Polisi Belarusia Diizinkan Gunakan Senjata Mematikan

    Willy Haryono - 13 Oktober 2020 07:45 WIB
    Polisi Belarusia Diizinkan Gunakan Senjata Mematikan
    Seorang polisi berargumen dengan sekelompok warga usia pensiun di Minsk, Belarusia pada Senin, 12 Oktober 2020. (AFP)
    Minsk: Kepolisian Belarusia telah mendapat izin untuk menggunakan senjata mematikan terhadap demonstran jika memang diperlukan, ucap seorang pejabat senior di negara tersebut. Menurutnya, izin ini dikeluarkan dalam merespons aksi protes yang dinilai semakin tak terkendali.

    Demonstrasi masif di Belarusia dimulai sejak Presiden Alexander Lukashenko mengklaim kemenangan mutlak dalam pemilihan umum pada Agustus lalu. Kubu oposisi menilai Lukashenko telah berbuat curang, dan mendesaknya untuk segera mundur dari kursi kepala negara.

    Lukashenko dituding menggunakan pendekatan represif dalam menangani gelombang protes. Sejak dimulai Agustus lalu hingga kini, ratusan orang dari kubu oposisi mengaku telah disiksa dan juga dijebloskan ke penjara.

    Senin kemarin, Kementerian Dalam Negeri Belarusia mengonfirmasi bahwa jajaran kepolisian menggunakan granat kejut dan juga gas air mata dalam aksi protes tak berizin di Minsk. Dalam aksi protes terbaru ini, sekelompok besar warga usia pensiun ikut turun ke jalan.

    "Langkah tersebut diambil usai warga mulai memperlihatkan sikap agresif," kata juru bicara Kemendagri Belarusia, disitat dari laman BBC pada Selasa, 13 Oktober 2020. Sejumlah pedemo dilaporkan telah ditangkap dalam demonstrasi terbaru.

    Merujuk pada unjuk rasa di Minsk pada Minggu, 11 Oktober, Wakil Menteri Dalam Negeri Gennady Kazakevich mengatakan bahwa sebagian pengunjuk rasa "telah menjadi sangat radikal." Ia menyebut, aksi protes kini lebih berpusat di wilayah ibu kota.

    Pada Senin petang, sekelompok pedemo melemparkan batu dan botol ke arah petugas. Beberapa dari mereka juga terlihat membawa pisau dan benda tajam lainnya.

    Kazakevich mengatakan, para pengunjuk rasa berkumpul di beberapa bangunan dan membangun barikade serta membakar ban pada malam hari. "Ini sudah tidak ada lagi hubungannya dengan aksi protes sipil. Kami tidak hanya menghadapi agresi, tapi juga sekelompok militan, radikalis, dan anarkis," ucap Kazakevich dalam sebuah pesan video.

    "Mewakili Kemendagri, saya menegaskan bahwa kami akan menjamin penegakan hukum di negara ini. Personel keamanan dan pasukan dalam negeri akan menggunakan peralatan khusus, dan juga senjata mematikan jika memang diperlukan," sambungnya.

    (WIL)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id