Armenia dan Azerbaijan Sepakati Gencatan Senjata Temporer

    Willy Haryono - 10 Oktober 2020 09:38 WIB
    Armenia dan Azerbaijan Sepakati Gencatan Senjata Temporer
    Menlu Rusia Sergey Lavrov (tengah) dalam dialog damai konflik Armenia dan Azerbaijan di Moskow, Jumat 9 Oktober 2020. (Facebook/Maria Zakharova)
    Moskow: Armenia dan Azerbaijan menyepakati gencatan senjata temporer di wilayah sengketa Nagorno-Karabakh. Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengumumkan perjanjian itu usai berlangsungnya dialog selama 10 jam di Moskow.

    "Kedua negara sekarang akan memulai dialog substantif," kata Lavrov, dilansir dari laman BBC pada Sabtu, 10 Oktober 2020.

    Lebih dari 300 orang tewas dan ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal usai Armenia dan Azerbaijan kembali berseteru pada 27 September mendatang. Melalui gencatan senjata sementara itu, semua serangan akan dihentikan mulai Sabtu siang.

    Selama berlangsungnya gencatan senjata, Armenia dan Azerbaijan dapat bertukar tahanan atau mengevakuasi sejumlah jasad korban tewas.

    Nagorno-Karabakh dikuasai etnis Armenia meski diakui komunitas internasional sebagai bagian dari Azerbaijan. Armenia dan Azerbaijan, dua pecahan Uni Soviet, sama-sama saling menyalahkan atas konflik terbaru di Nagorno-Karabakh.

    Rusia memiliki pangkalan militer di Armenia, dan keduanya adalah anggota dari aliansi Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (CSTO). Namun, Moskow menjalin hubungan baik dengan Azerbaijan.

    Jumat kemarin, Kementerian Pertahanan Armenia mengatakan pertempuran di Nagorno-Karabakh berlangsung sepanjang hari, meski dialog damai sedang berlangsung di Moskow.

    Satu hari sebelumnya, Armenia menuding Azerbaijan secara sengaja merusak katedral historis di Nagorno-Karabakh. Sejumlah foto memperlihatkan kerusakan serius di gereja Holy Saviour Cathedral di kota Shusha (atau disebut Shushi di Armenia).

    Di waktu yang sama, Azerbaijan mengatakan kota kedua terbesar mereka, Ganja, dan juga wilayah Goranboy, telah diserang pasukan Armenia. Baku mengklaim setidaknya satu warga sipil tewas dalam serangan.

    Berbicara kepada BBC pekan ini, Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan mengingatkan potensi terjadinya "genosida" di kawasan.

    Menurut keterangan otoritas Nagorno-Karabakh, sekitar 70 ribu orang menjadi telantar usai meletusnya konflik terbaru. Kota utama di Nagorno-Karabakh, Stepanakert, mengalami banyak kerusakan dalam pertempuran Armenia dan Azerbaijan ini.

    Armenia dan Azerbaijan pernah berperang memperebutkan Nagorno-Karabakh pada 1988-1994, dan sempat mendeklarasikan gencatan senjata. Namun, mereka tidak pernah menyelesaikan konflik tersebut dengan perjanjian damai.

    Baca:  Erdogan Incar Posisi Dunia Melalui Konflik Armenia-Azerbaijan

    (WIL)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id