Sudan Menunggu Indonesia Datang Berinvestasi

    Fajar Nugraha - 11 Januari 2019 19:51 WIB
    Sudan Menunggu Indonesia Datang Berinvestasi
    Duta Besar Sudan untuk Indonesia Elsiddieg Abdulaziz Abdalla. (Foto: Fajar Nugraha/Medcom.id).
    Jakarta: Afrika merupakan pasar non-tradisional yang menjadi perhatian Pemerintah Indonesia. Sudan menjadi salah satu negara yang memiliki potensi besar bagi pengusaha Indonesia.

    Duta Besar Sudan untuk Indonesia Elsiddieg Abdulaziz Abdalla mengakui Indonesia sebagai salah satu kekuatan ekonomi di dunia. Status keanggotaan di G20 dan berada di peringkat delapan ekonomi dunia, bagi Dubes Abdalla menilai Indonesia harus tersebar dalam hal investasi di dunia.
    “Tahun ini saya baca bahwa Indonesia akan lebih fokus di Afrika. Saya tidak ingin bilang telat. Tetapi lebih baik telat daripada tidak sama sekali,” ujar Dubes Abdalla, saat ditemui wartawan di Kantor Kedutaan Sudan, di Jakarta, Jumat, 11 Januari 2019.

    “Suka atau tidak suka, Afrika masih perawan. Pasarnya besar dan sumber dayanya pun luas. Beberapa kali saya dengar Presiden (Joko Widodo) mendorong rakyat Indonesia untuk pergi ke Afrika,” kata Dubes Abdalla.

    Baca juga: 9 Kebijakan Hasil IAF 2018 untuk Diterapkan Indonesia dan Afrika.

    Abdalla selalu mempertanyakan kenapa orang kerap merasa keberatan untuk pergi ke Afrika. Selama ini Indonesia punya modalnya, punya sumber daya dan Afrika bisa menjadi pasarnya. Dirinya pun menyayangkan ketika dia mencari data investasi Indonesia di Sudan, tidak ada catatan yang bisa ditemukan.

    Berkaitan dengan Indonesia, Dubes Abdalla menginginkan kerja sama lebih besar dengan pihak pemerintah. Ini dikarenakan cara Indonesia berbeda dengan Amerika Serikat (AS) ataupun negara Barat lain yang menggunakan politik dalam mengupayakan investasi.

    “Jika dengan negara lain seperti Amerika, mereka berbicara politik terlebih dahulu baru berbicara bisnis. Jika mereka meminta sesuatu dan kami tidak melakukannya, maka akan ada sanksi. Dengan Indonesia tidak ada hal itu. Tidak ada tekanan,” ujarnya.

    “Kami lihat hubungan Indonesia dengan negara lain sangat mudah. Karena itu kami sangat menerima para investor Indonesia menanamkan modalnya di Sudan. Ada banyak peluang,” Abdalla menambahkan.

    Tetapi Abdalla mengingatkan perlunya riset yang memadai mengenai Afrika, khususnya Sudan. Ini yang sangat penting untuk melaporkan apa yang dimiliki Sudan agar pengusaha Indonesia bisa menanamkan modalnya di negara yang pecah dengan Sudan Selatan itu.

    Beberapa sektor yang punya peluang besar bagi Indonesia melakukan investasi. Salah satunya menurut Dubes Abdalla adalah eksplorasi minyak bumi. Pertamina menurut Dubes Abdalla sempat berniat untuk berinvestasi, tetapi Dubes Abdalla melihat untuk saat ini Pertamina tengah menyelesaikan masalah di tubuhnya sendiri.

    Satu hal lain yang mungkin membuat Pertamina mundur berinvestasi dari Sudan adalah sanksi yang dijatuhkan AS kepada Sudan di saat masa konflik saudara. Namun sanksi tersebut sudah dicabut dan pihak Sudan kini menunggu Pertamina untuk masuk dan melakukan investasi di Sudan.

    Sektor lain yang menjadi tawaran besar agar pengusaha Indonesia berinvestasi di Sudan adalah emas dan termasuk juga sektor agrikultur. “Indonesia punya kemampuan dari segi sumber daya manusia dan mesin, datanglah ke Sudan dan berinvestasi. Pertamina adalah salah satu pilihan besar untuk memulai hubungan menguntungkan dengan Sudan,” tegasnya.

    Satu perusahaan Indonesia yang juga tengah membuka peluang di Sudan adalah Salim Grup. Dubes Abdalla mengatakan, selama dua tahun terakhir tengah melakukan negosiasi dengan Salim Grup dalam sektor agrikultur.

    Menurut Dubes Abdalla, Salim Grup bermaksud untuk membeli lahan yang akan ditanami gandum sebagai bahan baku mie. Mie itu akan dipasarkan di wilayah Afrika untuk memperluas pasar mereka.

    Sudan Menunggu Indonesia Datang Berinvestasi
    Duta Besar Sudan untuk Indonesia Elsiddieg Abdulaziz Abdalla. (Foto: Fajar Nugraha/Medcom.id).


    Pesawat, kereta dan mobil

    Transportasi menjadi perhatian dari Dubes Abdalla. Melihat Indonesia yang saat ini bisa memproduksi pesawat, kereta dan mobil, Dubes melihat ini sebuah peluang yang bagus untuk dikembangkan.

