Vaksin Eksperimental Covid-19 Bentuk Antibodi di Tubuh Relawan

    Willy Haryono - 19 Mei 2020 08:22 WIB
    Vaksin Eksperimental Covid-19 Bentuk Antibodi di Tubuh Relawan
    Ilustrasi vaksin. (Foto: AFP)
    Washington: Data awal dari uji klinis sebuah vaksin eksperimental covid-19 menunjukkan hasil menjanjikan. Vaksin buatan perusahaan Moderna Inc. itu terbukti membentuk antibodi protektif di tubuh delapan relawan.

    Dikutip dari CBC, Selasa 19 Mei 2020, munculnya antibodi terlihat di delapan relawan yang menjalani uji klinis vaksin covid-19 sejak Maret lalu. Vaksin buatan Moderna merupakan satu dari sekitar 100 yang tengah dikembangkan di berbagai belahan dunia.

    Vaksin mRNA buatan Moderna menggunakan material genetik asam nukleat dari covid-19. Asam tersebut memberitahu tubuh manusia cara membuat protein yang menyerupai protein virus, dan hal tersebut diyakini dapat memicu respons imunitas.

    Secara umum, studi Moderna menunjukkan bahwa vaksin mRNA aman bagi manusia dan juga membentuk antibodi di tubuh semua relawan.

    Sebuah analisis respons dari delapan relawan memperlihatkan bahwa antibodi terbentuk di tubuh individu yang menerima vaksin mRNA dengan dosis antara 25 dan 100 mikrogram. Level antibodi dalam tubuh 8 relawan Moderna melampaui jumlah yang terkandung dalam darah pasien sembuh covid-19.

    "Ini merupakan temuan signifikan, namun baru berada dalam Fase 1 yang hanya melibatkan delapan orang," kata Dr Amesh Adalja, seorang pakar penyakit menular dari Johns Hopkins Center for Health Security, yang tidak terlibat dalam studi.

    "(Tes Moderna) didesain untuk keselamatan, bukan keampuhan," sebut Adalja. Namun ia menegaskan bahwa uji klinis Moderna telah memberikan secercah harapan dalam pengembangan vaksin covid-19.

    "Apa yang kita lihat saat ini merupakan sebuah kabar gembira," tutur Adalja.

    Stephen Evans, seorang profesor dari London School of Hygiene & Tropical Medicine, mengatakan bahwa Fase 1 uji klinis Moderna memang bertujuan untuk memperlihatkan bahwa vaksin tersebut "mampu memicu respons antibodi." Seperti Adalja, ia juga tidak terlibat dalam uji klinis tersebut.

    "Tes tersebut tidak ditujukan untuk memperlihatkan keampuhan dalam mengurangi atau mencegah munculnya covid-19. Kita tidak bisa berasumsi vaksin itu efektif dengan hanya melihat dari hasil saat ini. Jadi, merupakan hal penting untuk tidak membesar-besarkan hasil ini," lanjut Evans.

    Berdasarkan data Universitas Johns Hopkins pada Selasa ini, total kasus covid-19 di kancah global telah melampaui 4,7 juta dengan 318 ribu lebih kematian dan 1.784.714 pasien sembuh.

    Informasi lengkap tentang perkembangan penanganan pandemi covid-19 bisa langsung diakses di sini (https://www.medcom.id/corona).



    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id