Pengungsi Kelaparan di Fasilitas PBB Libya

    Arpan Rahman - 29 November 2019 18:09 WIB
    Pengungsi Kelaparan di Fasilitas PBB Libya
    Imigran yang berada di tempat penampungan PBB di Libya. Foto: Guardian/BINET/MYOP/MSF
    Tripoli: Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dituduh berusaha membuat para pengungsi dan pencari suaka kelaparan. Mereka berlindung di dalam sebuah pusat yang dikelola oleh badan pengungsi PBB di Ibu Kota Libya, Tripoli.

    Satu kelompok yang beranggotakan sekitar 400 orang, yang datang ke fasilitas penampungan dan keberangkatan Tripoli pada Oktober dari pusat penahanan Abu Salim di selatan negara itu, tampaknya tidak memiliki makanan selama beberapa pekan.

    Di antara mereka, 100 anak di bawah umur, menurut penilaian terbaru oleh Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM). Mereka ‘saat ini kelaparan’ terpisah dari sejumlah makanan yang dikelola pengungsi lain untuk diselundupkan keluar dari bagian lain di pusat itu, kata penilaian IOM. Mereka terakhir menerima bantuan makanan ‘beberapa pekan yang lalu’.

    Dokumen-dokumen internal yang dilihat oleh Guardian menunjukkan bahwa UNHCR juga berencana menarik makanan dari 600 pengungsi dan migran lainnya di pusat tersebut -- yang termasuk orang-orang yang selamat dari pemboman, penyiksaan, kerja paksa, dan pelanggaran hak asasi manusia lainnya. Mayoritas telah mencoba mencapai Eropa dengan melintasi Mediterania, tetapi dikembalikan ke Libya oleh penjaga pantai Libya yang didukung Uni Eropa.

    Dalam sebuah dokumen yang beredar di antara staf PBB pada Selasa, dan dilihat oleh Guardian, badan tersebut mengatakan akan ‘menghapus’ katering makanan mulai 31 Desember. Dokumen itu mengatakan informasi itu tidak boleh dipublikasikan sebelum pertengahan Desember, ketika 230 lebih banyak pengungsi telah dievakuasi ke negara lain, demi mencegah gangguan. Setelah itu, fasilitas itu tidak akan lagi digunakan sebagai pusat transit, kata dokumen tersebut, sampai para pengungsi dan imigran yang tersisa ‘mengungsi secara sukarela’.

    Dalam dokumen itu, UNHCR mengatakan bahwa mereka akan terus membiayai pembersihan di pusat tersebut setelah penarikan makanan, sebagian untuk "mencegah risiko reputasi karena kekurangan toilet dan toilet yang rusak". Ia juga mengatakan klinik perawatan kesehatan di situs itu akan terus beroperasi.

    Seorang pekerja bantuan yang tahu dengan situasi itu, yang berbicara secara anonim. "Mereka membuat kelaparan penduduk di dalam fasilitas. Mereka hanya mencoba membuat mereka kelaparan untuk memotivasi mereka pergi. Itu sengaja menahan bantuan untuk membuat orang di bawah tekanan," katanya, dirilis dari Guardian, Jumat 29 November 2019.

    Kelompok yang akan terkena dampak penarikan makanan berikutnya termasuk 400 orang yang selamat dari pengeboman pusat penahanan Tajoura 3 Juli, di mana sedikitnya 53 pengungsi dan imigran terbunuh setelah serangan udara menghantam aula tempat mereka ditahan. Ratusan orang yang selamat masih berada di lokasi serangan selama sepekan setelahnya, melakukan mogok makan sebagai protes atas kurangnya bantuan.

    Mereka akhirnya berjalan puluhan kilometer ke fasilitas penampungan dan keberangkatan, di mana mereka diizinkan masuk tetapi diberitahu bahwa kasus-kasus evakuasi mereka tidak akan dievaluasi sampai mereka setuju meninggalkan pusat tersebut.

