Menjaga Tahanan ISIS Bukan Lagi Prioritas Kurdi

    Arpan Rahman - 13 Oktober 2019 18:07 WIB
    Menjaga Tahanan ISIS Bukan Lagi Prioritas Kurdi
    Asap hitam terlihat di kejauhan dari arah kota Ras al-Ain, Suriah, 12 Oktober 2019. (Foto: AFP)
    Ras al-Ain: Militer Kurdi mengatakan bahwa menjaga tahanan kelompok militan Islamic State (ISIS) di sejumlah penjara di Suriah bukan lagi "prioritas" utama. Pernyataan disampaikan saat invasi Turki ke Suriah memasuki hari kelima pada Sabtu 12 Oktober 2019.

    Komandan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) mengatakan bahwa milisi Kurdi yang selama ini menjaga penjara berisi tahanan ISIS akan dikerahkan untuk melawan personel militer Turki.

    "Penjagaan di penjara ISIS bukan lagi prioritas," kata komandan tersebut, disitat dari UPI.

    "Pertahanan di tanah kami akan menjadi prioritas utama jika militer Turki melanjutkan serangan mereka," lanjutnya.

    Juru bicara SDF Mustafa Bali mengatakan kepada media Rudaw bahwa sejumlah penjara di Suriah menampung sekitar 12 ribu tahanan ISIS. Sementara 90 ribu anggota keluarga mereka ditempatkan di sejumlah kamp.

    Menurut Bali, para tahanan ISIS dapat diibaratkan seperti "bom waktu" yang sewaktu-waktu dapat 'meledak' dan melancarkan serangan. "Kami tidak tahu kapan mereka akan meledak. Tapi, ini sudah bukan tanggung jawab kami lagi," ucap dia.

    "Saat ini kami sedang menghadapi serangan genosida, yang bertujuan mengubah demografi dan menghapus seluruh Kurdi. Oleh karena itu, tugas utama kami adalah melindungi rakyat, perbatasan dan tanah Kurdi," tambah Bali, merujuk pada invasi Turki.

    Turki memulai invasi ke Suriah pada Rabu 9 Oktober, usai Preside Amerika Serikat Donald Trump menarik sejumlah pasukan AS dari wilayah perbatasan. Turki memandang penarikan pasukan sebagai "lampu hijau" untuk melancarkan serangan.

    Bagi Turki, Unit Perlindungan Rakyat Kurdi atau YPG yang tergabung dalam SDF adalah teroris. YPG dianggap sebagai perpanjangan tangan dari Partai Pekerja Kurdi (PKK), grup yang telah melancarkan pemberontakan di Turki selama bertahun-tahun.

    Berbeda dengan Turki, YPG dan SDF adalah mitra utama AS dalam memerangi ISIS di Suriah. Langkah penarikan pasukan AS dari perbatasan Suriah telah memicu gelombang kecaman terhadap Trump.

    Sementara itu, prajurit Turki dan milisi pro-Ankara terus melanjutkan serangan mereka ke sebuah kota yang dikuasai pasukan Kurdi di Suriah, Sabtu 12 Oktober 2019. Invasi terus dilanjutkan di tengah gelombang protes dari komunitas internasional dan ancaman sanksi AS.
     
    Setelah sempat bertempur dengan pasukan Kurdi di wilayah pedesaan di Suriah utara, pasukan Turki dan para sekutunya mulai memasuki kota Ras al-Ain.
     
    Kementerian Pertahanan Turki mengumumkan bahwa pasukannya telah berhasil merebut kota pertama milik Kurdi di hari keempat invasi ke Suriah. Namun pasukan Kurdi membantah kota Ras al-Ain telah jatuh ke tangan Turki.



    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id