Iran Meradang Dituduh Serang Tanker Minyak di Teluk Oman

    Arpan Rahman - 30 Mei 2019 19:10 WIB
    Iran Meradang Dituduh Serang Tanker Minyak di Teluk Oman
    Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat (AS) John Bolton tuduh Iran di balik serangan kapal tanker di laut Uni Emirat Arab. (Foto: AFP).
    Abu Dhabi: John Bolton, penasihat keamanan nasional Amerika Serikat, menyalahkan Iran atas sabotase empat kapal tanker minyak di Uni Emirat Arab. Iran pun meradang dengan tuduhan itu.

    Baca juga: AS Tuduh Iran di Balik Serangan Tanker Arab Saudi.

    Pernyataan Bolton itu mengancam ketegangan ulang dengan Teheran. Khususnya setelah beberapa pekan pemerintahan Trump mencampuradukkan ancaman dengan pernyataan yang mengecilkan kemungkinan konflik AS-Iran.

    Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran lekas menepisnya tuduhan konyol.

    “Pernyataan Bolton melampaui Menteri Luar Negeri AS  Mike Pompeo, yang mengatakan pekan lalu bahwa ‘sangat mungkin’ Iran bertanggung jawab atas serangan sabotase,” tegas pihak Iran, seperti dikutip AFP, Kamis, 30 Mei 2019.

    Iran berupaya melawan tekanan AS tanpa memprovokasi Washington. Tetapi timbul kemarahan di Teheran kepada Arab Saudi dan UEA, yang dianggap mendorong pemerintahan Trump untuk menghukum Iran.

    Presiden Iran Hassan Rouhani berkata pada Rabu bahwa pintu tidak tertutup untuk negosiasi dengan AS jika itu menunjukkan "dalam praktik" dapat mematuhi "keadilan dan hukum" dalam berurusan dengan Iran.

    Penasihat keamanan nasional AS itu mengatakan pasukan khusus Amerika berkontribusi dalam penyelidikan insiden tersebut, yang merusak kapal Arab Saudi, UEA, dan Norwegia. UEA belum secara terbuka menyalahkan Iran atas serangan tersebut.

    Bolton menyebut aksi serangan terkait dua insiden lain selama tiga pekan terakhir: serangan pesawat tak berawak pada pipa Saudi yang diklaim milisi Yaman Houthi sekutu Iran dan sebuah roket ditembakkan ke sebuah taman dekat Kedutaan AS di Baghdad. Sebuah serangan yang sebelumnya tidak dilaporkan, gagal di pelabuhan Yandu di Saudi Arabia, yang terjadi beberapa hari sebelum sabotase kapal tanker, mungkin atau tidak terkait insiden lain.

    Awal bulan ini, Gedung Putih mengatakan AS mengirim armada serangan kapal induk dan pengebom B-52 ke Timur Tengah setelah intelijen melaporkan Iran mungkin siap menyerbu pasukan Amerika. Pekan lalu, Presiden AS Donald Trump mengatakan AS akan menyebarkan 1.500 tentara tambahan ke kawasan.

    Bolton katakan, Pasukan Penjaga Revolusi Iran di luar negeri Pasukan Quds, dan pemimpinnya Qasem Soleimani, memanfaatkan sejumlah kelompok milisi Syiah di Irak guna secara tidak langsung menyerang fasilitas-fasilitas diplomatik AS di negara tersebut.

    Keempat serangan itu konsisten dengan intelijen AS yang mendorong penyebaran lebih banyak pasukan AS di kawasan.

    Bolton menguraikan, Iran tidak punya alasan melanggar batas uranium yang diperkaya dan cairan berat yang disepakati sebagai bagian dari perjanjian nuklir dengan kekuatan global. Kecuali jika itu menjadi bagian dari upaya mengulur waktu buat memproduksi senjata nuklir.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id