Ilmuwan Lintas Negara Berlomba Kembangkan Vaksin Korona

    Arpan Rahman - 10 Februari 2020 06:00 WIB
    Ilmuwan Lintas Negara Berlomba Kembangkan Vaksin Korona
    Virus korona nCoV menewaskan hampir 100 orang per hari di Tiongkok sejak pertama kali muncul di akhir 2019. (Foto: AFP/File/STR)
    Queensland: Sejumlah ilmuwan dari berbagai negara, mulai dari Amerika Serikat hingga ke Australia, bertekad mengembangkan sebuah vaksin baru untuk menangani penyebaran virus korona tipe Novel Coronavirus (2019-nCoV). Hingga hari ini, Minggu 9 Februari 2020, total kematian akibat virus korona mencapai 813 orang.

    Virus korona nCoV telah menyebar dengan cepat ke puluhan negara sejak pertama kali muncul di Tiongkok akhir tahun lalu. Virus korona varian baru ini telah menginfeksi lebih dari 37 ribu orang di banyak negara.

    Membuat vaksin baru biasanya menghabiskan waktu bertahun-tahun karena melibatkan proses yang cukup panjang. Berbagai proses itu di antaranya tes terhadap hewan, uji coba klinis dan persetujuan dari otoritas kesehatan.

    Namun sejumlah tim ilmuwan berusaha mengembangkan vaksin baru dengan cepat demi mengakhiri ancaman virus korona nCoV. Sejumlah ilmuwan asal Australia berharap vaksin baru korona ini dapat selesai dalam kurun waktu enam bulan.

    "Ini merupakan situasi bertekanan tinggi, dan kami merasa ada beban berat yang harus kami pikul," kata peneliti senior Keith Chappell, bagian dari grup asal University of Queensland.

    Meski memikul beban berat, Chappell sekaligus merasa senang karena ada sejumlah tim ilmuwan lain di luar sana yang juga berusaha membuat vaksin korona.

    "Harapannya adalah, salah satu tim dapat sukses (membuat vaksin) dan mengakhiri wabah ini," ungkapnya, dilansir dari laman AFP, Minggu 9 Februari 2020.

    Kurun waktu enam bulan yang ditargetkan University of Queensland terasa masih begitu lama, karena virus korona nCoV menewaskan hampir 100 orang per hari di Tiongkok. Sebagian besar kematian akibat virus korona berada di Negeri Tirai Bambu, dengan dua lainnya masing-masing di Filipina dan Hong Kong.

    Upaya menciptakan vaksin korona dipimpin oleh Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI), sebuah badan yang didirikan pada 2017 untuk mendanai riset bioteknologi. CEPI dibentuk usai munculnya wabah Ebola di Afrika Barat yang menewaskan lebih dari 11 ribu orang.

    Dengan misi mempercepat pengembangan vaksin korona, CEPI menggelontorkan jutaan dolar ke empat proyek yang tersebar di seluruh dunia. CEPI juga menyerukan agar para ilmuwan lain di luar sana untuk mengajukan proposal pengembangan vaksin korona.



    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id