Tentara Italia Bantu Krematorium Tangani Korban Korona

    Arpan Rahman - 20 Maret 2020 16:08 WIB
    Tentara Italia Bantu Krematorium Tangani Korban Korona
    Warga Italia yang direpatriari dari Wuhan, Tiongkok menjalani proses karantina di selatan Roma. Foto: AFP
    Bergamo: Kota Bergamo, Italia, salah satu yang paling parah dilanda wabah virus korona. Kota ini harus memindahkan mayat ke luar kota saat krematoriumnya berkutat untuk menangani kematian demi kematian.

    Kendaraan militer telah dibawa untuk memindahkan puluhan peti mati dari Bergamo ke daerah lain. Sementara Milan, di wilayah Lombardy Italia, telah mencatat sedikitnya 93 kematian terkait virus corona ketika kasus terus naik tanpa henti.

    Itu terjadi ketika Italia mencatat lebih banyak kematian akibat virus daripada Tiongkok, yaitu 3.405 -- naik 427 pada  Rabu.

    Wali Kota Bergamo, Giorgio Gori, mengatakan jumlah sebenarnya kematian terkait bisa lebih tinggi karena banyak orang dengan gejala COVID-19 telah meninggal sebelum diuji.

    "Krematorium Bergamo, yang bekerja dengan kapasitas penuh, 24 jam sehari, dapat mengkremasi 25 orang meninggal", kata seorang juru bicara pemerintah setempat.

    "Jelas bahwa itu tidak bisa bertahan dengan jumlah beberapa hari terakhir," tambahnya kepada kantor berita Ansa, dikutip dari Sky News, Jumat 20 Maret 2020.

    Peti mati sekarang dibawa ke krematorium di Modena, Acqui Terme, Domodossola, Parma, Piacenza, dan beberapa kota lainnya.

    Setelah mayat dikremasi, abunya akan dibawa kembali ke Bergamo. Wartawan menyaksikan dua pemakaman per jam, selama enam jam, pada Senin.

    Banyak orang yang meninggal tidak dapat mengadakan pemakaman karena permintaan terlalu tinggi, dan sebaliknya mereka dibawa ke sebuah kapel di dalam sebuah gereja lalu dikuburkan.

    Kerabat diizinkan memasuki pemakaman untuk memberi penghormatan, tetapi hanya dalam jumlah terbatas dan dengan jumlah jarak yang disarankan antara satu sama lain untuk mencegah penyebaran virus.

    Sementara itu, berita kematian harian surat kabar lokal telah meningkat dari dua atau tiga halaman menjadi 10. Awal bulan ini, Dr Daniele Macchini, seorang dokter yang bekerja di rumah sakit Bergamo mengeluarkan peringatan bahwa "pesan bahaya dari apa yang terjadi" tidak menjangkau orang.

    "Perang benar-benar meledak dan pertempuran tidak berhenti siang dan malam," cetusnya.

    Italia adalah negara yang paling terpukul di luar Tiongkok, dengan Lombardy sebagai wilayah yang paling parah terkena dampaknya.

    Negara ini telah terkunci total sejak 9 Maret, namun para ahli mengatakan puncak penyebaran di Italia mungkin tidak akan tiba hingga pertengahan April di utara.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id