Pasukan Prancis Bunuh 33 Militan di Mali

    Willy Haryono - 22 Desember 2019 07:23 WIB
    Pasukan Prancis Bunuh 33 Militan di Mali
    Presiden Emmanuel Macron (kanan) menemui pasukan Prancis di Pantai Gading, Jumat 20 Desember 2019. (Foto: AFP Photo/Ludovic MARIN)
    Yamoussoukro: Pasukan Prancis telah membunuh 33 militan dalam sebuah operasi di Mali. Pengumuman disampaikan Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam kunjungannya ke Pantai Gading, Sabtu 21 Desember 2019.

    Operasi terbaru Paris dilakukan usai 13 prajurit Prancis tewas dalam insiden tabrakan helikopter di Mali. Kematian tersebut merupakan yang terbesar dalam kurun waktu satu hari di jajaran militer Prancis sejak era 1980-an.

    Prancis mengerahkan pasukan ke Mali sejak 2013. Keterlibatan mereka berlangsung setelah sejumlah kelompok militan menguasai Mali utara.

    Dengan bantuan Prancis, militer Mali berhasil merebut kembali wilayah utara. Namun aksi kekerasan masih terus terjadi dari waktu ke waktu di Mali, dan bahkan menyebar hingga ke beberapa negara tetangga.

    Sekitar 4.500 tentara Prancis merupakan bagian dari Operasi Barkhane dalam mendukung pasukan Mali, Mauritania, Niger, Burkina Faso dan Chad. Macron mengatakan "teroris" telah berhasil dibunuh dalam sebuah operasi di kawasan Mopti pada Sabtu 21 Desember.

    "Pagi ini, berkat sepak terjang prajurit kami dan juga pasukan Barkhane, kami berhasil menumbangkan 33 teroris, mendapat satu tahanan dan membebaskan dua tentara Mali," kata Macron, dikutip dari BBC.

    Militer Prancis mengatakan operasi berlangsung sepanjang malam di dekat perbatasan Mauritania. Macron berada di Pantai Gading dalam rangka merayakan Hari Natal lebih awal bersama pasukan Prancis.

    Dalam pernyataannya pada Jumat lalu, ia bertekad memberikan "kekuatan baru" untuk memerangi kelompok militan di Sahel, sebuah wilayah kering di bawah Gurun Sahara.

    Tekad Macron disampaikan usai sejumlah petinggi Afrika bertemu di Nigeria. Mereka mendiskusikan usaha melawan kelompok ekstremis. Presiden Nigeria Muhammadu Buhari mengatakan aktivitas ekstremis merupakan ancaman terbesar bagi benua Afrika.

    Para pemimpin negara di area Sahel dijadwalkan menghadiri konferensi tingkat tinggi di Paris pada Januari tahun depan. Macron mengatakan mereka semua akan mengklarifikasi kerangka politis dan strategis dalam operasi melawan kelompok militan dan ekstremis di kawasan.



    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id