama 17 bulan, hingga ia dipecat September lalu.

    Dalam wawancaranya, Bolton mengatakan dia telah mengundurkan diri. ‘Jeritan terakhir’ baginya adalah ketika Trump mengundang Taliban ke Camp David selama negosiasi damai Afghanistan.

    Buku Bolton, yang digambarkan Trump sebagai ‘fiksi’, menggambarkan presiden ‘memohon’ kepada Presiden Tiongkok Xi Jinping selama negosiasi perdagangan untuk meningkatkan peluangnya untuk terpilih kembali sebagai Presiden AS.

    Baik anggota parlemen dari Partai Republik dan Demokrat telah mengkritik Bolton karena menerbitkan bukunya. Mereka mengatakan Bolton seharusnya tampil memberi kesaksian selama proses pemakzulan terhadap Trump tengah berjalan.

    Ketua Komite Intelijen DPR AS dari Partai Demokrat, Adam Schiff mengatakan kepada NBC 'Meet the Press' pada Minggu sebelumnya bahwa ‘Bolton mendakwa dirinya sendiri, untuk tindakan pengecut dan untuk keserakahan’. Ini terlihat dari caranya menyampaikan tuduhan dalam sebuah buku alih-alih bersaksi di depan sidang pemakzulan.

    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id