    Salah satu kelebihan Sudan adalah, negara tetangga mereka dikeliilingi oleh daratan. Mulai dari Chad, Sudan Selatan, Ethiopia dan Afrika Tengah berbatasan langsung dengan Sudan. Keberadaan pelabuhan Sudan bisa menjadi kelebihan karena dapat dijadikan pintu bagi investor Indonesia ke empat negara tetangga Sudan, selain Sudan sendiri.

    Infrastruktur pun bisa menjadi peluang tempat Indonesia untuk berinvestasi. Sebagai salah satu negara dengan rel kereta terpanjang, tentunya Sudan merupakan sebuah peluang. Bahkan Sudan memiliki rel dari Laut Merah hingga keempat negara tetangganya.

    “Kami menunggu Indonesia untuk datang. Datang dan berinvestasilah,” jelasnya.

    “Untuk apa kami membeli pesawat dari Amerika, kalau kami bisa membelinya dari kalian (Indonesia). Kami bersedia untuk menggunakan kereta kalian atau bahkan mobil yang sudah kalian buat dan ekspor. Kalian memiliki kemampuan itu,” tutur Dubes Abdalla.

    Tetapi memang menurut Abdalla masih ada peraturan yang tetap diikuti. Ini bagi Abdalla sama seperti halnya di negara lain dan paling penting adalah berinvestasi di Sudan.

    Faktor keamanan

    Salah satu isu yang membuat banyak pihak berat untuk melakukan investasi di Afrika pada umumnya adalah faktor keamanan. Tetapi Dubes Abdalla menampik hal tersebut.

    “Masalahnya apakahnya Indonesia memiliki perwakilan kantor berita di Sudan? Tidak ada. Banyak pihak yang bergantung kepada media Barat mainstream untuk mencari tahu mengenai Sudan. Salah satu target dari media Barat ini adalah menciptakan citra buruk mengenai Afrika, agar kompetitor negara-negara itu tidak datang ke Afrika,” sebutnya.

    Ini adalah menurut Dubes Abdalla menjadi media memberikan fakta yang beredar di negaranya. Hal tersebut juga berlaku mengenai kabar stabilitas politik di Sudan.

    “Di seluruh Afrika dan tidak hanya Sudan, selalu ada kesulitan. Tetapi dengan adanya kesulitan itu, tidak berarti sebuah negara akan runtuh. Kami merasakan kesulitan ketika pemisahan Sudan Selatan. Itu sulit bagi kami, hampir 70 persen sumber minyak kini dikuasai Sudan Selatan. Ini membuat perekenomian kami mengalami kesulitan,” ujarnya.

    “Tetapi dengan kesulitan itu, kami berupaya keras untuk memperbaikinya. Ini hidup ada naik turunnya. Kami kini tengah melakukan perbaikan di sektor perminyakan. Untuk emas, kami memiliki cadangan yang besar. Untuk itu kami berniat mengurus cadangan emas ini dengan baik,” sebut Dubes Abdalla.

    Terlepas dari hal tersebut, Dubes Abdalla mengakui masih diperlukan banyak perbaikan dalam sektor keamanan. Luasnya wilayah Sudan, membuat pihak berwenang kesulitan menghadapi kejahatan yang terjadi. Selain itu, luasnya perbatasan Sudan dengan negara lain juga mengkontribusi masalah bagi negara itu.

    Dubes Abdalla kembali menegaskan masalah di negaranya saat ini bukan politik, tetapi ekonomi. Sektor ekonomi ini yang ingin mereka genjot terutama dengan Indonesia agar bisa berkembang.

    Indonesia di Afrika

    Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Retno Marsudi dalam Pernyataan Pers Tahunan Menteri (PPTM) 9 Januari 2019 menyebutkan kembali pentingnya Afrika untuk masa depan Indonesia.

    Setelah kesuksesan Indonesia-Africa Forum pada 2018, pada 2019 ini Pemerintah Indonesia menurut Menlu Retno akan membuka inisiatif baru.

    “Di tahun 2019, Indonesia akan juga menggagas beberapa inisiatif, antara lain: Indonesia-Africa Infrastructure Dialogue,” ujar Menlu Retno Marsudi.

    Indonesia-Africa Infrastructure Dialogue pada Agustus 2019 yang direncanakan pada Agustus 2019, merupakan kelanjutan Indonesia-Africa Forum 2018 di Bali, April lalu.

    Baca juga: Tantangan Indonesia Mengubah Mindset soal Afrika.

    Hingga saat ini menurut Direktur Kerja Sama Afrika Kementerian Luar Negeri Daniel Tumpal Simanjuntak, pendekatan Indonesia ke negara-negara Afrika mendapat hasil positif. Dari penyelenggaraan IAF saja menurutnya sudah ada kesepakatan bisnis senilai USD586,56 juta atau setara dengan Rp8,5 triliun.

    Kini hal yang harus dilakukan pemerintah adalah melakukan edukasi mengenai Afrika, khususnya untuk kelas menengah. Selain itu, badan usaha milik negara (BUMN) dan beberapa perusahaan swasta Indonesia juga masih melihat negara-negara di Afrika dengan sebelah mata.

    Pelajaran dari tahun 2017 hingga 2018 menurut Daniel menunjukkan outbond investment Indonesia ke Afrika bukan capital outflow. Namun, perusahaan-perusahaan Indonesia bisa mendapat devisa dan sumber dana internasional untuk kepentingan perusahaan tersebut.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id