Ramai Klaim Palsu Usai Serangan Rudal Iran ke AS

    Arpan Rahman - 09 Januari 2020 19:09 WIB
    Ramai Klaim Palsu Usai Serangan Rudal Iran ke AS
    Foto citra satelit pangkalan militer AS yang diserang Iran. Foto: NPR
    Teheran: Serangan rudal Iran terhadap dua pangkalan udara Irak diwarnai penyebaran informasi di dunia. Gambar palsu yang dilabeli dan klaim sumber berita diretas, yang telah menambah kegelisahan di kawasan mengenai serangan tersebut.

    Televisi pemerintah Iran mengatakan pada Rabu bahwa setidaknya 80 ‘teroris Amerika’ terbunuh. Meskipun AS menjelaskan bahwa mereka tidak menderita korban sebagai akibat dari serangan roket ke pangkalan militer Irak, yang menampung pasukan Amerika. Serangan itu terjadi sebagai balasan atas pembunuhan AS terhadap jenderal kuat Iran Qassem Suleimani.

    Iran memiliki sejarah panjang dalam menjalankan kampanye disinformasi yang didukung oleh negara. Mereka berupaya mempengaruhi opini di luar negeri, dengan Facebook secara teratur melarang laman-laman Iran yang diyakini menyebarkan materi yang salah dan memecah-belah yang ditujukan untuk publik di AS dan Inggris.

    Twitter menangguhkan akun samaran sebagai jurnalis Israel Jack Khoury, yang sudah digunakan untuk mempromosikan klaim palsu bahwa ratusan tentara AS terluka dalam serangan itu dan mengklaim bahwa mereka diam-diam dievakuasi ke rumah sakit di Tel Aviv dengan pesawat militer.

    "Akun palsu yang menyamar sebagai saya mendorong berita palsu dengan nama saya di atasnya. Itu telah ditangguhkan dari Twitter," kata Khoury yang asli, yang bekerja untuk surat kabar Haaretz, dirilis dari Guardian, Kamis 9 Januari 2020.

    Kantor berita negara Kuwait, Kuna, mengklaim akun Twitter-nya diretas setelah digunakan untuk mengklaim bahwa pasukan AS akan ditarik dari kerajaan Teluk, yang berbatasan dengan Irak.

    Laporan awal mengatakan Menteri Pertahanan Kuwait sudah menerima surat dari seorang komandan AS "menyatakan penarikan segera semua pasukan militer AS dalam tiga hari”.

    "Menerima sepucuk surat seperti itu dari Camp Arifjan tidak terduga dan kami sedang berkomunikasi dengan Kementerian Pertahanan AS untuk rincian dan informasi lebih lanjut," Kuna awalnya melaporkan menteri berkata, sebelum dengan cepat mencabut beritanya.

    Kuna sekarang mengklaim laporan itu tidak berasal dari agensi dan diposting di Twitter sebagai hasil peretasan, meskipun tidak menyimpulkan siapa yang harus disalahkan karena mengunggah informasi tertentu.

    Gambar dan video menunjukkan roket yang diluncurkan dari Iran tersebar di media sosial, banyak dari mereka malah menunjukkan rekaman dari latihan militer Iran sebelumnya atau peluncuran roket dari tempat lain di dunia. Dalam satu insiden, rekaman dari perang di Ukraina yang berasal dari 2015 diposting oleh orang-orang yang mengklaim menunjukkan rudal itu mengenai pangkalan Irak.

    Beberapa akun berbagi keterangan disinformasi untuk menjadi sumber berita otentik tetapi belum ada indikasi bahwa itu adalah bagian dari kampanye disinformasi yang disponsori negara yang terkoordinasi. Banyak yang tampaknya memposting materi dramatis demi mendapatkan pengikut dan lalu dibagikan oleh pengguna media sosial yang mencari informasi nyata, yang tidak sadar bahwa mereka membantu menyebarkan rekaman palsu.

    Ada juga spekulasi daring yang tidak berdasar tentang jatuhnya pesawat Boeing 737-800 yang dioperasikan oleh Ukraine International Airlines. Pesawat itu jatuh dini hari Rabu pagi tak lama setelah lepas landas dari Teheran, menewaskan semua 176 penumpang dan awak. Iran telah menolak untuk menyerahkan kotak hitam dari pesawat ke Boeing pabrikan AS, menambah spekulasi atas kecelakaan itu, yang terjadi hanya beberapa jam setelah serangan rudal terhadap Irak.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id