Anak Mantan PM Aljazair Meninggal dalam Unjuk Rasa

    Arpan Rahman - 03 Maret 2019 14:47 WIB
    Anak Mantan PM Aljazair Meninggal dalam Unjuk Rasa
    Warga Aljazair kesal karena Presiden Bouteflika sudah berkuasa selama empat periode. (Foto: AFP)
    Aljir: Anak dari perdana menteri pertama Aljazair meninggal dunia saat ikut serta dalam aksi protes menentang Presiden Abdelaziz Bouteflika di Aljir. Menteri Dalam Negeri Aljazair Noureddine Bedoui mengonfirmasi bahwa pria bernama Hassan Benkhedda tewas dalam demonstrasi.

    Hassan adalah anak dari Benyoucef Benkhedda, yang berkuasa di Aljazair usai negara tersebut menyatakan merdeka dari Prancis pada 1962. Unjuk rasa yang diikuti Hassan adalah gerakan menentang Presiden Bouteflika, yang hendak memperpanjang masa kekuasaannya ke periode kelima.

    "Investigasi medis serta forensik akan mengklarifikasi penyebab kematiannya," kata Mendagri Noureddin di Twitter, seperti dilansir dari laman Al Jazeera, Sabtu 2 Maret 2019.

    Menurut keterangan Mendagri Noureddin, Hassan tewas dalam bentrokan antara kepolisian Aljazair dengan "sekelompok orang tak dikenal" yang tidak ada hubungannya dengan aksi unjuk rasa menentang Presiden Bouteflika. Keluarga korban menilai pernyataan tersebut keliru.

    Salim Benkhedda, saudara dari Hassan, mengatakan bahwa korban mengikuti aksi protes di dekat istana kepresidenan di Aljir pada Jumat 1 Maret. Ia menyebut Hassan tewas akibat aksi kekerasan yang dilakukan "geng penguasa dan para orang-orang suruhan" Bouteflika.

    Kematian Hassan adalah kali pertama terjadi dalam aksi protes menentang Bouteflika yang dimulai lebih dari sepekan lalu. Banyak warga Aljazair menilai Bouteflika sudah tidak lagi fit untuk menjadi presiden.

    Bouteflika mengidap stroke pada 2013 dan sudah jarang tampil di publik sejak saat itu. Namun manajer kampanye Bouteflika mengatakan petahana akan melayangkan dokumen pencalonan dirinya hari ini, Minggu 3 Maret, untuk pemilihan umum mendatang yang digelar pada 18 April.

    Dalam aksi protes di Aljazair pada Jumat kemarin, polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan sekitar 200 demonstran muda yang berkumpul dekat istana kepresidenan di Aljir. Menurut data kepolisian, 56 aparat dan tujuh pengunjuk rasa terluka dalam bentrokan di Aljir. Petugas juga melakukan 45 penangkapan terhadap para pedemo di wilayah ibu kota. 

    Sejumlah saksi mata melihat ada beberapa orang yang terluka akibat dipukul tongkat polisi, terkena gas air mata atau bebatuan yang dilemparkan kembali ke arah demonstran oleh aparat.

    Baca: Puluhan Ribu Warga Aljazair Menentang Presiden Bouteflika

    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id