Warga Aljazair Gelar Protes Terbesar Menentang Bouteflika

    Willy Haryono - 09 Maret 2019 08:11 WIB
    Warga Aljazair Gelar Protes Terbesar Menentang Bouteflika
    Ribuan orang berunjuk rasa di kota Annaba, Aljazair, Maret 2019. (Foto: AFP/STR)
    Aljir: Warga Aljazair menggelar protes terbesar menentang Presiden Abdelaziz Bouteflika di ibu kota, Aljir, dan beberapa kota lainnya. Polisi menembakkan gas air mata untuk mencegah demonstran mencapai sebuah jalan menuju istana kepresidenan.

    Media lokal melaporkan hampir 200 orang ditangkap oleh pasukan keamanan, meski sebagian besar aksi berjalan damai.

    Gelombang protes menentang petahana dimulai bulan lalu, usai Bouteflika mencoba mencalonkan diri kembali untuk periode kelima dalam pemilihan umum April mendatang.

    Bouteflika, yang saat ini dirawat di sebuah rumah sakit di Swiss, sudah berkuasa di Aljazair selama 20 tahun. Namun dia sudah tidak pernah lagi muncul di publik sejak mengidap stroke pada 2013.

    Dia telah mengingatkan unjuk rasa ini dapat membuat Aljazair terjerumus dalam "kekacauan."

    Dalam sebuah surat yang dirilis kantor berita APS, seperti dilansir dari laman BBC, Sabtu 9 Maret 2019, Bouteflika menyerukan "kewaspadaan" terhadap kekuatan "domestik dan asing" yang mungkin menyup dalam aksi protes.

    Namun pria 82 tahun itu juga memuji para demonstran yang "mengungkapkan opini mereka secara damai."

    Media lokal melaporkan aksi protes pada Jumat 8 Maret merupakan yang terbesar dalam menentang Bouteflika sejauh ini. Polisi antihuru-hara dikerahkan di sepanjang rute protes, dan sejumlah helikopter juga terbang mengelilingi wilayah ibu kota.

    Semua jasa transportasi publik di Aljir sempat dihentikan sementara menjelang demonstrasi.

    Demonstrasi juga berlangsung di kota kedua terbesar di Aljazair, Oran dan Tizi Ouzou. Sejumlah koordinator aksi sempat menyerukan kepada lebih dari 20 juta orang untuk ikut serta dalam aksi protes, yang disebut di media sosial sebagai "Gerakan 8 Maret."

    Banyak pemuda dari kelompok pengunjuk rasa ini mengaku frustrasi terhadap perekonomian Aljazair. Mereka juga menganggap praktik korupsi marak terjadi di pemerintahan Aljazair sejak negara tersebut merdeka dari Prancis.

    Meski ditentang, Bouteflika telah mencalonkan diri kembali untuk pilpres mendatang. Namun, manajer kampanye Bouteflika, Abdelghani Zaalane, menegaskan bahwa petahana berjanji akan mundur dalam kurun waktu satu tahun jika terpilih kembali.

    Janji mundur dipandang sebagai upaya meredam kemarahan warga Aljazair, yang menilai Bouteflika sudah tidak layak lagi menjadi kepala negara.

    Baca: Presiden Aljazair Berjanji Segera Mundur Jika Terpilih Kembali


    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id