Penampungan Pengungsi Suriah di Lebanon Terbakar

    Antara - 03 Juli 2017 01:51 WIB
    Penampungan Pengungsi Suriah di Lebanon Terbakar
    Ilustrasi kebakaran -- Foto: Antara
    medcom.id, Lebanon: Sebuah kebakaran besar melanda penampungan pengungsi Suriah di Lembah Bekaa, Lebanon, pada Minggu malam 2 Juli 2017. Sedikitnya tiga orang tewas dalam kebakaran tersebut.

    Dilansir dari Reuters, api dan awan tebal asap hitam terlihat naik dari lokasi di dekat kota Qab Elias, sekitar satu jam perjalanan ke arah timur Beirut, dan satu ledakan terlihat dalam rekaman oleh MTV Lebanon.

    Sumber keamanan mengatakan, penyebab kebakaran belum diketahui. Lebanon menjadi tuan rumah bagi 1 juta orang Suriah yang terdaftar sebagai pengungsi. Banyak dari mereka tinggal di pemukiman tenda informal yang tersebar di seluruh negeri.

    Sebelumnya, hampir setengah juta warga Suriah kembali ke rumah mereka sepanjang tahun ini, termasuk 440.000 pengungsi dalam negeri dan lebih dari 31.000 orang kembali dari negara tetangga, kata badan pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR).

    Sebagian besar dari mereka kembali ke Aleppo, Hama, Homs dan Damaskus, kata UNHCR, dengan pertimbangan bahwa keamanan meningkat di beberapa bagian negara ini.

    "Ini adalah tren yang signifikan dan sejumlah besar, sebagian besar orang ini kembali untuk memeriksa properti, untuk mencari tahu tentang anggota keluarga. Mereka punya persepsi sendiri tentang situasi keamanan, nyata atau perbaikan di daerah tempat mereka kembali," kata Juru bicara UNHCR Andrej Mahecic pada sebuah konferensi pers di Jenewa.

    Sementara itu, pekan ini Amerika Serikat meminta Damaskus membatalkan rencana serangan kimia, tudingan didasarkan atas informasi intelijen terkait persiapan di lapangan terbang Suriah. Rusia, pendukung utama pemerintahan Presiden Suriah Bashar al Assad, langsung menanggapi dengan mengecam tudingan itu.

    Juru bicara Pentagon, Kapten Jeff Davis, mengatakan bahwa pihaknya menerima informasi tentang kegiatan di lapangan terbang Shayrat, yang menjadi sasaran serangan peluru kendali Amerika Serikat pada 6 April.

    "Persiapan itu melibatkan pesawat di hanggar khusus, yang kami tahu sering digunakan untuk persenjataan kimia," kata Davis.

    Sebelumnya, Gedung Putih mengatakan, pemerintah Suriah menyiapkan serangan kimia dan mengancam Bashar akan membayar harga mahal jika mewujudkan rencana itu.

    Pada April, Amerika Serikat menyerang lapangan udara Shayrat dua hari setelah 87 orang tewas akibat sebuah serangan gas beracun di wilayah gerilyawan. Suriah membantah telah melakukan serangan itu.

    "Saya tidak mengetahui adanya informasi mengenai ancaman serangan senjata kimia," kata juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, kepada sejumlah wartawan.

    Sejumlah pejabat Rusia sendiri menyebut perang di Suriah sebagai sumber ketegangan utama antara Moskow dengan Washington. Serangan rudal pada April, yang diperintahkan secara langsung oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, telah menaikkan risiko konfrontasi dua negara.



    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id