    Salah satu korban Tajoura berkata kepada Guardian pekan ini bahwa jika mereka dipaksa pergi dan berjuang sendiri di Tripoli "itu akan menjadi skenario yang sangat berbahaya". Pengungsi takut akan perekrutan paksa oleh milisi, terperangkap dalam perang saudara yang berkelanjutan, atau diculik lagi oleh para pedagang manusia. Korban lain yang telah menerima tawaran uang dari UNHCR, dengan imbalan tinggal sendirian di Tripoli, mengaku pembayarannya tidak cukup dan mereka tetap dalam bahaya. Seorang pria Eritrea baru-baru ini dibebaskan dari pusat penahanan Triq al Sikka ditembak pekan lalu oleh orang-orang berseragam polisi yang, katanya, berusaha merampoknya.

    "Sampai sekarang mereka tidak memberi makanan. Saya pikir itu (dengan sengaja)?" Seorang pengungsi Eritrea di fasilitas mengirim pesan kepada Guardian pekan ini melalui WhatsApp.

    "Semua orang menderita dan tertekan dan kita semua memutuskan untuk tinggal di sini sampai mereka menggunakan kekerasan, karena kembali ke pusat penahanan berarti sekali lagi menghadapi perdagangan orang, penyiksaan dan pelecehan," cetusnya.

    Pria itu mengatakan dia menghabiskan lebih dari setahun di pusat penahanan Abu Salim, yang berulang kali ditangkap di garis depan konflik Tripoli yang sedang berlangsung.

    "Kami tidak punya pilihan sampai UNHCR memberi kami respons positif. Bahkan jika mereka pergi kami akan tinggal di sini. Kami tidak memiliki pilihan, kami tidak akan pergi ke mana pun. Tidak ada tempat aman di Libya saat ini," sambungnya.

    Surat elektronik 11 November yang dikirim oleh Guardian kepada juru bicara UNHCR, yang menanyakan apakah menolak makanan untuk mantan tahanan Abu Salim di fasilitas itu adalah "kebijakan yang disengaja pada bagian UNHCR", tidak dijawab, seperti halnya permintaan lebih lanjut untuk komentar.

    Dokumen internal PBB menunjukkan bahwa, setelah agen berhenti menggunakan fasilitas sebagai pusat transit, properti dapat terus beroperasi sebagai "pusat terbuka" bagi para pengungsi dan imigran yang sebelumnya ditahan di pusat-pusat penahanan, meskipun ada "skenario yang mungkin" lainnya. Ini termasuk bahwa departemen Libya untuk memerangi migrasi ilegal (DCIM) "bergerak dan secara paksa menghapus semua migran / pencari suaka ke pusat penahanan", atau bahwa mengubah fasilitas menjadi pusat penahanan yang dijalankan oleh pengawalnya sendiri.

    DCIM, yang berada di bawah kementerian dalam negeri Pemerintah Tripoli yang didukung oleh PBB untuk Kesepakatan Nasional, seolah-olah menjalankan jaringan pusat-pusat penahanan migran di Libya, meskipun pada kenyataannya sebagian besar dijalankan oleh milisi. Sejumlah kasus pelanggaran HAM, termasuk pemerkosaan dan pelecehan seksual, eksploitasi tenaga kerja dan penolakan perawatan medis telah dilaporkan.

    Fasilitas yang dikelola PBB dibuka pada Desember tahun lalu. "Pembukaan pusat ini, dalam keadaan yang sangat sulit, memiliki potensi untuk menyelamatkan nyawa," kata komisaris tinggi PBB untuk pengungsi, Filippo Grandi. "Ini menawarkan perlindungan dan keamanan segera bagi pengungsi rentan yang membutuhkan evakuasi darurat, dan merupakan alternatif penahanan bagi ratusan pengungsi yang saat ini terjebak di Libya," pungkasnya.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id