AS Kembali Gabung dengan Dewan HAM PBB Usai 3,5 Tahun Keluar

    Medcom - 14 Oktober 2021 19:05 WIB
    AS Kembali Gabung dengan Dewan HAM PBB Usai 3,5 Tahun Keluar
    Amerika Serikat kembali gabung Dewan HAM PBB. Foto: AFP



    Washington: Amerika Serikat (AS) disebut kembali bergabung ke Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). AS sebelumnya keluar dari lembaga itu selama tiga setengah tahun yang dramatis.

    Majelis Umum PBB memilih anggota baru badan hak tinggi PBB pada Kamis, 14 Oktober 2021. Sejumlah negara memulai masa jabatan dewan tiga tahun mereka mulai 1 Januari lalu.

    Meskipun begitu, berbagai negara anggota dipilih dalam pemungutan suara rahasia. Pemilihannya adalah non-kontes, dengan 18 negara kandidat memperebutkan 18 kursi. Dewan tersebut bertugas memperkuat pemajuan dan perlindungan hak asasi manusia di seluruh dunia, menangani pelanggaran, dan membuat rekomendasi. 

    Pada 2018, AS di bawah kepemimpinan mantan Presiden Donald Trump disebut keluar dari Dewan HAM PBB. Trump menuduhnya munafik dan obsesi untuk melecehkan Israel. Kepergian AS ini pun dimanfaatkan oleh Tiongkok untuk menegaskan pengaruh yang lebih luas.

    Namun, saat Washington kembali dibawah kekuasaan Presiden AS, Joe Biden, ia akan berhadapan langsung dengan Tiongkok yang berani mengambil keuntungan dari ketidakhadiran AS.

    “Orang Tiongkok dan semua orang yang secara fundamental menentang hak asasi manusia seperti yang dipahami orang Eropa menentang hak-hak ekonomi, sosial dan budaya. Ini bukan tren baru, tetapi tidak dapat disangkal tumbuh lebih kuat,” kata seorang diplomat Eropa kepada AFP.

    Sedangkan, menurut yang lain, “Tujuan Tiongkok sederhana: untuk menghancurkan konsep universalitas hak asasi manusia dan untuk menegaskan visi yang konsisten dengan sistem politiknya”.

    Dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok dan mitranya, termasuk Belarusia dan Venezuela, disebut telah mengeluarkan pernyataan bersama yang mendukung tindakan Beijing di Hong Kong, Xinjiang dan Tibet, dan mengecam “pelanggaran hak asasi manusia” di sejumlah negara Barat, termasuk terhadap penduduk asli Kanada.

    Mereka dihadapkan dengan polarisasi yang berkembang, beberapa orang khawatir kembalinya Washington akan memperkuat tren dan melihat dewan didominasi oleh persaingan pro-AS dan pro-Tiongkok.

    Direktur Eksekutif Universal Rights Group di Jenewa, Marc Limon mengatakan, "AS pada dasarnya hanya berfokus pada satu hal, yaitu Tiongkok."

    "Ini khususnya sejak terlibat kembali dengan dewan tersebut awal tahun ini sebagai pengamat," imbuhnya.

    Limon menjelaskan, sejumlah serangan tersebut dan pembalasan Tiongkok yang menghisap oksigen dari semua pekerjaan penting Dewan HAM PBB lainnya, “Banyak negara muak, karena mereka tidak ingin melihat sistem multilateral disandera oleh permainan kekuatan geopolitik besar ini.”

    Limon pun mendesak AS untuk memperluas fokusnya guna  memenangkan kembali dukungan dari negara-negara berkembang yang telah bersikap hangat terhadap Tiongkok selama ketidakhadiran AS.

    Duta Besar Tiongkok untuk PBB di Jenewa, Chen Xu, mengatakan, berharap Washington akan “melakukan dialog yang konstruktif dan mencoba untuk tidak menjadikan hak asasi manusia sebagai kendaraan politik”, setelah kembali ke dewan. Hal ini disampaikan pada Rabu, 13 Oktober 2021. (Nadia Ayu Soraya)(FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id