Kecam Penembakan di Selandia Baru, Kanada Perketat Keamanan

    Willy Haryono - 16 Maret 2019 07:35 WIB
    Kecam Penembakan di Selandia Baru, Kanada Perketat Keamanan
    Seorang polisi bersiaga di lokasi penembakan di Toronto, Kanada, 23 Juli 2018. (Foto: AFP/USMAN KHAN)
    Ottawa: Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mengutuk keras penembakan di Selandia Baru yang dinilainya sebagai perbuatan keji dan benar-benar mengerikan. Untuk mengantisipasi peristiwa serupa terulang di negaranya, PM Trudeau memerintahkan jajarannya untuk memperketat keamanan di seantero negeri.

    Serangan di dua masjid di Christchurch pada Jumat 15 Maret 2019 menewaskan sedikitnya 49 orang. Pelaku -- bernama Brenton Tarrant asal Australia -- menyiarkan aksi brutalnya itu secara langsung via media sosial.
    "Menyerang orang saat sedang salat adalah perbuatan yang sangat keji. Kanada mengecam keras penembakan di Selandia Baru," tulis Trudeau di akun Twitter, seperti dikutip dari laman AFP.

    "Belasungkawa kami sampaikan kepada keluarga dan kerabat korban. Kami juga turut berduka bersama warga Selandia baru dan seluruh komunitas Muslim di seluruh dunia," lanjut dia.

    Bendera Kanada di gedung parlemen di Otttawa dikibarkan setengah tiang untuk mengenang korban penembakan di Selandia Baru.

    Kepolisian di Toronto dan Montreal -- dua wilayah dengan jumlah Muslim terbesar di Kanada -- mengatakan kepada AFP keamanan ditingkatkan di lebih dari 100 masjid.

    "Merespons penembakan di Selandia Baru, kami telah menambah jumlah polisi, dengan fokus di tempat-tempat ibadah terutama masjid," ujar polisi Toronto Allyson Douglas-Cook.

    Langkah serupa dilakukan di Montreal, Quebec City dan kota-kota lainnya di Kanada. Namun Menteri Keamanan Publik Kanada Ralph Goodale berkukuh "ancaman di Kanada saat ini masih berada di level menengah."

    Brenton Tarrant menulis sebuah manifesto sebelum melakukan aksi teror. Manifesto ‘The Great Replacement’ ini berisi 73 halaman dan berisi keinginannya untuk menyerang Muslim. Judul dokumen tersebut memiliki nama yang sama dengan teori konspirasi yang berasal dari Prancis.

    Dokumen Prancis itu meyakini bahwa populasi Eropa dipindahkan di tanah air mereka oleh kelompok imigran dengan tingkat kelahiran yang lebih tinggi. Adapun manifesto itu menyebutkan Tarrant sebagai seorang lelaki kulit putih kelahiran Australia berusia 28 tahun dari keluarga berpenghasilan rendah.
     
    Dia mengatakan bahwa poin utama dalam radikalisasi adalah kekalahan pemimpin sayap kanan Prancis Marine Le Pen dalam pemilihan umum Prancis 2017, dan kematian Ebba Akerlund berusia 11 tahun dalam serangan truk Stockholm 2017.

    Baca: Suara Paus dan Imam Al Azhar untuk Korban Teror Selandia Baru



    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id