Penangkapan Pelaku Kerusuhan Gedung Capitol Berlanjut

    Willy Haryono - 10 Januari 2021 09:54 WIB
    Penangkapan Pelaku Kerusuhan Gedung Capitol Berlanjut
    Jacob Anthony Chansley menerobos masuk Gedung Capitol pada Rabu, 6 Januari 2021. (Saul Loeb/AFP/Getty)
    Washington: Otoritas Amerika Serikat terus menangkap para pelaku kerusuhan yang menerobos masuk Gedung Capitol di Washington DC pada Rabu kemarin. Kerusuhan dipicu kedatangan sekelompok massa pendukung petahana Donald Trump yang ingin menggagalkan proses sertifikasi kemenangan presiden terpilih Joe Biden.

    Salah satu penangkapan dilakukan terhadap seorang pria yang tertangkap kamera sedang membawa podium pidato milik Ketua Dewan Perwakilan Rakyat AS Nancy Pelosi.

    "Adam Johnson, pria 36 tahun asal Florida, didakwa atas pelanggaran berdiam di zona terlarang tanpa izin, pencurian properti pemerintah, dan menerobos masuk area Capitol," ungkap laporan media CNN pada Sabtu, 9 Januari 2021, mengutip keterangan dari kantor kejaksaan AS.

    Usai ditangkap, Johnson telah dikirim ke penjara Pinellas County Jail.

    Satu pria lainnya yang telah ditangkap adalah Richard Barnett. Ia adalah pria yang sempat memasuki kantor Pelosi dan menaruh kakinya di salah satu meja di ruangan tersebut. Tidak hanya itu, Barnett juga mengambil sebuah amplop surat milik Pelosi.

    Baca:  FBI Tangkap Pendukung Trump yang Duduk di Kantor Ketua DPR

    Juru bicara Departemen Hukum AS Joshua Stueve mengonfirmasi kepada Anadolu Agency bahwa Barnett ditangkap di Arkansas. Ia didakwa satu pasal memasuki area terlarang, menerobos masuk area Capitol, dan mencuri properti publik.

    Foto Barnett sempat viral di media sosial, yang memicu kecaman luas dari sejumlah pihak.

    Satu individu lainnya yang didakwa atas kerusuhan di Gedung Capitol adalah Jacob Anthony Chansley, atau dikenal sebagai Jake Angeli. Ia adalah pria yang datang ke Gedung Capitol dengan memakai topi bulu yang dilangkapi tanduk dan membawa sebuah tombak.

    Chansley mengidentifikasi dirinya sebagai dukun dari QAnon, sebuah kelompok gerakan teori konspirasi.

    Sementara itu, Trump berpotensi menghadapi upaya pemakzulan kali kedua pada Senin mendatang. Trump dinilai bertanggung jawab atas kerusuhan di Gedung Capitol, karena ia menyebut para pelaku kerusuhan sebagai "patriot."

    Atas keterlibatannya itu, Twitter sempat mengunci akun Trump selama 12 jam, sebelum akhirnya ditutup secara permanen.

    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id