Emosi Menyelimuti Pemakaman Pilot Ethiopian Airlines

    Arpan Rahman - 14 Maret 2019 18:13 WIB
    Emosi Menyelimuti Pemakaman Pilot Ethiopian Airlines
    Salah seorang kerabat dari keluarga penumpang di lokasi jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines. (Foto: AFP).
    Addis Ababa: Rasa emosional mewarnai kepergian Kapten Yared Getecho, tatkala dua pilot mengungkapkan kesulitan mengendalikan pesawat Boeing 737 MAX.

    Mereka datang untuk memberi penghormatan kepada Yared Getecho, mendiang 29 tahun, Kapten pilot Ethiopian Airlines dengan nomor penerbangan 302.

    Dia mengendalikan pesawat Boeing 737 MAX 8 yang sangat mutakhir ketika jatuh enam menit dalam perjalanannya dari Addis Ababa ke Nairobi. Para pelayat berpakaian hitam dan terdengar isak tangis dan sesekali ratapan dari mereka.

    Baca juga: Boeing Akhirnya Menangguhkan 737 Max.

    Kapten Getecho digambarkan sebagai pendiam tapi ramah. Seorang pilot ulung yang menjiwai apa yang dia kerjakan. Setelah sekitar satu jam, ayah pilot, Dr. Getachew Tessema, tiba dan duduk diam di depan aula.

    Sejumlah kecil orang bangkit untuk berpidato, memuji teman dan kolega mereka. "Penerbangan hari ini adalah jalan satu arah ke surga, daftar baru kehidupan abadi, tidak pernah dijadwal ulang lagi," kata seorang pelayat.

    Kemudian, reporter Sky News berbicara kepada Dr Tessema tentang putranya, yang digambarkan sebagai penerbang yang bersemangat dan berprestasi tinggi.

    "Dia maju lebih dulu daripada masanya, bahkan belum berusia 30 tahun dan mereka mempromosikannya menjadi kapten," kata Dr. Tessema.

    "Dia sangat bersemangat, menghormati pekerjaannya, dia suka dan pergi ke Amerika, dengan Boeing beberapa kali," ujarnya.

    "Dia melakukannya dengan sangat baik, sekarang dia meninggal, tak terduga. Yah, kadang-kadang kamu tidak dapat mengubah nasibmu," cetusnya, seperti dinukil dari laman Sky News, Kamis 14 Maret 2019.

    Baca juga: Trump Akhirnya Larang Operasional Boeing 737 MAX.

    Dr Tessema meminta Ethiopian Airlines membuat peringatan bagi semua orang yang meninggal di lokasi kecelakaan dan ia berbicara tentang kesulitan mengenali jenazah putranya.

    "Itu adalah kecelakaan yang mengerikan, semua yang ada semua hancur, tidak ada tulang, tidak ada tengkorak yang saya kenali, semua orang menjelma serbuk kayu, jadi saya tidak punya sisa apa-apa untuk dikirim ke ibunya," kata Dr Tessema.

    "Saya berharap mendapatkan sesuatu dan membawanya ke tempat asalnya tetapi tidak ada apa-apa. Dia sekarang berada dalam tanah di Ethiopia," gumamnya.

    Sebelum upacara dimulai, sejumlah pilot mengungkapkan kisah tentang seri Boeing 737 MAX dan jelas bahwa kru kokpit di Ethiopia sangat khawatir dengan pesawat itu.

    Lima bulan lalu, sebuah pesawat identik yang dioperasikan oleh Lion Air jatuh di lepas pantai Indonesia. Dua pilot berkata bahwa pesawat itu lebih sulit dikendalikan daripada versi 737 yang lebih lama dan mereka mengatakan ada ketidakpuasan yang meluas terhadap pelatihan dan informasi yang diberikan Boeing ketika pilot pindah ke seri MAX.

    "Boeing menjual pesawat ini ke perusahaan penerbangan dengan memberi tahu mereka bahwa mereka tidak perlu melatih ulang pilot untuk menggunakan MAX. Mereka mengatakan itu persis sama tetapi itu tidak benar," kata salah seorang.

    Seri 737 MAX dilengkapi sistem perangkat lunak baru yang disebut sistem augmentasi karakteristik manuver (MCAS). Secara otomatis menurunkan hidung pesawat jika komputer penerbangan menilai pesawat berada dalam bahaya macet.

    Baca juga: Administrasi Penerbangan Federal Larang Boeing 737 MAX Terbang.

    Tidak dapat mengesampingkan perangkat lunak secara manual, pilot Lion Air berjuang keras untuk menambah ketinggian sebelum 737 MAX 8 jatuh ke laut, menghilangkan nyawa 189 orang di dalamnya.

    Pilot-pilot Ethiopia mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui MCAS ketika pesawat baru dioperasikan, menambahkan bahwa Boeing "memberikan dua buletin dengan poin informasi (tentang perangkat lunak komputer) setelah kecelakaan Lion Air". Mereka berpendapat, itu tidak memadai.

    Dalam sebuah laporan di Wall Street Journal pada Selasa, seorang pejabat senior Boeing dikutip mengatakan perusahaan memutuskan untuk tidak memberikan rincian lebih lanjut kepada awak kokpit karena takut membanjiri mereka terlalu banyak informasi teknis.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id