Uni Eropa Bersatu Bela Presiden Prancis dari Kecaman Erdogan

    Fajar Nugraha - 27 Oktober 2020 18:26 WIB
    Uni Eropa Bersatu Bela Presiden Prancis dari Kecaman Erdogan
    Presiden Prancis Emmanuel Macron dibela oleh Uni Eropa terkait ketegangan dengan Erdogan. Foto: AFP
    Brussels: Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri Uni Eropa Josep Borrell mengecam komentar yang dibuat oleh Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. Ini terkait ucapan Erdogan yang mempertanyakan kesehatan mental Presiden Prancis Emmanuel Macron karena kebijakan Paris terhadap Islam dan Muslim.

    “Kata-kata Presiden @RTErdogan terkait dengan Presiden @Emmanuel Macron tidak dapat diterima. Serukan Turki untuk menghentikan spiral konfrontasi yang berbahaya ini,” tulis Borrell dalam sebuah posting Twitter pada Minggu.

    Baca: Imbas Kartun Nabi, Prancis Peringatkan Warganya di Indonesia Terkait Ancaman.

    Dia juga merujuk pada kesimpulan KTT UE terbaru, di mana kepala negara dan pemerintah blok tersebut menawarkan Turki kesempatan untuk mendukung dialog. Borrell juga menyerukan Ankara untuk tidak melakukan tindakan sepihak dan ilegal di Mediterania Timur.

    "Kesimpulan dari Dewan Eropa memerlukan tawaran nyata untuk meluncurkan kembali hubungan kami, tetapi kemauan politik diperlukan dari pihak otoritas Turki dalam agenda positif ini," kata Borrell dalam tweet lain, menambahkan bahwa: "Jika tidak, Turki akan lebih terisolasi. "

    Menggemakan pandangan kepala kebijakan luar negeri blok itu, Presiden Komisi Ursula von der Leyen menulis dalam tweet: "Kami berdiri di sisi Prancis setelah serangan teroris yang menewaskan Samuel Paty."

    Menjanjikan dukungannya kepada Presiden Prancis dan "perjuangannya melawan ekstremisme Islam," Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas pada Senin menggambarkan serangan verbal dari Erdogan sangat rendahan.

    "Siapapun yang hanya menyamakan masalah nyata ini dengan rasisme dan Islamofobia, bertindak tidak bertanggung jawab dan bermain-main dengan mereka yang ingin memecah belah masyarakat kita," tegas Maas, seperti dikutip AFP, Selasa 27 Oktober 2020.

    Pada Sabtu, Presiden Turki melakukan serangan pribadi terhadap Macron, menyarankan agar dia menjalani pemeriksaan mental, karena "masalahnya dengan Islam”. Ucapan itu yang mendorong Prancis memanggil duta besarnya dari Turki untuk berkonsultasi.

    “Apa masalah Macron dengan Islam? Apa masalahnya dengan Muslim ?," kata Erdogan dalam sebuah televisi di pusat kota Anatolia Kayseri.

    "Dia membutuhkan pemeriksaan mental," tambahnya.

    Sementara Istana Kepresidenan Prancis berkomentar bahwa ucapan Presiden Erdogan tidak bisa diterima. Pihaknya juga menuntut agar Erdogan mengubah arah kebijakannya karena berbahaya dalam segala hal.

    Kedua anggota NATO itu berselisih mengenai sejumlah masalah, termasuk hak maritim di Mediterania Timur, situasi di Libya yang dilanda perang, Suriah dan sekarang konflik yang meningkat antara Armenia dan Azerbaijan atas Nagorno-Karabakh.

    Namun, yang memicu komentar terbaru Ankara adalah janji Macron untuk melawan Islamisme radikal, sebuah keputusan yang diulangi setelah pembunuhan Samuel Paty, seorang guru sejarah yang dipenggal oleh seorang pengungsi Chechnya kelahiran Moskow. Paty terbunuh memperlihatkan kartun Nabi Muhammad selama kelas atas dasar kebebasan berbicara.


    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id